Mimpi yang Mengalir Mencari Jalan

February 22, 2018


Namanya Air Terjun Triberg. Air terjun tertinggi di Jerman yang terletak di tengah Hutan Hitam. Black forest biasanya hutan itu dikenal. Air terjun ini mempesona. Terlindung di antara pohon-pohon tinggi Hutan Hitam. Seolah sang hutan bertindak protektif, tidak ingin keindahan sungainya terusik pihak-pihak tidak bertanggung jawab.

Air terjun ini tinggi sekali tapi tidak terkesan angkuh. Ia mengalirkan air-airnya secara perlahan, tidak kasar, tidak menyakiti makhluk hidup yang mencoba berdiri di bawahnya. Airnya di alirkan secara anggun melewati tujuh tingkat jeram yang bergerak mengikuti alur sungai ke arah bawah meliuk membentuk sungai kecil yang memukau siapa saja yang melihatnya.

Aku, termasuk yang terpukau. Pandanganku tidak berhenti melihat bagaimana gesitnya sang air mencoba mencari jalan menuju sungai kecil indah yang terletak di bawah. Air-air itu menabrak dinding batu besar. Tidak menemukan jalan turun, lalu berbelok ke arah lain. Perjuangannya belum selesai. Tidak jauh di depan, sebatang kayu besar yang tumbang akibat badai kemarin, menghalangi jalan mereka. Para air itu mencari akal. Mereka bergerak pelan melewati jalan sempit yang berada di samping kayu mengganggu itu. Berhasil, jalan mereka mulus sekarang. 

Tapi ternyata dugaan mereka belum sepenuhnya benar. Sayang beribu sayang, di hadapan mereka menancap batu runcing panjang berlumut hijau mengerikan. Pilihan mereka hanya dua. Memaksa tetap menghantam sang batu runcing lalu terhempas ke luar alur sungai atau berpisah dulu sementara waktu melalui dua jalur yang berbeda.  Mereka memilih berpisah. Mencari jalan yang terbaik, lalu bertemu kembali dengan teman-temannya di sungai kecil indah yang terletak di bawah.

“Itulah mimpimu, sayang. Perumpamaanya seperti air yang mencari jalan…” Suara mama, terngiang-ngiang di telingaku bagaikan melodi musik klasik yang di stel berulang-ulang, lembut tetapi menancap di dasar hatiku yang paling dalam. 

“Air itu seperti mimpi-mimpimu, sayang. Mereka mencari jalan. Tujuannya satu : ‘Kamu ingin supaya mimpi-mimpimu itu terwujud.’ Sama seperti air yang mencari jalan menuju pemberhentian terakhirnya. Ada saatnya, mimpimu tidak tercapai seolah menabrak batu besar yang tidak bisa di tembus. Ada juga masanya, di mana mimpimu seperti tersandung kayu yang menghalangi jalan. Ada saja cobaan yang muncul. Ada juga di mana, kamu terjatuh tertusuk batu runcing yang membuat mimpimu seolah-olah menyakitkan, susah sekali dicapainya. Kalau sudah begitu, ingat sayang, jangan di paksa.”

Ketika mendengar itu, aku hanya mengerutkan kening, “Apa maksud mama jangan di paksa? Itu mimpi Mbak Dhira. Bukankah harus diperjuangkan sampai akhir?”

Mama tersenyum lembut, “Jika mimpimu terasa sulit sekali tercapai, merasa sudah mati-matian berusaha tetapi terasa tidak ada hasilnya, mungkin itu tanda-tanda kasih sayang dari Allah bahwa itu bukan mimpi yang terbaik untukmu, sayang. Kuncinya, jangan ngotot memaksa. Air tidak bisa menembus halangan besar di depannya. Mereka mencari jalan lain. Cari mimpi baru yang sesuai keinginan di lubuk hatimu yang paling dalam, sesuai passion-mu, sesuai harapanmu. Hingga di ujung perjalananmu, Allah bersedia memberikan Surga-Nya untukmu.”

Maka aku tumbuh menjadi pribadi yang selalu mencari jalan. Jika aku sudah memiliki suatu keinginan, pasti selalu berusaha aku kejar. Seandainya restu orang tuaku belum aku pegang, aku akan mencari banyak cara yang santun sehingga pada akhirnya izin aku dapat. Cara A tidak berhasil, ganti cara B. Tidak berhasil juga, cara C, pindah ke cara D, sembari meminta izin terus menerus kepada Allah. Hingga pada akhirnya Allah mungkin melihat kesungguhanku mengetuk pintu langit dengan doa yang sama selama bertahun-tahun. Ntah bagaimana cara Allah meluluhkan hati orang tuaku sampai pada akhirnya aku mendapatkan izin. Intinya, aku rela menunggu bertahun-tahun sampai doaku dikabulkan. Dalam kepalaku, jika sekarang doaku belum dikabulkan, berarti doaku masih ditunda oleh-Nya. Ya, aku adalah hamba-Nya yang paling keras kepala dalam berdoa. Seperti anak kecil yang setiap hari mengetuk pintu langit-Nya, aku membayangkan ada cahaya teduh yang membuka pintu itu setiap aku berdoa, kemudian aku nyengir lebar dengan kedua mata berbinar ketika pintu itu di buka, tangan mengadah ke atas sambil berdoa di depan pintu-Nya. Begitu terus setiap hari.

Dari sejak aku sekolah dasar, aku ingin sekali kuliah di Jepang. Impian itu tidak pernah pudar, lulus SMA berusaha apply beasiswa ke Jepang, orang tuaku sepertinya memberi izin, tetapi dalam setiap obrolan sesekali terlihat secara sekilas bahwa mereka masih keberatan puteri pertamanya ini kuliah jauh ke negeri orang. Misalnya, ketika orang tuaku bilang, “Mbak Dhira yakin kalau mau kuliah di sana? Tapi kan di sana…” Ini adalah contoh kalimat penolakan orang tuaku katakan secara halus hehe

Dan terbukti, dengan berbagai cara Allah juga tidak mengizinkan, sehingga aku terpaksa kuliah di Indonesia dulu mengambil jurusan Psikologi. Ketika kuliah juga, tidak pernah terbesit dalam kepalaku bahwa aku akan lulus empat tahun. Karena di kepalaku, aku harus ke luar negeri bagaimapun caranya. Kalau tidak bisa kuliah, exchange student. Sampai dosen waliku hapal bahwa aku adalah mahasiswinya yang tidak pernah peduli untuk lulus empat tahun. Karena kerjaanku adalah meminta surat rekomendasi beliau agar aku bisa melengkapi syarat-syarat exchange student (yg artinya aku harus cuti satu semester). Dua tahun, aku berusaha membujuk orang tuaku untuk memberi izin. Dua tahun pula, aku berdoa. Sampai akhirnya, adikku mendapat peluang kuliah di Jerman. Maka aku berusaha mencari kesempatan untuku kuliah di sana juga karena ada adik laki-lakiku yang bisa melindungiku. 

Sayangnya, kondisi keuangan ayahku pada saat itu hanya mampu membiayai satu orang anaknya saja. Maka lagi-lagi aku mencari akal agar bisa ikut adikku ke luar negeri. Pikirku, jika Jepang memang bukan yang terbaik untukku, mungkin Jerman tempatnya karena sebagian besar teorikus psikologi banyak berasal dari Jerman atau Austria dan buku manual psikotesku juga ada beberapa yang tetap menggunakan Bahasa Jerman. Doaku tidak pernah berhenti, kawan. Mungkin Allah geleng-geleng kepala karena setiap hari aku menunggu sambil mengetuk di depan pintu langit-Nya, dengan cengiran yg sama, dengan doa yg sama. Maka kali ini doaku Allah kabulkan, Allah turunkan bala bantuan-Nya agar membantuku untuk pergi ke sana. Ntah bagaimana, di tembok kampus aku melihat iklan dalam kertas kecil yg memberikan info mengenai tempat les yang bisa memberikan peluang untuk Homestay di Jerman. Kehidupanku di sana akan ditanggung oleh keluarga asuhku selama setahun. Okay, Dhir. Kalau bukan kuliah, homestay dulu gapapa. Yg jelas liat medan dulu selama setahun homestay di Jerman.” Ujarku pada waktu itu, Dan kali ini, izin orang tuaku aku pegang. Alhamdulillah.

Setelah satu tahun di sana, aku ingin kuliah di Jerman. Tetapi persyaratanku belum memenuhi, maka aku mencari cara lain agar tidak pulang dulu ke Indonesia. Kerja sosial, volunteer kalau dalam Bahasa Inggrisnya atau Freiwilliges Soziales Jahr kalau dalam Bahasa Jermannya adalah kesempatan yg amat sangat menarik. Banyak hambatan yang aku lalui untuk bisa diterima menjadi salah satu pekerja sosial di sana. Setelah melalui banyak tantangan, cobaan, bahkan nyaris terpaksa pulang karena visa sebentar lagi habis sementara belum fix diterima oleh lembaga sosial ini, doaku terakhirku adalah, “Ya Allah, hanya Engkau yang tahu di seluruh Jerman ini, tempat kerja sosial mana yang bisa menerimaku apa adanya. Yang memperbolehkanku sholat, mengizinkanku menutup aurat, memperbolehkanku puasa dan segala perintahMu yang harus aku lakukan. Engkau tahu persis betapa saat ini aku lebih memilih tinggal di sini. Tetapi jika memang Engkau melihat bahwa tidak ada satupun tempat kerja sosial di Jerman yang bisa menerimaku apa adanya, maka aku rela pulang ke Indonesia.” Selesai berdoa, telepon berdering dan doaku dikabulkan setelah aku selesai Sholat Dhuha.

Setahun kontrak kerjaku di sana. Menjadi volunteer menangani anak-anak berkebutuhan khusus yg memakai kursi roda. Dengan atasan yg luar biasa baik, mengizinkanku beribadah, mengizinkanku menutup aurat dengan lingkungan yg sangat nyaman. Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di sini dengan jurusan yg berbeda. Bukan psikologi tetapi di ranah pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. Semua syarat sudah berusaha aku penuhi, aku sudah mendaftar ke beberapa universitas. Dua tahun, aku mencari jalan agar bisa kuliah di sini. Dua tahun. Sayangnya, kali ini Allah merasa bahwa kehidupanku di Jerman sudah cukup. Karena suatu alasan penting, adik laki-lakiku harus kembali ke Indonesia, adik perempuanku yg pada saat itu masih SMP juga membutuhkan kehadiranku di rumah, maka orang tuaku memintaku kembali ke Indonesia. Ternyata bukan kuliah di Jerman yg ada dalam rencana Allah. Saat itu aku pulang dengan tingkat kepahitan yg cukup tinggi, tetapi pada waktu itu keyakinanku tetap sama. Doaku sedang ditunda oleh-Nya. 

Ternyata di Indonesia, Allah menyiapkan rencana lain untukku. Aku mendapatkan kesempatan untuk menulis buku, menceritakan sedikit pengalamanku ketika tinggal di Jerman selama dua setengah tahun. Menerbitkan buku perdanaku dengan penerbit ternama. Kalian tahu, lauching buku pertamaku itu seperti wisuda. Novel perdanaku seperti skripsinya hehe. Alhamdulillah aku mendapatkan kesempatan sharing di berbagai tempat di Indonesia, pengalamanku bertambah, tiga tahun aku tidak kemana-mana. Tetap stay di Indonesia. Impianku berkembang dan sedikit mengalami pergeseran. Akhirnya aku mengetahui bahwa kuliah it’s not my thing. Aku lebih suka volunteer ke luar negeri. Mengamati banyak hal sembari melihat perkembangan muslim dari seluruh dunia. Berpikir bagaimana caraku berjuang agar dapat berkontribusi dalam bersatunya umat Islam. Doaku masih tetap sama, ingin ke luar negeri. Kali ini tujuannya bukan kuliah tapi volunteer semudah membuka pintu. Saking keras kepalanya aku meminta, mungkin Allah juga mencari cara agar doaku dikabulkan. Sayangnya, konsekuensinya tidak mudah. Ada doa lain yang saling bertabrakan, sehingga jalan satu-satunya yang Allah lakukan untuk mengabulkan kedua doaku yang saling bertabrakan adalah dengan memberikan ujian yg luar biasa berat kepadaku, paket komplit plus trauma yang sangat banyak.

Seandainya pada waktu itu aku memutuskan untuk tidak mempercayai keputusan-Nya, maka aku tidak akan pernah melihat bahwa doaku sedang dalam proses dikabulkan oleh Allah. Setelah proses panjang menguras hati dan tenaga melewati ujian berat itu, tetap sabar akan cobaan yang Allah berikan kepadaku, tidak peduli akan fitnah yg menyebar kemana-mana, pola pikirku untuk menghadapi fitnah itu cuma satu, “Aku punya Allah yg lebih besar. Orang yg memfitnahku tidak ada apa-apanya dengan Tuhanku yg Maha Besar. Biarlah ia dengan fitnahnya. Allah akan menunjukkan dengan cara-Nya kebenaran yg sesungguhnya. No matter what happens to me, I will stay elegant until the end." Berdiri tegak dengan doa yg sama tanpa henti. Allah is always with me. Always. Semua itu terjadi karena konsekuensi dua doaku yg saling bertabrakan dan memiliki kadar sama beratnya. 

Memang benar apa yang aku duga, ujian ini adalah proses pengabulan doaku yg tidak pernah berhenti. Jawaban doa itu datang di waktu yang tepat. Setelah ujian kesabaran yg sangat panjang, tawaran itu datang. Tawaran ke Palestina. Semuanya dibiayai oleh sponsor, alhamdulillah lagi-lagi aku tidak mengeluarkan biaya sepeserpun. Bahkan orang tuaku mengizinkanku pergi hanya satu hari setelah kabar itu diterima. Ke negara lain, aku membutuhkan waktu dua tahun lebih membujuk. Ke Palestina, negara yg sedang penuh konflik, izin orang tua turun hanya dalam waktu sehari. Maha Besar Allah atas segala kuasa-Nya. Dan Maha Pengasih Allah dalam mengabulkan doa hamba-Nya yang amat sangat keras kepala ini.

Aku memang anak dari orang tuaku yang paling susah disuruh diam. Tidak bisa diam di suatu tempat, tidak bisa bekerja di tempat yg monoton. Semakin ekstrim tempatnya, semakin berbinar mata ini. Semakin unik masalahnya, semakin semangat mencari solusinya. Semakin doa ditolak oleh-Nya, semakin gencar mengetuk pintu langit agar doaku dikabulkan oleh-Nya. Bahkan aku bisa dengan antusias mewawancarai para Guard of Masjidil Aqsa yg berjaga langsung di depan tentara Israel. Putus asa, tidak ada dalam kamusku. Do’a itu dapat mengubah takdir, maka doa adalah senjataku yang tidak pernah padam. Sampai suatu hari aku pernah bertanya kepada mamaku, “Mam, anak mama yg paling susah di stop kalau udah punya mau, yg paling ga bisa diem, susah diatur untuk melakukan sesuatu itu siapa, yg kerjaannya nanya mulu sampai rasa penasarannya terjawab itu siapa, mam?” Mamaku langsung menjawab otomatis tanpa berpikir, “Kamu.” 

“Eehh, tapi..tapi.” Aku berusaha bantah. “Ya emang kamu, kook!” Jawab mama cepat. “Emang mama ga khawatir apa, Mb Dhira jadi volunteer jauh banget gitu ke negara orang?” Tanyaku lagi. Mama menatapku dengan tatapannya yang teduh, “Udah mama titipin ke Allah. Minta Allah untuk menjaga anak mama.”

Begitulah, aku. Seorang wanita yang tumbuh dengan kepercayaan penuh bahwa doa adalah senjata terkuat umat Islam. Mimpi itu mencari jalan dan hanya Allahlah yang dapat membuka jalan itu. Bagaimana caranya agar jalan itu terbuka? Berdoa, ketuk pintu langit sesering mungkin. Tapi ingat ya, doa yang berat, konsekuensinya juga berat. Bisa jadi cara Allah mengabulkan doa kita yang berat itu, dengan memberikan ujian yang besar agar doa kita terkabul. Aku pernah merasakannya, jadi aku tahu rasanya. Kapok? Tidak. Dari ujian yang berat itu aku semakin yakin, bahwa Allah selalu mengabulkan doa kita dengan cara-Nya bukan dengan cara kita.

Jika cara Allah mengabulkan doaku tampak berat dari sudut pandang manusia, aku selalu ingat nasihat ayahku, “Sabar nak, pelaut yang ulung tidak akan pernah lahir di laut yang tenang. Orang-orang hebat tidak akan pernah lahir tanpa cobaan dan ujian.”

Dan pastinya rencana Allah, selalu indah dari rencanaku yang terindah.

You Might Also Like

23 comments

  1. Sukaaaak banget sama tulisan-tulisan kak Dhira. Aku selalu sepemahaman sama pemikiran kak Dhira. Salam kenal yaa kak dari Mardhiyah :)

    ReplyDelete
  2. maaf ka dhira aku nanya kaya gini, aku penasaran banget ujian besar seperti apa yang Allah udah beri ke ka dhira?

    ReplyDelete
  3. Subhanalloh sungguh mengispirasi sekali mbak nadhira... Aku juga punya impian keluar negeri rencana awal sih kuliah tapi ntah nanti allah yg mengatur.. Sya ingin terus berusaha .. Terima kasih untuk tulisan yg sangat inspiratif.... Salam

    ReplyDelete
  4. MasyaAllah kak dhira.. Menginspirasi sekali

    ReplyDelete
  5. Selalu suka pake banget tulisannya kak dhira. Always inspiring yaaa kak;)

    ReplyDelete
  6. Dhirrr sukses bikin usap mata...perjuangan muuuu 👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻

    ReplyDelete
  7. Kak dhira tulisannya sangat menginsporasi....

    ReplyDelete
  8. Sudah jarang orang Kudus pakai Blogger. Boleh kunjungi blog aku juga di Ankajournal.blogspot.co.id. By, Anka, Blogger asal Kudus pula. Thanks sudah mengunjungi balik, dan salam kenal, salam menulis dan semoga selalu betah ngeblog dengan konten-konten yang original.

    ReplyDelete
  9. terimakasih atas tulisannya mba dhira:)

    ReplyDelete
  10. Mbak Dhiraa berhasil buat aku rembes mili :'

    ReplyDelete
  11. Kak dhiraa bikin lagi dongg:) sangat memotivasi kak :'))

    ReplyDelete
  12. Ya Allahh aku terharuuuu bacanyaaa 😭😭😭

    ReplyDelete
  13. semoga selalu bisa untuk terus menginspirasi ya kak Dhir.

    ReplyDelete

Like us on Facebook

Follow me on IG : @nadhiraarini