Situasi dan Hari Pertama di Tempat Kerja

October 28, 2021

Sudah 2 minggu aku menjadi pekerja sosial di Jerman. Istilahnya Bundesfreiwilligesdienst (BFD sebuah program kerja sosial di Jerman untuk seseorang yang sudah berusia di atas 25 tahun. 8 tahun yang lalu, aku mengambil program yang serupa di negara yang sama bernama Freiwilliges Soziales Jahr (FSJ) di Kota Hannover. Program FSJ ini untuk orang-orang yang berusia di bawah 25 tahun dan aku dulu diterima bekerja di bagian Kinder mit Körperbehinderung (anak-anak berkebutuhan khusus yang menggunakan kursi roda). Sekarang, Allah tempatkan aku di jurusan yang berbeda. Aku sekarang bekerja di Altensheim. Panti jompo kalau orang-orang biasa bilang. Lokasinya hanya sekitar dua jam setengah dari Kota Hannover atau tidak sampai satu jam dari Kota Bielefeld dan Kota Osnabrück. Kota tempat tinggalku bukanlah kota besar. Memiliki satu stasiun kecil yang jaraknya sekitar 9 menit menggunakan bus atau 21 menit kalau aku memutuskan untuk jalan kaki.

Tempat kerjaku ini memiliki tiga gedung yang terlihat terpisah dari luar tetapi sesungguhnya ketiga gedung ini menyatu menjadi satu kesatuan. Dari ketiga gedung itu, ada total sekitar seratus orang kakek dan nenek yang tinggal di sini. Mereka memberi nama gedung ini sesuai abjad : Gedung A, Gedung B dan Gedung C. Aku bekerja di gedung C yang memiliki 48 orang kakek dan nenek yang tinggal di sini. Terbagi menjadi dua lantai. Lantai pertama, koridor C1 dan C2 yang terletak di setiap ujung kanan kiri gedung. Lantai dua, koridor C3 dan C4 juga terletak di bagian ujung kanan kiri yang sama. Mereka memberikan aku fasilitas tempat tinggal yang menyenangkan untukku. Terletak paling atas di lantai tiga gedung A, kamarku luas sekali sudah diisi kulkas mini, lemari kecil untuk menaruh makanan, kursi santai, dua kursi kerja beserta satu meja besar, televisi yang juga tidak kalah besarnya dan tempat tidurku juga besar, cukup untuk tidur tiga orang yang ukurannya sama denganku. Di dalam kamarku juga ada kamar mandi yang juga luas. Ada dua wastafel bersebelahan beserta kaca, toilet duduk, shower untuk mandi, pemanas ruangan juga ada di dalam kamar mandi dan ada lemari kecil untuk menaruh segala perlengkapan di kamar mandi. 


Ketika aku datang pertama kali, atasan di tempat kerjaku ini sudah mengisi kulkas miniku sampai penuh. Mereka mengisi makanan dan minuman yang bisa aku makan sebagai seorang muslimah. Karena sebelum aku datang, atasanku khusus bertanya kepadaku makanan atau minuman apa yang aku sukai dan bisa aku makan. Supaya mudah, aku hanya bilang bahwa alangkah lebih baik jika menyiapkan makanan vegetarian atau vegan saja mengingat kalau makan daging, aku hanya makan yang ada label halalnya saja. So, ada banyak variasi teh yang ada di dalam lemari. Piring, gelas, garpu, sendok bahkan pemanas air untuk memasak air panas sudah mereka siapkan. Yang aku suka dari Jerman salah satunya adalah mereka punya banyak sekali jenis teh dan rata-rata rasa tehnya super duper enak menurutku. Tempat kerjaku menyiapkan tiga jenis teh di dalam lemari : Hagebutte mit Hibiskus und Aronia, Schwarztee Mischung dan Kamille. Aku senaang syekaliii, sangat bikin tenang badan ini dikala cuaca terlalu dingin untukku. Yup, aku datang di Musim Gugur dan cuaca sudah mulai sangat dingin.


Aku kira sebelum bekerja di sini, panti jompo itu hanya berisi kakek dan nenek yang ditinggal atau tidak diurus anak-anaknya. Tetapi ternyata di Jerman (kurang tahu di negara lain) tidak selalu begitu alasannya. Pilihan panti jompo adalah salah satu bentuk sayang anak-anaknya karena mereka harus bekerja dan orang tuannya yang sudah renta jadi sendirian di rumah. Sedangkan, kalau di panti jompo—obat ada yang bantu mengurus, makan tidak terlewat, bahkan ada pertolongan pertama jika orang tuanya tiba-tiba butuh pertolongan segera dan lain sebagainya. Anak-anak bahkan cucu sampai cicit banyak yang rutin menjenguk mereka di panti jompo. Diajak jalan-jalan, diajak ngobrol, malah terkadang bisik-bisik ke salah satu nenek yang letak kamarnya satu koridor dengan ibunya : “Tolong jagain mamaku yaa selagi aku ga adaa. I love youu.” Terus mereka berdua ketawa-ketawa cekikikan. Ada kamar khusus juga untuk kakek dan nenek tang tinggal untuk beberapa hari saja karena anaknya sedang ada dinas di luar kota atau sedang liburan ke kota atau ke luar negeri yang tidak memungkinkan orang tuanya diajak karena terlalu sepuh. Jika dititipkan di panti jompo ada yang menjaga sampai mereka kembali.


So, hari pertama setelah kedatanganku, tempat kerjaku mengizinkan aku untuk istirahat satu hari karena perjalanan panjang Indonesia-Jerman. Pekerjaanku terdiri dari dua shift : pagi dan siang. Shift pagi dimulai dari jam 06.00 s/d 13.45 dan Shift Siang dimulai dari jam 13.45 s/d 21.15. Aku, masih dipilihkan Shift Pagi, mungkin sampai bulan depan. 


Mari kita mulai dengan pengalamanku bekerja di hari setelahnya setelah aku istirahat seharian…


***


Aku menatap dua orang ini. Satu pria berbedan tinggi besar dengan tatoo yang tidak kalah besarnya memenuhi kedua tangannya. Ia terang-terangan menarik napas kesal ketika melihat atasanku menyerahkanku ke dalam bimbingannya. Aku berulang kali berkata dalam hati bahwa ia belum kenal aku, belum kenal agamaku, belum kenal semuanya tentang aku. Bahkan aku menjadi orang pertama beragama Islam di sana, menggunakan kerudung dan lengan panjang hitam nampak jelas terlihat di balik seragam hijau terang di tempatku bekerja. Semua yang ada dalam diriku berbeda dari orang-orang lainnya yang berada di sini. Wajar, responnya seperti itu. Jadi, aku tidak mengambil pusing akan responnya. Aku akan terus berusaha bersikap baik, apapun respon orang-orang di sini. Karena semua yang aku lakukan itu karena Allah bukan karena mereka. Allah sudah menempatkan aku di sini, tandanya Tuhanku ini tahu bahwa aku mampu melalui semuanya dengan baik. 


Seperti yang aku duga, pria itu tidak mau berurusan banyak denganku, bahkan tidak mau mengerjakan apa yang atasanku pinta untuk membimbingku. Ia fokus menatap layar komputer di depannya dan pada akhirnya salah satu wanita yang ada di sana mendekatiku dan mengajakku untuk memperkenalkanku kepada semua orang yang ada di gedung di tempatku bekerja. Aku mengikutinya, layaknya anak itik mengikuti induknya. Kemanapun ia pergi, aku ikut dan ia mengajariku banyak hal berkaitan dengan pekerjaanku ini. Sembari mengikutinya dari belakang, aku mengamati dirinya dari atas sampai bawah. Wanita ini menarik, aku tahu usianya pasti jauh lebih muda dari aku. Rambut cokelatnya panjang sepunggung ia ikat menggunakan jepitan besar di bagian belakang agar ia mudah bergerak ketika bekerja. Tingginya tidak jauh beda denganku tetapi ia jauh lebih kurus dan pandanganku selalu tertarik kepada kedua tangannya yang juga penuh tatoo dan penuh dengan bekas luka sayatan. Tidak hanya kedua tangannya, samar-samar lehernya pun ada beberapa bekas luka di sana. Sembari mengikutinya dari belakang, aku bertanya-tanya dalam hati : “Apakah ia melakukan percobaan bunuh diri berkali-kali?”


Aku menatapnya ketika ia menurunkan maskernya. Wanita ini cantik secantik bola matanya yang berwarna abu-abu gelap. Ia bahkan tidak terlihat sedang depresi ketika aku menatapnya. Tetapi luka penuh sayatan di kedua tangannya sungguh menggangguku : “Apakah masa lalunya berat sekali? Apakah ia sudah berdamai dengan masa lalunya sehingga ia tidak terlihat depresi sekarang?” Hal yang paling unik adalah wanita ini amat sangat luwes dalam bekerja. Ia ramah sekali kepada kakek dan nenek yang bekerja di sana. Ia berusaha sebaik mungkin agar setiap kakek dan nenek yang tinggal di sana, mendapatkan service yang terbaik dan merasa nyaman. Caranya berbicara, mengelus-elus lembut bagian yang sakit di tubuh para sepuh di sana, seperti layaknya seorang cucu perempuan kepada nenek dan kakeknya. Aku belajar banyak di hari pertama bekerja di sini bahwa aku tidak boleh sembarangan menilai seseorang hanya dari fisik yang aku lihat. Puluhan luka sayatan pada tubuhnya memang sangat mengganggu, bahkan bisa menjadi penilaian negatif orang yang baru saja melihatnya. Tetapi, jika kalian melihat langsung apa yang aku lihat, kalian tidak akan menyangka betapa luar biasanya ia dalam bekerja merawat puluhan kakek dan nenek di sini.


Aku turun ke lantai bawah menuju tempat ruang kerja yang cukup besar di mana kami mengadakan rapat pembagian tugas dan ada lemari-lemari besar tempat menaruh obat-obatan bagi para kakek dan nenek di sana. Seorang wanita yang usianya di atas lima puluh tahun duduk di sana mengobrol dengan seorang wanita yang berusia sekitar 30 tahun awal dengan rambut yang ia cat berwarna merah menyala. Wanita yang lebih tua itu menatapku sekilas tanpa menyapaku sama sekali, ia sibuk menceritakan kondisi kakek dan nenek di gedung C itu kepadanya karena wanita berambut merah ini akan berjaga di shift siang. Sesekali mereka tertawa, semakin lama aku semakin menyadari bahwa wanita berambut merah ini memiliki tawa yang sangat khas dan juga luar biasa kencang sehingga terdengar sampai ke seluruh penjuru gedung. And again, tidak ada yang menyapaku sama sekali. Mereka tahu aku ada, tapi aku dianggap tidak ada. Sesekali, rekan kerja yang lain datang silih berganti dan hanya mengucapkan halo singkat kepadaku, menyebutkan nama mereka sekilas lalu pergi begitu saja. Aku ditinggal sendiri lagi. Sebelum aku pulang, aku mencoba menunjukkan lembaran tugas yang diberikan atasanku ke pria bertatoo tadi, tapi dia hanya mengangkat bahunya sambil lalu dan berkata dengan nada yang dingin di balik maskernya : “Ich weiss es nicht.” (“Aku ga tau.”) Lalu pergi untuk merokok di luar bersama yang lainnya. Wanita tua yang tadi mengobrol dengan wanita berambut merah juga ketika aku berusaha bertanya sesuatu hal yang aku tidak paham, ia langsung menarik napas kesal dan menjelaskan dengan nada yang amat sangat tidak ramah karena merasa terganggu. Oke baiklah, hari pertama ini aku terima dulu semua situasi yang Allah berikan kepadaku tanpa mengeluh. “Gapapa Ya Allah, aku terima. Wajar mereka belum kenal aku. Besok In Syaa Allah respon mereka lebih baik.”


Akhirnya aku pulang karena jam shift pagi sudah selesai. Dalam perjalanan menuju kamarku yang terletak di gedung sebelah, pada akhirnya aku tahu mengapa Allah baru mengizinkan aku kembali ke Jerman setelah tujuh tahun. Dalam rentang tujuh tahun ini, Allah menempaku sedemikian rupa sehingga aku mampu memandang sesuatu dari berbagai sudut pandang sehingga aku lebih tenang dalam menjalani hidup. Bertahun-tahun aku berlatih sangat keras untuk tidak berpikir negatif kepada orang lain, untuk tidak berprasangka selama mereka tidak mengucapkan atau melakukan tindakan langsung kepadaku. Kalaupun mereka berpikir negatif tentang aku, biarkanlah itu menjadi urusan mereka sendiri. Jangan sampai hanya karena sikap mereka yang kurang bersahabat, menjadikan aku berkurang keceriaannya, berhenti melakukan yang terbaik dalam bekerja dan lain sebagainya.


Apalagi berprasangka negatif kepada saudara seiman sendiri. Benar-benar ga berani. Sebagaimana aku tidak tahu kedudukannya di mata Allah, akupun tidak tahu kedudukanku di mata Allah. Siapa tahu, orang yang aku nilai negatif ini adalah seorang hamba yang Allah amat sangat sayang. Sehingga, Allah marah karena hamba kesayangan-Nya aku nilai negatif seperti itu.


So, aku punya Allah. Hari pertama, belum terlalu disambut baik di tempat kerja, gapapaa. Respon mereka wajar, kok. Kalau jalur manusia ga bisa, aku kejar lewat jalur langit ajaa. Nanti biar Allah yang melembutkan hati merekaa. Senangnya punya Tuhan kayak Allah itu, aku jadi selalu punya tempat mengadu dan tempat mengaduku itu Maha Pembolak Balik Hati, jadi aku yakin besok akan ada perubahan dan aku bisa lebih bisa menikmati pekerjaankuu. So, sekiaan kisah hari pertama kerjaku. Postingan kali ini supaya kalian mendapatkan gambaran singkat apa yang aku lakukan di Jerman. Sampai bertemu di postingan selanjutnya, In Syaa Allah!


———


Btw, kalau kalian ingin tanya-tanya lebih lanjut mengenai program ini, bisa buka Instagram @dvschule yaa! Daan aku akan sangat happy sekalii membaca komentar kalian di kolom komentar setelah membaca postingan inii! Jadi semangat buat postingan baru ke depannyaa setiap baca postingan kalian, THANK YOUU!

You Might Also Like

18 comments

  1. MasyaAllah semangat ya Dhira pasti tidaklah mudah mengerjakan semuanya.
    Tapi semoga Allah senantiasa selalu memberikan kemudahan di setiap aktivitas yang kamu kerjakan dan semoga dimana pun kamu berada selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wata'ala.aamiin

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah semangat mbak Dhira,, terharu diriku disaat apapun mbak Dhira inget keterlibatan Allah ah jadi malu aku yang masih ngalamin masalah remeh remeh lebih banyak ngeluhnya

    ReplyDelete
  3. MasyaAllah...semoga Allah selalu melindungi kak dhiraa dimanapun berada dan di mudahkan segala urusannya.
    terimakasih kak sudah menulis tulisan ini..

    ReplyDelete
  4. Aku selalu excited baca pengalaman orang lain ada di luar negeri, apalagi dihubungkan ke Allah. Masya Allah. Semoga Allah kuatkan terus hatinya, kak! Sehat-sehat di sanaaa... Kagum juga baca bagian panti jompo tempat mencarikan orangtua teman baru, kalo di Indonesia, tanda ga sayang ya malah (menurut ibuku sendiri). Karena beliau menganggap kenapa aku diurus sama orang lain? Padahal kamu udah aku urus dari dalam kandungan hingga dewasa. Terima kasih kak sudah membantu aku melihat bumi Allah yg luas ini dan memahami banyak maksud yg Allah ingin sampaikan ke hambaNya lewat kejadian-kejadian dalam hidup kita. Sehat selalu kak!

    ReplyDelete
  5. Mba Dhiraaaa....
    Mengharu bacanyaa dan bikin makin semangatt buat terus jadi lebih baik :')
    Maa sya Allah

    ReplyDelete
  6. Semangatt mba dhira 🥰🥰

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. MaasyaaAllah, smangaaat mba Dhira,,huhu very inspiring mba
    Barakallahu fiik :)

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Masya Allah terharu...

    Ketika baca, saya merasakan seperti yang kakak rasakan disana.


    Semangat terus y kak, Insya Allah Allah akan melembutkan hati orang-orang disana sehingga bisa menjadi sahabat kk...

    Ditunggu kisah selanjutnya.

    Terima kasih kk..

    ReplyDelete
  11. Semangat Mba Dhiraa.. bacanya jadi self reminder, harus tetep berhusnudzon dan melakukan yag terbaik. Ditunggu cerita selanjutnya ya..

    ReplyDelete
  12. Terima kasih ilmu dan pengalamannya Mba Dhira, ga sabar nunggu cerita selanjutnya

    ReplyDelete
  13. Yeay, akhirnya bisa baca cerita Mbak Dhira di Jerman lagi. Hal yg selalu aku ingat selama berinteraksi dengan Mbak Dhira ini adalah tentang respons. Alhamdulillah ga baperan ya, Mbak.

    Karena yang bisa kita kontrol adalah sikap kita ke orang lain, bukan perlakuan orang lain ke kita.

    Ditunggu banget lho Mbak Dhira, cerita berikutnya. Semoga sehat selalu ya. Terima kasih sudah berbagi pengalaman di sana. Semoga hadirnya Mbak Dhira di sana menjadi cahaya bagi sekitar. Aamiin ya Rabbal 'Aalamiin :)

    ReplyDelete
  14. Maasya Allah..kak dhira, semangat

    ReplyDelete
  15. Mbaa dhiraa semangat yaaa 💓💓💓

    ReplyDelete
  16. MasyaAllah akuu terharu baca ceritanya, banyak nampar aku juga, kenapa kita risau padahal kita punya Allah, banyak belajar jadi manusia yg harus selalu berfikiran baik keorang lain lagi dan lagi

    ReplyDelete

Like us on Facebook

Follow me on IG : @nadhiraarini