Wednesday, 26 October 2016

Cinta yang Tumbuh

“Ada yang berubah setelah menikah, 
ada dirimu di hatiku sekarang.”

Di awal pernikahan, aku bingung setengah mati, kenapa Allah menjadikan dirinya sebagai pasangan hidupku. Sering di awal pernikahan, pekerjaan yang aku lakukan hanya menatapnya dari jauh dengan pandangan penasaran dan memperhatikan hal-hal detail dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki sambil mengerutkan kening. Ia kadang balik menatapku dan ikut-ikutan mengerutkan kening juga. Bingung kenapa istrinya cuma menatapnya penasaran. Suamiku pikir ada yang salah di pakaiannya atau ada yang salah di rambutnya atau ada yang aneh disekitarnya?

Iya sih ada yang aneh, istrimu sendiri hehe. 
Tetapi Allah menjawab rasa penasaranku secepat mungkin dengan cara yang aneh. Dua minggu setelah menikah, aku sakit. Lumayan parah. Membuatku harus berjalan sedikit pincang karena kedua kaki kram secara tiba-tiba. Kramnya dari telapak kaki, menjalar sampai ke atas. Dari pinggang sampai bawah, semuanya kebas. Bahkan disentuhpun tidak terasa. Sudah berusaha diurut, tukang urutnya butuh waktu satu jam lebih untuk membuat kakiku yang sedang mati rasa, terasa sakit karena diurut. Terpaksa harus ke dokter dan bolak balik ke rumah sakit untuk tes diagnosis.

Awal aku sakit, aku tahan untuk tidak menangis. Butuh waktu untukku sebagai wanita yang mandiri untuk berbagi kesedihan kepada orang lain, termasuk suami sendiri. Lama kelamaan melihat rumah semakin berantakan karena tidak sanggup aku bereskan, hatiku mulai menjerit. Merasa gagal tidak dapat melakukan tugas rumah tangga dan suamikupun melarangku melakukan pekerjaan berat.

Lalu, apa yang dilakukan suamiku di kala itu?

Ia tidak pernah mengeluh sedikitpun rumah jadi terlihat berantakan dari biasanya. Ketika kedua tanganku bergerak mengambil piring untuk dicuci, ia menahan tanganku lembut, mengambil piring-piring kotor dari tempat kita berdua makan dan mencucinya sampai bersih.

Ketika tengah malam, sesak nafasku kambuh tiba-tiba, ia langsung bangun, berlari mencari alat bantu nafasku yang aku letakkan di ruangan lain. Memegang tanganku erat ketika aku mulai merintih kesakitan karena dada yang sesak. Air matanya turun, tidak sanggup melihatku dalam kondisi seperti itu.

Paginya, ketika aku bangun lebih telat dari biasanya karena malamnya sesak nafas tidak bisa tidur, aku terbangun karena mencium wangi masakan dari dapur. Suamiku bangun lebih dulu, membuatkan sarapan pagi.

Saat kedua kakiku berjalan tertatih-tatih membawa ember berat ke arah mesin cuci untuk mencuci, suamiku segera bangun dari tempat tidur, menarik ember berat yang aku bawa dan langsung mencucikan semua baju-baju kotor itu. Saat aku terbangun karena tertidur sebentar akibat lelah menahan sakit, semua pakaian yang tadi dicuci sudah menari-nari di jemuran tertiup angin sepoi-sepoi yang datang di luar rumah.

Aku menatap suamiku dengan tatapan rasa bersalah karena membuatnya melakukan pekerjaan rumah yang seharusnya tidak ia lakukan. Ia hanya tersenyum teduh dan berkata, “Gapapa, sayang. Istirahat lagi ya, sekarang? Mau mas buatkan susu cokelat panas?”

Ya Allah, mimpi apa aku semalem dapet suami sepengertian ini?

Beberapa hari kemudian, aku tinggal sementara di rumah orang tuaku karena suamiku banyak pekerjaan di luar yang harus dilakukan, lalu pergi beberapa hari ke luar kota untuk training. Ia tidak tega meninggalkanku sendirian di rumah dan khawatir aku diam-diam mengerjakan pekerjaan rumah jika aku mulai merasa risih karena rumah berantakan.

Di saat itulah ada yang semakin aneh terasa…

Tidur sendirian di kamar, ntah kenapa jadi terasa kosong. Baju-baju yang aku pakai, seperti ada wangi lain di sana. Ada jejak wangi suamiku di antara pakaianku. Senyuman teduhnya tidak terlihat selama berhari-hari di depan mata, sakit di kakiku semakin menjalar sampai ke punggung, saat itulah aku menangis. Baru menyadari kehadirannya sangat bermakna dan merasa kehilangan dirinya jika ia tidak ada selama berhari-hari lamanya. Memang benar apa kata orang, sesuatu akan terasa sangat berharga jika sudah tidak ada di depan mata. 

Oh, ini yang namanya kangen?
Seumur hidup tidak pernah melewati yang namanya pacaran sebelum menikah, baru kali ini merasakan ‘rasa’ kangen itu seperti apa hehe.

Dan beberapa hari setelahnya ketika suamiku pulang dari luar kota setelah sebelas jam lebih perjalanan di kereta, aku membuka pintu rumah sambil berjalan tertatih-tatih karena kedua kaki masih sakit. Di depan pintu, suamiku dengan senyuman lembutnya memberikan sesuatu yang membuatku terkejut;

“Ini bunga Lily putih kesukaan ade. Benerkan, suka bunga ini?” Wajahnya tiba-tiba terlihat mengerut karena khawatir salah beli.

Aku mengangguk cepat karena senang. Senyumannya mengembang lagi, “Tadi mas sama abang-abang grab carnya, nyari bunga ini sampai datengin setiap toko bunga di pinggir jalan. Terus masa, pada ga jual bunga Lily putihnya. Susah banget ya dicarinya bunganya? Tapi alhamdulillah akhirnya nemu juga.” Ujarnya sambil menatapku. Aku hanya menatapnya tanpa bisa berkata apa-apa. Speechless.

“Oh iya, ini ada pizza. Tadi mampir bentar beli. Makanan kesukaan ade, pizza kan? Cuma maaf, mas ga tahu ade suka rasa yang mana. Maaf ya? Ade suka rasa yang ini, ga?”

Lalu ketika suamiku bergerak ke dapur meletakkan pizzanya, mencari-cari vas untuk meletakkan buket bunga Lily hadiah untukku yang indah, aku mulai mengerti — caranya mencintaiku dengan sederhana dan usahanya membuatku bahagia, menjadikanku terpesona tak terkira.  

Teruntuk Suamiku tersayang,
Sang Pangeran, malaikat tanpa sayapku.
Terima kasih sudah sabar menghadapiku.
I Love You ;)

37 comments:

  1. Senengnyaaa :)
    Jadi inget sama suami juga, yg sabarnya ngadepin aku waktu sering loyo karna hamil juga kayak gitu :')

    ReplyDelete
  2. So sweet dhira, semoga sgra d pertemukn dg seseorang yg slg menyemangati menuju Allah

    ReplyDelete
  3. Terharu :") mbak dhira menemukan pangeran sepengertian itu karena mbak dhira orang baik :) Semoga keluarga mbak dhira selalu dilindungi Allah. Semoga saya bisa menjaga hati saya, sampai waktunya tiba :)

    ReplyDelete
  4. ini kisah cinta yang sungguh romantis dan buat orang bener bener iri

    ReplyDelete
  5. Wah... Mbak nulis di blogku pengalaman nikah lainnya dong. Biar yang masih pacaran tahu enaknya pacaran setelah menikah

    ReplyDelete
  6. Wah... Mbak nulis di blogku pengalaman nikah lainnya dong. Biar yang masih pacaran tahu enaknya pacaran setelah menikah

    ReplyDelete
  7. Romantiss banget siiii ... meleleh #eeeh

    ReplyDelete
  8. huwew, sampe berkaca-kaca aku bacanya mbak dhir :'D

    ReplyDelete
  9. Terharuuuu,, hiks hiks
    Salam kenal mb dhira :D

    ReplyDelete
  10. Waah, Mba Dhira barakallahu yah, insya Allah pernikahannya Sakinah Mawaddah Warahmah hingga kakek nenek nanti :D

    ReplyDelete
  11. so sweet mba dhiraaa :') masyaAllah..

    ReplyDelete
  12. semoga lekas sembuh ka dhiraaa ^^
    terharu muna bacanya ka

    semoga berkah sakinah waddah dan rahmah ka rumah tangganya :)

    ReplyDelete
  13. Semoga tetap terus romantis ya kaaaa, hihi semoga bisa kaya mba.
    #Jomblosampaihalal

    ReplyDelete
  14. Masha Allah kak dhira �� jadi pengen nangis bacanya �� alhamdulillah, semoga romantis terus kak �� semoga cepet dpt momongan �� aamiin ya Rabb

    ReplyDelete
  15. Kirim doa utk kesembuhan mbak Dhira..

    Salam buat sang Pangeran tampan nan penuh pengertian ��

    ReplyDelete
  16. Kak mau sih punya suami kaya gitu :( masih ada gak sih kak laki-laki yang kaya gitu :( hehehehe

    ReplyDelete
  17. Syafahallah dhira...keep semangat...
    Masya Allah di karuniakan suami yang amat sangat pengertian...

    ReplyDelete
  18. So sweet mbak Dhira.. Semoga keberkahan selalu melingkupi mbak & suami, semoga bahagia dunia-akhirat.. :)

    ReplyDelete
  19. Terharu mbak dira baca.y..semoga sy juga segera di pertemukan dengan pangeran hati sy Aamiin😇

    ReplyDelete