Wednesday, 7 November 2018

Hujan & Doa


Genre : Tragedy, Romance
Sinopsis : Aku baru tahu, bahwa berkah hujan sebegini hebatnya.

Word Count : 666/700

Hujan ini memaksaku untuk berteduh di cafè ini. Aku duduk di kursi tinggi dalam cafè ini, berhadap-hadapan dengan jendela besar yg memberikan tontonan gratis berupa hujan besar di luar sana. Sembari menatap langit yang kelabu dan menyesap teh rasa Chamomile kesukaanku, aku berdoa kepada Tuhanku yg Maha Kuasa untuk dibukakan pintu jodoh seluas-luasnya. 

Ini sudah berbulan-bulan lamanya semenjak aku sudah selesai dengan trauma masa laluku. Sudah lama juga aku mulai membuka hati lagi. Tetapi tanda-tanda kehadiran sosok pendaping hidup belum nampak juga di depan mata. Aku pasrah ya Allah, aku ikhlas. Mohon pilihkan pria yang terbaik untukku, please.

Selang beberapa detik setelah aku selesai berdoa, seseorang datang duduk di sebelahku, aku menoleh ke arahnya dan melihat sosok yg aku kenal dari zaman dahulu kala, yang cengiran jahilnya terkadang membuatku kesal, “Ngapain kamu di sini?” Tanyaku datar.

Dia tertawa memamerkan lesung pipinya yg well... terlihat manis di wajahnya, “Masih galau ga?” Ia malah balik bertanya. Pertanyaannya menyebalkan pula. Aku mengalihkan pandangan dan memutuskan menatap hujan yang turun tanpa menjawab apapun.

“Kalau udah ga galau, aku lamar kamu boleh ga?” Tanyanya lagi sambil meminum kopi yg ia pesan.
Aku menoleh cepat, “What?!”
“Aku lamar kamu boleh ga?” Ujarnya mengulang perkataanya tadi.
“Ngaco! Emang udah tanya Allah?” Tanyaku spontan.
“Udah.” Jawabnya cepat.
“Berapa lama?” Tanyaku lagi.
“Ya dari kamu ga jadi nikah sama orang itu.”
“APAAA?!” Ujarku sambil setengah teriak. Ia tertawa renyah. “Emang orang tuamu setuju apa?” Aku melanjutkan dengan sedikit berteriak tentunya. Ya iyalah, shock.
“Setuju, kok. Mereka udah tahu.” 

Oh My God, dia gila apa gimana sih. Parah, banget Ya Rabb.
“Terus hasil istikharahnya apa? Setelah nanya Allah jawaban-Nya apa?” Saking shocknya, aku nanya terus.
“Ya kalau negatif, aku ga nanya kayak gini kali.” Jawabnya tenang. Ia tertawa geli lagi melihat aku heboh begini.
“Ntar dulu...aduh apa sih? Kamu gila apa gimana sih? Ah tau ah, samperin ayahku sana kalau emang serius. Bodo amat aku ga percaya kamu serius.” Ujarku kesal.
“Udah ngobrol sama ayahmu kok tadi. Ngobrolin hal ini. Ayahmu terserah kamu katanya.” Jawabnya geli.
Kedua mataku melebar, mulutku menganga saking kagetnya, “Bohong! Di mana?!” Tanyaku bingung, masih dengan setengah berteriak.
“Di cafè ini.” Jawabnya singkat. Kedua mataku semakin melebar menatapnya tidak percaya.
“Tuh, ayahmu duduk di situ.” Ujarnya melanjutkan. “Kita tadi udah mau selesai pas kamu tiba-tiba masuk gitu aja ga liat kanan kiri. Abis mesen langsung duduk sini munggungin kita.”
Tanpa membuang waktu, aku langsung menggerakkan leherku untuk menengok ke belakang. Tidak jauh dariku, ayahku melambaikan tangannya sambil tertawa geli. 

Allahu Akbar. 
Baru saja, aku pasrah sepasrahnya minta diberikan jodoh. Dengan memanfaatkan keberkahan hujan deras yang turun, dengan air mata penuh harap yang tertahan… 

Tanda dari-Nya hanya beberapa detik setelah aku berdoa? Ini termasuk tanda, kan? Apalagi ini kalau bukan tanda? Dari sekian banyak pria, orang ini lagi yang datang? Dengan tenangnya bertanya kepadaku soal ini, dengan hebatnya diam-diam sudah bertanya kepada-Mu, dengan kerennya sudah mengantongi izin penuh dari orang tuanya dan yang lebih gilanya lagi…

SUDAH MENDATANGI AYAHKU PULA! 
DI CAFÈ INI LAGI! 

Padahal sesungguhnya aku itu masuk ke cafè ini juga karena hujan deras tiba-tiba turun dan karena aku nyasar juga sih sebenernya. Tempat berteduh yang ada cuma cafè ini. Dan ternyata ayahku dan dia lagi ada di cafè ini. Ini sebuah kebetulan yang cukup membuatku merinding banget, parraah.

Mau nangis rasanya. 

Aku memutar tubuhku, turun dari kursi tinggi ini dan berlari memeluk ayahku yang sudah berdiri ketika melihatku mendekat ke arahnya. Seromantis-romantisnya manusia membuat skenario, Tuhanku ternyata lebih romantis.

Huaaa, maluu akuu. Tapi sennnaaangg.

Dalam pelukan ayahku yang hangat, dari lubuk hatiku aku tahu, Allah sepertinya sedang tersenyum menatapku dari atas langit dan hujan menjadi saksi kebahagiaanku saat itu.

*****************************

Nb : Cerita ajaib yang mirip-mirip seperti ini, terinspirasi dari beberapa temanku yang pernah mengalami pengalaman unik ketika Allah berikan jodoh untuknya. 

Hmm, mungkin suatu saat kita yang juga sedang menunggu jodoh datang, akan merasakan hal yang unik juga?

Ga ada yang ga mungkin ketika Allah sudah berkehendak ya.

8 comments:

  1. Ka dhirrrr... Duhhh baca blog ka dhir yg ini, bikin terharu, pen nangis, rasanya pen meluk ka dhir juga.. 🤗. Tapi, bentar-bentar, ini seriusan kan dialami langsung sama ka dhir? atau bagimana sih.. Hihihi..
    Ku jga sedang menantikan jodoh dan jawaban dari Allah kak, mohon doanya juga ya ka dhir. 😊

    ReplyDelete
  2. ❤aduhhh silesung pipi ya kak dhira?
    Terbawa suasana nih jadi nya setelah baca ini hhhe

    ReplyDelete
  3. Amiennnnn......mashaAllah diraaa.....gw ampe mewek tau bacanyaaa

    ReplyDelete
  4. Wah... Kenapa sih aku baru datang fi blognya ka dhira. Iya... Saat saat pertemuanku dan pernikahanku seheboh ini. Tapi nyata bukan fiksi. Masalahnya aku mls bbggttt nulis

    ReplyDelete
  5. Kukira pengalaman mbak dhir :" semangat mbak dhiraaa :)

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete