Sunday, 20 November 2016

Di dalam Pelukannya

“Tiba-tiba angin lembut datang mengusir mimpi buruk yang mulai berdatangan— 
mimpiku tenang kembali.”


Aku terbangun, sebuah tangan besar yang kuat mengelusku pelan dan sepasang mata yang menenangkan menatapku khawatir. Keningnya berkerut, “Tidurmu gelisah, ada apa?”

Aku mencoba menatapnya diantara ruangan kamar yang hampir gelap, “Daritadi meluknya?” Tanyaku serak.

Ia masih menatapku selama beberapa saat kemudian menggeleng, “Barusan.”
Aku tersenyum, “Ah, rupanya ia sang angin lembut itu.”

****
Mengarungi bahtera rumah tangga yang baru beberapa bulan, membuatku menyadari banyak hal. Menyadari bahwa kehadiran seorang pria muda beberapa bulan yang lalu ini, yang nekat mengajakku taaruf padahal baru pertama kali bertemu (bahkan serius, akupun lupa wajahnya seperti apa), yang tidak peduli siapa ayahku dan dengan keadaannya, persiapannya, datang menemui ayahku untuk diwawancara dipertemuan pertama. Semua orang disekitar kami tahu, sudah menjadi rahasia umum betapa ayahku itu tampak menyeramkan jika sedang menyeleksi pria yang datang untuk taaruf denganku dan selalu berhasil membuat yang ditanya mengucurkan keringat dingin. 

Tapi dengan kuasa Allah, ntah bagaimana—ia lolos dengan mudahnya. Aku bolak balik bertanya tidak percaya ketika ayahku bilang ia lolos seleksi tahap pertama. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup, ada yang lolos seleksi wawancara ayahku haha. Ditambah, aku tersedak beberapa kali, ketika mengetahui bahwa ia dua tahun lebih muda di bawahku. Seumuran adikku yang dibawahku persis, itu juga masih lebih tua adikku dua bulan. Ya ampun, brondong. Seumur hidup mana pernah kepikiran nikah sama brondong gini #ketawaguling2

Ntah bagaimana, ia terus lolos di seleksi selanjutnya. Pertanyaan sesulit apapun yang aku ajukan, ia jawab dengan bijaksana. Seleksi lainnya yang diajukan ayahku juga lolos tanpa halangan merintang. Tidak ada alasan syar’i bagiku untuk menolaknya. Aku menerimanya dan menikah dengan pria yang sangat asing. Bahkan hampir tidak mengenalinya sama sekali.

Di minggu-minggu pertama, dilalui dengan tanda tanya besar, “Hal apa yang membuat Allah memilihkannya untuk menjadikannya pangeranku?”

Allah tidak memberikan kepadaku jawabannya, Allah memintaku untuk mencarinya—seorang diri. Memaksaku untuk berhenti bertanya dan seakan-akan memintaku mendalami karakter uniknya yang luar biasa asing.

Sekarang, dua setengah bulan setelah aku menikah dengannya, banyak kepingan puzzle yang aku temukan. Betapa, begitu luar biasanya Allah memilihkan jodoh. Bahkan doa yang tidak pernah serius aku ucapkan dikalah sedih, dikabulkan hanya dengan kehadiran seorang pangeran. Seorang suami, sang pendamping hidup.

Aku, jarang sekali tidur nyenyak. Mudah terbangun, bahkan dalam tidurpun kadang-kadang menyadari kejadian sekitar. Mimpi seringnya bersambung dan tidak tentu arahnya. Sering dalam mimpi tiba-tiba jatuh, masuk jurang, dan lain-lain. Padahal sudah berdoa, bahkan ada doa yang diberikan Rasulullah kepada puterinya Fathimah Az Zahra ketika ia tidak bisa tidur. Aku juga membacanya. Jujur, selama ini aku tidak terlalu menyadari kalau tidurku itu terlihat gelisah di mata orang lain. Karena biasanya tidur sendiri. Baru setelah menikah, suamiku bolak balik bertanya dan bolak balik membangunkan ketika tidurku terlihat resah.

Awalnya, aku agak risih ketika tidur dipeluk olehnya. Maklum, biasa tidur sendiri. Tapi suamiku ngambek kalau aku tidak memeluknya dan terus menarikku disampingnya. Akhirnya aku memeluknya dan sepertinya pelukannya lepas sendiri ketika tidurku resah lagi.

Lalu, ada sesuatu yang berubah. Ketika mimpi buruk itu mengejar-ngejar, ketika aku tiba-tiba seperti akan ditabrak sesuatu—ada sesuatu yang menarik tubuhku ntah siapa. Ada tangan yang menahanku untuk jatuh ke jurang, ada tangan yang menutup wajahku ketika di mimpi aku melihat kecelakaan, ada angin lembut yang menyapu bersih mereka semua dan keadaan tiba-tiba menjadi tenang. Lalu aku terbangun, selalu terbangun dan aku selalu terbangun dalam pelukannya. Bukan aku yang memeluknya, ia yang memelukku erat dengan mata terpejam.

Pernah juga terbangun dalam kondisi jari-jari lembutnya mengelus keningku pelan, kedua matanya kali ini terbuka, menatapku penuh sayang lalu berujar ringan, “Kalau mimpi buruk atau tidurnya resah, tadi sebelum tidur sudah baca doa, sekarang dengarnya Al-Qur’an ya, sayang. Nanti tidurnya tenang.” Lalu ia membacakan ayat Al-Quran dari bibir indahnya, lembut terdengar, menenangkan aku yang mendengar. Bukan nyanyian sebelum tidur sebagai pengantarku terlelap, tapi suara lembutnya membacakan ayat-ayat Qur’an yang ia hafal. Lalu aku tertidur lagi. Pulas sampai pagi.

Dan setiap paginya, setiap ia bangun untuk shalat tahajjud, pertanyaan pertama yang keluar dari bibir manisnya adalah, “Tidurnya nyenyak, sayang?”

Aku tersenyum, langsung bangun dari tempat tidur dan memeluknya. 
Tidurku nyenyak, jika aku ada dalam pelukannya.


Bekasi, 20 November 2016
Terima kasih Ya Allah, 
sudah memberikanku pangeran sang penenang mimpi :)

16 comments:

  1. Uluhh.. Suka banget sama ceritanya mbak Dhira ��
    Semoga langgeng sma mas Farid nya ya mbak. Aamiin

    ReplyDelete
  2. Ka Dhira.... Pengen yg kayak begini juga. Hehehe.
    Selamat ya Ka Dhira udah ketemu pangerannyaaaa. Alhamdulillah.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah. MasyaAllah.
    Semoga selalu sakinah mawaddah dan rahmah ya, Dhir.

    ReplyDelete
  4. Masya Allah, indah ceritanya mbak Dhira,,semoga selalu sakinah , mawaddah, warrahmah..bahagia dunia akhirat .. aamiin ...

    ReplyDelete
  5. Mbaa update keseharian mba dengan suami mba di ig.semoga makin menginspirasi mba

    ReplyDelete
  6. Masyaallah.... indah... barokallah dhiraa....

    ReplyDelete
  7. Masyallah mbak dhira indah bgt ceritanya, sakinah mawadah warahmah selalu bersama sang pangeran ya

    ReplyDelete
  8. Hebat mbak Dhira.. Samawa dengan mas Farid ya Mbak aamiin :)

    ReplyDelete
  9. Mbak dhira semoga langgeng ya sama suami, dan cepet dikasih momongan aamiin

    ReplyDelete
  10. Mbak dhira semoga langgeng ya sama suami, dan cepet dikasih momongan aamiin

    ReplyDelete
  11. MashaAllah sungguh cinta yg dijemput dgn jalan yg baik, benar-benar manis ya Mba Dhira :)


    Semoga segera diberi amanah :)

    ReplyDelete
  12. Masya allah ,beruntung sekali kamu mendapatkan pangeran yang super pokoknya dhir,

    ReplyDelete
  13. Uh.. teh dhira buat baper pisan tulisannya

    ReplyDelete