Tuesday, 21 April 2020

Story Blog Tour, Ep 4 : "Am I Lucifer?"

Tentang Story Blog Tour :

Story Blog Tour adalah sebuah challenge menulis yang dibuat beramai-ramai. Dimana member lain yang sudah diberi urutan, melanjutkan cerita sesuai imajinasi di blog pribadi masing-masing. Yang kami tentukan di awal hanya genre cerita. Karakter, plot, alur cerita, konflik akan berkembang seiring cerita. Diskusi mengenai kelanjutan cerita dilakukan seminim mungkin agar tidak mengurangi keseruan, efek kejutan dan plot twist yang terjadi pada tiap chapter. 

Saya, Dhira. Mendapat giliran menulis chapter KEEMPAT dari cerita kami yang bergenre Action, Thriller. Cerita ini akan dilanjutkan secara berantai oleh member grup lain yang berpartisipasi ke dalam challenge ini. Silakan membaca chapternya di sini, ya : 

Chapter 1 : Capable of Destroying Anything | by Zu
Chapter 2 : The One Who's Watching From Afar | by Saa
Chapter 3 : Mystery | by Sai
Chapter 4 : Am I Lucifer? | by Dhira
Chapter 5 : Revenge | by Kenti
Chapter 6 : Cold Blooded Bodyguard | by Nana

*****
CHAPTER 4
"AM I LUCIFER?"

Synopsis : Aku ingin pergi jauh sangat jauh dari kalian semua. Apakah bisa? Karena untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupanku, aku benci pekerjaanku. Profesi ini membunuhku perlahan, Ya Tuhan...

Aku memperhatikannya dalam diam. Pria itu berdiri tegak tidak jauh dari tempat aku duduk. Ia terlihat sangat gagah menatap pemandangan di luar jendela besar di hadapannya tanpa berkata apapun. Sudah hampir tiga puluh menit aku menunggunya berbicara, tetapi tidak ada satu katapun keluar dari kedua bibirnya. Semua yang ada pada dirinya serba hitam, hanya kulitnya saja yang terlihat putih. Di mulai dari rambutnya yang hitam kelam dengan model rambut diatur sangat rapi. Pakaiannya juga serba hitam dari mulai jasnya, dasinya, kemejanya, celana panjang kainnya yang berbahan katun, sepatunya juga hitam disemir terlihat mengkilat tersentuh sedikit cahaya matahari dari jendela besar itu. Sekilas orang memandang pria ini pastinya sudah bisa menebak bahwa semua yang ia pakai dirancang oleh desainer ternama dan pastinya dihargai dengan harga yang luar biasa mahal. 

Pria ini sangat kaya, aku tahu. Walaupun, aku merasa tidak pernah melihat wajahnya tetapi aku sering mendengar namanya disebut-sebut di banyak pemberitaan di negara ini. Usianya? Well, mungkin sekitar tiga puluhan. Ia membuat janji bertemu denganku secara privat. Tidak bersedia bertemu langsung di klinikku yang mungkin terlihat sederhana di mata orang kaya seperti dia. Oke, baiklah. Kalau ia ingin bertemu denganku untuk sesi konsultasi, tandanya ia ini termasuk dalam daftar pasienku.
“Sesungguhnya, apa alasan seorang psikiater ternama seperti anda hanya memiliki klinik sekecil itu?” Ujarnya pada akhirnya. Suaranya yang berat, memecah keheningan di ruangan ini. Pandangannya masih tertuju pada pemandangan di luar jendela besar itu sampai pada akhirnya ia mengalihkan pandangannya, kemudian menatapku setelah beberapa saat menyelesaikan pertanyaannya. Untuk pertama kalinya, aku dapat melihat kedua bola matanya. Ternyata hitam kelam, sama persis seperti warna rambutnya.

“Well, tidak ada alasan. Mungkin, saya termasuk jenis manusia yang tidak suka hal-hal yang terlalu berlebihan.” Jawabku singkat. Pria itu tersenyum simpul sekarang. “Menarik.” Ujarnya lagi. Ia bergerak menuju kursi di hadapanku, memilih tempat duduk yang cukup jauh dariku. Jarak kami sekarang hanya dibatasi meja panjang di dalam ruangan ini. Aku di ujung sini dan ia di ujung sana.

“Nama anda Eliana, bukan? Bagaimana saya harus memanggil anda? Dokter atau Eliana saja cukup?” Tanyanya lagi. Kali ini, ia memiringkan kepalanya ke kanan seolah sedang menimbang sesuatu. Aku tersenyum, sesungguhnya pria ini luar biasa menarik. Tetapi, menghadapi kenyataan bahwa ia pasienku, membuatku pada akhirnya berpikir dua kali untuk berhenti berpikir berlebihan. Aku belum bisa memberikan diagnosis apapun, jadi aku belum bisa memastikan apakah ia bermasalah atau tidak. “Apapun yang nyaman bagi anda kalau begitu.” Jawabku pada akhirnya. 

“Eliana saja, ya. Umur kita tidak terlalu jauh berbeda, saya rasa. Anda tahu nama saya, kan?” Pria ini nampaknya senang sekali mengajukan pertanyaan. Aku mengangguk. “Xander Ad…”

“Bukan, nama lain yang biasanya orang lain sematkan kepada saya.” Ujarnya memotong jawabanku.

Aku menimbang-nimbang, berusaha berpikir secepat mungkin agar tidak salah menjawab. Sebenarnya, aku sering mendengar desas desus mengenai julukan orang-orang yang disematkan kepadanya. Tetapi, nama itu bukanlah nama yang nyaman untuk di dengar.

Well, Eliana. I’m waiting… Ujarnya tidak sabar.
“Sejauh yang saya dengar selama ini, panggilan anda itu…Lucifer?” Jawabku seadanya.
Ia tertawa sekarang. “Menurut anda, apakah saya sesuai dengan nama itu? Lucifer? Iblis?” Kali ini, ia mencondongkan tubuhnya ke arahku, ia menyeringai, memamerkan deretan giginya yang terlihat sangat rapi.

“Saya tidak dapat memberikan jawabannya sekarang karena saya baru mengenal anda hari ini.” Jawabku tenang. Aku sudah terbiasa menghadapi orang-orang seperti ini. Bahkan, menghadapi Gabia yang tingkah lakunya berbanding terbalik dibandingkan pria di hadapanku ini saja, sudah menjadi makananku sehari-hari selama bertahun-tahun.

Seringainya menghilang, terganti dengan tatapan dingin. Tubuhnya yang tadinya condong menghadapku, bergerak mundur secara cepat hingga menyender ke arah kursi tempat ia duduk. Bahasa tubuhnya menandakan ia tidak puas dengan jawabanku. “Bagaimana jika saya berikan sebuah situasi. Mungkin itu dapat membuatmu menjawab pertanyaan saya.” Ujarnya. Tata bahasanya berubah, nada sopan yang ia ucapkan beberapa saat yang lalu sudah mulai bergeser menjadi tidak-terlalu-formal lagi.

“Silakan.” Jawabku cepat.

Pria bernama Xander atau Lucifer ini menatapku agak lama seolah-olah berusaha mencari sesuatu di dalam diriku. Ia menarik nafas berat kemudian berkata, “Ada seorang wanita, teman sedari kecil. Saya tahu, dia tidak pernah bisa seaktif wanita lainnya. Dari kecil, ia sudah sakit cukup parah. Karena kami sangat dekat dan kedua orang tua kami berdua sangat sibuk, saya yang sering mengantarnya ke rumah sakit bahkan menemaninya selama berhari-hari jika ia harus dirawat. Perasaan itu timbul begitu saja selama bertahun-tahun, I love her so much.” Ia terdiam, lalu menopang wajahnya dengan tangan kirinya di atas meja kemudian melanjutkan, “Saya pikir, ia memiliki perasaan yang sama. Tetapi, kenyataan berkata sebaliknya. Ia memilih menikah dengan seorang pria rendahan, sales sebuah perusahaan asuransi, seorang penipu yang gemar menggoda wanita. Pria kurang ajar itu tahu, bahwa wanita yang saya cintai ini sakit parah dan tetap menikahinya karena ia tahu akan mendapatkan keuntungan sangat banyak jika suatu saat istrinya ini pergi untuk selamanya dalam waktu tidak lama lagi tentunya, jika dalam perhitungan manusia.” Ia berhenti sejenak, ada nada penuh kebencian dalam suaranya. Tidak hanya benci, tapi raut mukanya menandakan bahwa sangat menjijikkan baginya mengingat kembali hal tersebut.

Aku terdiam, hati kecilku berkata ada yang tidak asing dalam cerita pria ini. Xander menatapku dengan tatapan yang sulit ditebak. Tangan kirinya masih menopang wajahnya. Kali ini suaranya terdengar getir. “Kamu tahu, berita paling menjijikkan adalah ia tahu bahwa ia dimanfaatkan oleh pria itu dan ia masih tetap memilih pria itu dibandingkan aku.” Kata-katanya begitu tajam dan terlihat sekali bagaimana ia berusaha menahan diri agar tidak muntah. Ingatan itu nampaknya terasa menjijikkan sekali baginya dan lagi-lagi aku menangkap bahwa tata bahasanya berubah semakin tidak formal.

Aku menarik nafas, nampaknya aku tahu akan dibawa kemana cerita ini. “Lalu, apa yang anda lakukan ketika mengetahui kenyataan itu?” Tanyaku pada akhirnya. Aku berusaha keras menahan diriku agar tidak menggigil.

Well, not much. Aku cuma memberikan sebuah bukti kecil untuk dinikmati bersama. Bukti itu aku berikan kepada seorang pria keturunan darah campuran. Half Indonesian, half japanese, I guess.” Ujarnya. Nada suaranya terdengar malas. “Sebenarnya, wanita yang aku cintai itu sudah tahu kenyataannya, bukan melaluiku tentunya. Tapi tetap saja, aku cuma ingin semua tamu menikmatinya juga. Aku lihat waktu itu, teman kecilku yang malang itu pergi keluar ruangan sambil menangis karena malu. Bukan karena ia baru tahu.” Lanjutnya dengan seringai yang lebar.

Aku memejamkan mataku, Oh my God. Gabia…Masahiro…Shit.

“Dari mana anda bisa kenal pria keturunan Jepang-Indonesia itu?” Tanyaku. Aku mengepalkan tangan kananku agar dapat menguatkan diriku sendiri. Kembali berusaha keras agar suaraku tidak bergetar.

Xander tertawa keras. Tawanya terdengar amat sangat menyeramkan di ruangan yang menjadi terasa gelap. Aku menoleh ke arah jendela, cuaca ternyata berubah mendung. Awan gelap datang bergerombol dengan amat sangat cepat. “Eliana, kamu seorang psikiater. Kamu pasti tahu mengenai vibrasi, kan? Bahwa getaran atau vibrasi akan cenderung mencari getaran yang sejenis. Pria patah hati seperti aku akan cenderung menemukan pria patah hati juga—meskipun situasinya berbeda. Pria keturunan campuran itu, sedang merasa penuh dengan amarah karena wanita yang ia cintai sedang disakiti oleh pria rendahan seperti itu. Maka, ia mencari segala cara untuk membalaskan dendam. Well, selain karena vibrasi kita saling bertemu, aku juga punya banyak orang kompeten dibidangnya untuk melakukan background check secara detail. Ia ingin balas dendam, aku juga sama. Simbiosis mutualisme. Bedanya, ia tidak masalah jika harus terjun ke kubangan lumpur. Sedangkan aku, tidak. Aku lebih suka bermain bersih, Eliana.”

Xander menghentikan ucapannya, ibu jarinya memainkan telunjuknya selama beberapa saat. Ia menatapku kemudian berkata, “Aku dengar, pria berdarah campuran itu bernama Masahiro dan wanita yang ia cintai itu bernama Gabia.” Ada jeda cukup lama, sampai akhirnya Xander menggerakkan kepalanya ke arah kanan agar tangan kanannya dapat menopang kepalanya.

“Dan Gabia itu sahabatmu dari kecil, bukan?” Seringai lebar terpampang jelas dari wajah Xander. Petir menyambar sangat kencang sekali sehingga membuatku terlonjak dari kursi. Aku belum sanggup merespon apapun dan Xander tertawa terbahak-bahak menyaingi petir yang menyambar di luar sana. “Relax, Eliana. Relax…” Ujar Xander masih sambil tertawa. Ia bertepuk tangan dua kali, lalu lampu ruangan menyala terang secara otomatis.

Aku ingin muntah, tapi aku masih bisa bertahan. Xander menatapku dengan tatapan penuh selidik. Sebelum ia berkata lagi, aku buru-buru menjawabnya, “Masahiro tidak pernah bertemu denganmu secara langsung, bukan?” Tanyaku cepat.

Xander menggeleng. “Nope. Never. Aku punya banyak asisten yang bersedia turun langsung sesuai yang aku inginkan. Sudah aku bilang, aku suka bermain bersih. Dan aku tidak suka mengulang perkataanku lebih dari sekali, Eliana.” Jawab Xander tajam.

“Baiklah, dan anda pasti tahu mengapa pria yang menurut anda rendahan itu tiba-tiba ditemukan tewas dengan tragis?” Tanyaku segera. Aku ingin, kepingan puzzle ini terkumpul sempurna. Kenyataan ini sungguh mengejutkan, membuatku ingin ditelan bumi saja. Hilang, tanpa jejak.

Pria itu hanya menatapku saja sampai akhirnya berkata dengan malas. “Pria darah campuran itu yang membunuhnya. Dia bilang, kalau ingin membalas dendam itu harus total. Aku punya buktinya, cukup banyak. Mau?

“Itu tidak masuk akal! Mengapa, Gabia bilang ada pesan yang ditujukan kepadanya bahwa ia yang akan menjadi penutup pada kejadian ini jika ia diam tidak melakukan apa-apa!” Ujarku hampir berteriak. Kenyataan ini membuatku hampir gila.

Xander terlihat sangat terhibur dengan responku, “Well, Sweetheart. Jelas, sahabatmu yang akan menjadi bagian penutup. Pria darah campuran itu mencintai sahabatmu. Mungkin, ia pada awalnya sudah berniat mati bersama dengan sahabatmu yang emosional itu. Sangat wajar, jika sahabatmu itu menjadi penutupnya.”

“TAPI DIA SUDAH MATI SEKARANG!” Teriakku, tidak tahan. Berusaha keras menahan air mataku turun.

“Siapa? Masahiro?” Tanya Xander tenang. Ia mengetuk-ngetuk dagunya pelan seolah berpikir keras. “Banyak kejadian yang agak sedikit complicated sesungguhnya. Wanita yang tadi aku cintai itu, pada akhirnya tahu bahwa Masahirolah yang mempermalukan ia dan suami laknatnya itu di pesta pernikahannya dan sialnya ia tahu bahwa pria itu yang membunuh suaminya. Jadi, yah…dia balas dendam… dengan tangannya sendiri.

“Termasuk menembak Bia?!” Teriakku lagi. Kali ini aku berdiri sembari menggebrak meja di hadapanku. 

Xander tertawa lagi untuk kesekian kalinya. “Well, yes. Sepertinya, dia sudah siap mati kapan saja. Jadi, sebelum mati ia ingin bersenang-senang dulu membunuh orang-orang. Toh, ayahnya yang gubernur terkenal itu bisa menutupi setiap aksi gilanya.Ujarnya santai sembari mengangkat bahu.

Aku terduduk kembali, lemas. Seperti tidak ada kekuatan untuk berdiri tegak. “Lalu mengapa Bia bilang bahwa aku sesungguhnya target pembunuh itu?” Tanyaku lirih, lalu menatap Xander yang duduk di hadapanku.

Xander menarik nafas panjang, kemudian mengerutkan keningnya. Ia menatapku selama beberapa saat kemudian menggeleng, “Hmm, kalau itu, aku tidak tahu.”

Seluruh tubuhku bergetar, tidak percaya dengan semua ini. Ada apa dengan hidupku? Oh, Tuhan…

“Jadi, sesungguhnya…mengapa, anda menceritakan semua ini kepada saya?” Tanyaku di sisa-sisa tenaga terakhir. Suaraku sudah terdengar sangat lirih dan cukup terkejut karena Xander yang duduk di ujung sana masih bisa mendengar ucapanku.

Xander menuangkan teh panas ke dalam cangkirnya, menyesap tehnya perlahan, ia terlihat sangat menikmati rasanya, aromanya…kemudian menatapku dengan tatapan tajam. “Seperti pertanyaanku di awal, Eliana. Setelah apa yang aku ceritakan sejauh ini, apakah menurutmu nama Lucifer itu pantas untukku? Bukankah, aku adalah yang paling baik di antara semua tokoh yang aku ceritakan hari ini?

Tubuhku semakin bergetar hebat. Pria ini…

Sebelum aku sempat merespon, ia kembali melanjutkan. “Oh ya, aku pernah tidak sengaja bertemu denganmu di pernikahan terkutuk itu dan tidak sengaja bertabrakan dengan sahabatmu.”

Ingatanku pada saat itu kembali datang cepat seperti kilat. Aku mengutuk keras dalam hati, merasa hidupku semakin sial akhir-akhir ini. Kenapa, aku bisa tidak ingat bahwa ternyata pernah bertemu dengan pria ini?

So, Eliana…Do I look like Lucifer to you?”

Pertanyaan itu entah bagaimana menusuk jantungku sangat dalam, terngiang-ngiang di benakku tanpa henti. Kepalaku terasa semakin berat dan duniaku tiba-tiba menjadi gelap. Sangat gelap…


Ep 1 : Ep 5 : On Progress
Ep 6 : On Progress

2 comments: