Saturday, 18 August 2018

Mencari Kebahagiaan


Instastories hari ini di Instagram, sesungguhnya cerita dari pengalamanku sendiri yg kemarin habis menangis di pangkuan mama karena bingung akan emosi-emosi negatif yg tiba-tiba datang bertubi-tubi. Ntah ini jenis emosi negatif apa, aku juga bingung sendiri. Saking bingungnya sampai nangis karena tidak paham kenapa. Mamaku sesungguhnya tahu bahwa puteri pertamanya ini sudah tahu atas jawaban kegundahannya. Hanya butuh dikuatkan saja.

Aku-bukan-malaikat. Aku manusia biasa yg pasti merasakan rasa frustasi, sedih, cemas dan emosi negatif lainnya. Terkadang, jika emosi negatif itu datang bertubi-tubi sampai berhasil membuatku bingung harus berbuat apa lagi sampai kondisiku lebih baik. Sudah tidak terhitung banyaknya tulisan yang aku buat untuk melatih diri percaya kepada Allah itu, maka Allah memang selalu mengujiku dengan tema yang sama : Bagaimana caranya mempertahankan keyakinan untuk selalu percaya dengan Allah?

Sama sepertimu, aku juga butuh proses untuk terus percaya kepadaNya di posisi-posisi tersulit dalam kehidupanku. Aku manusia, yang juga pasti Allah berikan ujian. I have my own problems too dan selalu berusaha dengan amat sangat keras untuk tetap percaya kepadaNya. Sering sekali, aku menangis sambil menatap langit jika dalam perjalanan panjang. Terkadang tidak sanggup berdoa apa-apa, hanya sanggup berkata, “Allah…Alllah…Ya Wadūd…Ya Wadūd…” Dan ntah bagaimana aku selalu yakin Allah menjawab panggilanku dengan berkata, “Aku di sini hambaKu…Aku di sini…” Lalu aku menangis, karena merasa bahwa Allah sangat dekat.

Kemarin, karena aku tidak sanggup melakukan apapun, pada akhirnya kemarin malam aku tidur berjam-jam lebih cepat dari biasanya dengan harapan hari ini bisa bangun dengan kondisi lebih ceria.

Ternyata, pertanda bahwa Allah sayang, datang di pagi hari. Allah membangunkanku di jam yg seharusnya aku bangun tanpa alarm, tanpa bunyi apapun, tiba-tiba ntah bagaimana ada dorongan untuk membuka mata. Dua jam kemudian, segera bergerak juga untuk siap-siap pergi pagi-pagi. Ternyata di rumah masih tersedia jeruk kesukaanku yang rasa manisnya sungguh berhasil membuatku senang. Sembari bersiap-siap datang ke pengajian rutin dan ntah kenapa Allah mengetuk hatiku untuk mengambil novel di rak buku dengan judul Colorless Tsukuru Tazaki karya Murakami yang seharusnya belum saatnya aku baca (karena aku sebenarnya lagi baca novel The Alchemist karya Paulo Coelho dan belum selesai). Pada akhirnya percaya akan dorongan hati, novel itu aku ambil dan aku masukkan ke dalam tas Quilting yang dijahit dengan sangat manis oleh budeku, hadiah untukku beberapa tahun yang lalu. 

Aku pergi naik commuter line. Kereta adalah transportasi umum yang paling aku suka. Menikmati setiap detik di dalam kereta sembari berdiri di ujung pintu membaca novel yg tadi aku ambil. And well, ternyata Tsukuru (tokoh utama dalam novel itu) juga senang segala hal mengenai kereta dan di awal cerita, Tsukuru ini benar-benar seorang manusia yg memiliki karakter super duper negative thinking, seperti satu pemikiran dengan aku kemarin ya hehe. Kadang, merinding juga. Sampai buku yang dibacapun, Allah yang pilihkan. Dan beneran jadi hiburan karena membaca karakter Tsukuru yang penuh prasangka negatif itu seperti Allah mengajarkan secara lembut bahayanya terlalu terlena dengan pemikiran negatif yang tidak berkesudahan. Menghancurkan banyak hal. Again, Allah menghiburku melalui cara yang unik. Kali ini dengan novel. Keren, kan?

Di pengajian rutin, dihadiri tiga temanku plus seorang ustadzah yang membimbing kita semua, sembari menikmati teduhnya selasar masjid di Universitas Indonesia, ntah bagaimana Allah mengarahkan (padahal aku ga cerita apa-apa juga), temanya berputar seputar mencintai Allah. Sehingga ketika kita sudah cinta, kita menjadi ridha (rela) terhadap apa saja yang Allah berikan dalam hidup kita. Lalu guru kami memberikan beberapa ayat referensi salah satunya adalah Surat Al-Anfal ayat 2 :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”

Sesungguhnya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
Well, tepat sasaran sekali Allah memberi jawaban atas kegundahan hati ini.

Pengajian hari ini menarik, karena memang ketiga temanku sama-sama kritis dan senang diskusi hal-hal berat. Dari mulai politik, bagaimana sikap santun menegur orang lain, kehidupan, isu-isu terbaru saat ini dan lain sebagainya. Aku tertawa, kami semua tertawa karena sibuk menertawai kondisi kehidupan kita saat ini. Pada akhirnya kegundahanku, beban hidupku berkurang 50%. 

“Sedikit lagi, Dhir. Usahamu untuk mencari kebahagiaan di tengah ujian hidupmu.” Ujar hati kecilku menyemangatiku. I love myself. Karena jiwaku ini selalu tahu bagaimana tetap bersamaku di kondisi tergenting sekalipun.

Hariku berlanjut, karena masih jam setengah sebelas siang, aku masih belum mau pulang ke rumah. Pada akhirnya, aku mencari cara untuk menghibur diri sendiri. Berjalan perlahan ke arah Stasiun Pondok Cina melewati trotoar yang hari ini terlihat bersih karena tidak ada bekas jejak kubangan kotor air hujan, cuaca cerah, angin lembut mengelus wajahku perlahan mengiringi perjalananku melewati rel kereta menuju sebuah mall besar di seberang sana. 

Aku berjalan sendiri ke dalam mall tanpa teman bicara. Temanku yang tadinya aku ajak untuk menemani, ternyata sedang sakit. Kedua kakiku bergerak ke sebuah toko untuk membeli beberapa barang yang aku butuhkan. Sembari berjalan mengitari mall di lantai bawah, hatiku sudah berbisik memutuskan ke mana aku harus makan siang. Aku suka cold noodle yang disajikan di salah satu restoran Jepang, jadi aku arahkan kedua kakiku menuju ke sana. Aku makan siang seorang diri, memilih tempat duduk di paling ujung karena memang tidak ingin diganggu siapapun. Diri ini sedang menikmati me time, Allah tahu mungkin sudah saatnya aku berdiam diri menghibur diri sendiri, maka tidak Allah izinkan satupun temanku untuk datang menemaniku tadi siang.

Sembari makan, ada sebuah keluarga duduk di samping meja tempat aku duduk. Aku tidak yakin dengan agama yang mereka anut, yang jelas sebelum makan mereka berdoa dengan cara mereka dengan khusyu. Selesai mereka berdoa, aku melihat sang kakak laki-laki melihat kedua adik kecilnya dengan pandangan sayang dan sesekali ia mengajak bercanda ibunya yang duduk persis di sebelahnya. Kejadian itu, tanpa sadar menghiburku. Jadi, aku tersenyum bahagia melihat kehangatan keluarga itu. Lalu ntah mengapa, aku juga jadi ikut bahagia.

Selesai makan siang, aku bergerak ke arah toilet dan tersenyum senang ternyata wanita yang berdiri di depanku tahu bagaimana mengantri di toilet yang benar. Sepele ya? Menurutku, hidup itu bahagia jika kita berhasil mensyukuri hal-hal yang kecil. Daripada sibuk meratapi nasib dan menjadi korban dari keadaan, aku memutuskan untuk berusaha melatih diriku mensyukuri hal-hal yang sederhana. Bangunan yang kokoh itu terdiri dari banyak hal kecil : semen, pasir, batu, dsb. Hidup kita akan terasa sulit ketika kita lupa untuk mensyukuri hal yang kecil-kecil. Maka untuk menjadi pribadi yang kuat seperti bangunan kokoh itu, maka berlatihlah untuk mensyukuri hal yang tampak remeh temeh.

Seringnya, ketika kita memakai baju baru yang bersih kemudian tanpa sengaja terkena tinta satu titik saja, kita fokus kepada tinta kecil itu, “Aah, jadi kotor deh. Ih kesel banget!” Padahal bagian yang bersih di baju kita itu lebih banyak dari tinta kotor yang besarnya hanya satu titik. Hidup kita juga begitu, Allah memberikan kita limpahan kasih sayang yang banyak, tapi hanya karena satu masalah kecil, kita melupakan besarnya kasih sayang yang Allah berikan untuk kita. Lalu stress, karena masalah merembet ke mana-mana, lalu marah kepada Allah, padahal kita sendiri yang lupa untuk bersyukur. Allah terus yang disalahkan. Gimana mau bahagia kalau kerjaannya menyalahkan keadaan terus?

Hidup itu ujian. Mustahil, berharap masuk surga jika hidupmu lurus-lurus saja tanpa ujian, dear.

So, well. Aku pulang kembali naik Commuter Line. Masih berdiri sembari membaca novel yang tadi Allah pilihkan. Di tengah jalan, Allah mempersilahkan aku duduk di dalam kereta ketika seorang ibu turun di stasiun berikutnya. Aku masih sibuk tertawa membayangkan karakter calon istri Tsukuru yang shock mendengar cerita calon suaminya yang terus berputar dengan prasangka negatifnya selama belasan tahun. Membuatku menyadari suatu hal, nampaknya sangat menjengkelkan ya jika kita dihadapkan dengan seseorang yang negatif terus cara berpikirnya. Lelah ya kadang, memberi responnya. Sama seperti Sara (nama calon istri Tsukuru) yang kelelahan dan berpikir keras bagaimana memberikan solusi terhadap pola pikir calonnya yang sungguh negatif dalam memandang hidup. 

Membaca novel ini meskipun baru sampai halaman 45, membuatku menolak keras untuk terus menerus berprasangka negatif berlebihan terhadap apapun. Cara Allah memberi teguran itu lembut banget ya. Novel aja bisa jadi sarana untuk introspeksi diri.

Turun dari kereta, akupun masih diberi kesempatan sama Allah untuk mampir jajan beli cokelat yang aku inginkan dari tadi pagi. Diperjalanan menuju rumah sambil senyam senyum senang karena bisa makan cokelat. Padahal aslinya aku ga begitu suka makanan manis, lho. Cuma cokelat ini aja yg menurutku ga bikin mual. Sampai rumah langsung mengerjakan PR Video Bahasa Isyaratku yang deadlinenya hari ini. Ngirim PRnya via chat juga sambil deg-degan khawatir sudah terlambat. Tetapi beberapa menit kemudian guruku menjawab chat, “Ok mksh Dek Dhira. Gpp kok.” Cuma dijawab begitu aja udah bahagia. Hari ini fix alhamdulillah aku berhasil mencari-cari kebahagiaan dan melupakan emosi-emosi negatif yang kemarin menyerang.

Jadi begitulah. Aku sudah capek membanding-bandingkan hidupku dengan orang lain, sudah lelah banyak berprasangka negatif sama Allah. Sampai sekarang aku juga masih melalui banyak proses latihan untuk menjadikan diriku lebih baik dari sebelumnya. I wil grow, it just takes time. Namanya juga manusia, bukan malaikat. Yang penting hidup kita itu terus bertumbuh, ya kan? 

Sebagaimana kau sering memanggil “Allah…Allah…”
Maka kau akan melihat dan merasakan Allah menjawab, “Aku di sini hambaKu…Aku di sini.”

Find and Trust Allah.
And happiness will find you.

Tetap semangat menjalani hidup, doaku menyertaimu.

8 comments:

  1. Reading your post reminds me of what I've just been through and I think it's still going on. Accepting the hardship and overcoming it with positive thinking and struggling are what I'm doing at the moment. It isn't easy though but it's possible. My mom keeps reminding me that Allah SWT has the best life plans. I'm sure she's right cause just like what you get, Allah SWT surprises me with His scenario. Be strong Ms. Nadhira. As always...

    ReplyDelete
  2. Sama seperti yang sedang aku rasakan mba Dhir.. Alhamdulillah dikasih kepekaan akan nikmat Allah membuatku bersyukur tiada henti.. Sangat inspiratif tulisannya :)

    ReplyDelete
  3. Selalu suka tulisannya..
    Makasih dhira, nemu tulisan qm di saat2 yang tepat ..
    :)
    Sehat2 terus yaa dhira ..

    ReplyDelete
  4. Mba Dhir, itu ke Detos apa ke Margo? Hahaha

    Btw, boleh main ke blogku *promo wkwk

    ReplyDelete
  5. terima kasih aka nadhira... saat aku tertatih-tatih, tulisan2 aka membuatku kembali mengingat meskipun tidak ada seorangpun bersamaku, tapi selalu ada Allah disisiku, sekarang aku akan menjemput kebahagiaan itu... big love aka nadhira , keep fight on ur way. for urself and for us.. jazakillah :)

    ReplyDelete
  6. MaasyaaAllah...barokallahulakum Mba Dhira. Jazakillahu khoiron untuk tulisannya yg sangat menginspirasi dan ngena di hati sesuai kondisiku saat ini.

    ReplyDelete
  7. Jazakillah khairan khatsiraa mba dhira

    ReplyDelete