Thursday, 19 November 2015

Hal Apa yang Membuat Orang Tuamu Bahagia?

Beberapa bulan terakhir ini, diusia gue yang sebentar lagi bertambah – time flies too fast to growing older :( Ada satu hal yang benar-benar menjadi pertanyaan besar buat gue, yang bikin gue gelisah dan berhasil bikin gue ga bisa tidur selama berhari-hari.

Pertanyaan ini sederhana sebenarnya, pertanyaan yang selalu gue tanya ke Allah dalam do’a-do’a gue, sebuah pertanyaan yang gue ajukan dalam tangis selepas shalat, sebuah pertanyaan yang tetap gue lontarkan di setiap perjalanan gue sambil menatap awan-awan yang berubah-ubah bentuknya dari dalam mobil, “Ya Allah,usiaku sebentar lagi bertambah, tetapi aku merasa belum bisa membahagiakan orang tuaku. Jadi tolong Ya Allah tunjukkan kepadaku, hal apa yang bisa aku lakukan agar membuat orang tuaku bahagia?”

Thursday, 12 November 2015

Pahitnya Hidup di Luar Negeri #1

Kemarin ketika gue lagi suntuk-suntuknya, gue iseng buka path. Dari banyak status yang berseliweran di timeline path gue, mata gue yang lelah ini tiba-tiba tertuju sama postingan baru temen gue yang tumben-tumbenan ngasih link postingan tulisan terbarunya. Namanya Gilang, Mahasiswa Kedokteran di Kota Dresden, Jerman.

Serius gue penasaran, karena hobinya dia itu seringnya posting foto makhluk halus di path yang diposting di sesuain sama jam Indonesia. Jadi kalau di Indonesia udah malem, saatnya dia beraksi posting foto-foto ngajak ribut itu. Untung gue kebal, kadang gue kerjain balik dia :p Jadi, kan gue penasaran dengan hobi baru dia yang posting sesuatu selain gambar makhluk halus. Yaudah deh, gue pencet itu link tumblrnya dia. Eh, gue malah jadi dapet ide nulis baru. Danke, Lang!

Jadi ceritanya, Gilang ini sharing tentang pahitnya hidup di luar negeri alias menjelaskan sisi pahitnya anak rantau. Pas gue baca postingannya dia (bisa di baca di sini : http://gilangkazuyashimurajuliansyah.tumblr.com/ ) gue ketawa-ketawa sendiri karena emang benar adanya. Bedanya, dia anak kuliahan kan, kalau gue dulu tipe anak rantau kere yang kerja di Jerman dengan gaji seadanya hehe.

Sunday, 8 November 2015

Hari yang Tepat Untuk Mencintaimu

-FLASH FICTION-

Word Count : 338/500

7 November 2015,

hari di mana – hari-hari yang dingin sebelumnya berubah menjadi hangat di hari ini. Hari di mana, saat aku duduk di dalam kereta mengharapkan kehadiran sosokmu, ketika kereta yang aku naiki ini berhenti di stasiun tempat kau biasa menunggu kereta ini datang.

Ketika Pintu Hatiku Diketuk Kembali

Pintu hatiku diketuk lagi. Oleh seseorang yang sudah kuhapus pergi. Seseorang yang sudah dengan tega menyakitiku untuk kesekian kalinya. Aku akui dia berhasil. Berhasil menjatuhkanku ke dasar lubang paling dalam kehidupanku. Menyisakan bekas luka-luka menganga yang sulit sekali aku sembuhkan karena pengkhianatannya. Kau tahu, seandainya aku tidak punya satu orangpun yang berada di sisiku untuk membantuku berdiri tegap kembali, mungkin aku sudah jadi gila karenamu.

Thursday, 5 November 2015

Germany & Dhira : Ketika Gadis Desa Pindah Ke Kota…

Hari itu, gue hijrah. Dari Jerman Selatan ke bagian Jerman daerah atas. Dari desa kecil yang ga punya stasiun ke kota besar yang punya banyak stasiun. Pindah dari daerah yang tadinya orang-orang ga tau letaknya di mana ke daerah yang ketika gue nyebut namanya aja, orang langsung tau itu kota apa, letaknya di mana.