Tuesday, 24 October 2017

Ketika Ingin Membaca (lagi)


Jadi ceritanya, sudah bertahun-tahun minat baca gue semakin menurun drastis. Sudah bertahun-tahun juga gue bingung, kenapa gue jadi ga suka baca. Awal-awal peralihan, gue bingung kenapa gue jadi ga suka baca. Kerjaan gue cuma ke toko buku, beli buku banyak, tapi berujung ga dibaca ketika sampai di rumah. Akhirnya lama-lama, kebiasaan gue beli buku di toko buku ini, berkurang karena gue sadar betul kalau buku-buku itu ga akan gue baca. Jadi daripada uang terbuang percuma dan di akhirat ditanya Allah ketika para buku yang gue beli ini menangis ngadu sama Allah karena selama di dunia gue anggurin gitu aja ga dibaca, jadinya gue beneran berhenti beli buku. Daripada gue ga bisa mempertanggungjawabkan kelakuan minus gue ini di akhirat, mendingan ga usah nambah-nambah buku lagi sama sekali.

Zaman SMA, gue suka baca buku teenlit karangan penulis Indonesia. Semakin bertambah usia, gue lebih suka baca novel-novel terjemahan karena tata bahasanya sesuai dengan jenis tata bahasa yang gue suka. Sehingga sebagai penulis, jenis tulisan-tulisan gue banyak terpengaruh sama struktur tulisan novel terjemahan. Dari mulai punch line nya, sudut pandangnya, jenis-jenis alurnya, dll. Karena menurut gue, novel-novel terjemahan yang gue baca itu alurnya sederhana tapi berkesan buat gue yang baca. Konfliknya sungguh kreatif, klimaksnya bikin gue geleng-geleng kepala saking ga nyangkanya. Kok bisa, penulisnya kepikiran nulis kayak gitu?

Selama ini, ketika gue baca novel terjemahan, gue jarang banget beli. Karena nyokap gue koleksi novel-novel terjemahan satu lemari besar. Jadi gue tinggal milih, mau baca novel yang mana aja. Tapi kadang, kalau gue bosen baca novel, gue beralih ke buku-buku sejarah. Gue koleksi buku-buku sejarah banyak banget. Sampe punya buku Sejarah Dunia dalam Bahasa Jerman dari volume 1 sampai 14, lengkap (rezeki dikasih temen, dia dapet di Flohmarkt / toko barang bekas gt. Terus dia ngasih semua buku itu untuk gue, melihat gue suka banget sama sejarah). Jadi deh, gue bawa buku-buku berat itu 14 volume dari Kota Bielefeld sampai Kota Hannover. Berujung jari-jari gue merah semua, penuh luka di punggung tangan (karena waktu itu Winter dan kulit mudah terluka oleh cuaca dingin yang kering), tangan pegel linu saking beratnya buku-buku sejarah tebel itu wqwqwq. Sebegitu niat dan senengnya gue baca waktu itu. Di Jerman, duit gaji kerja gue sebulan habis hanya untuk beli buku aja. Sampai ketika pindahan balik ke Indonesia, paket barang-barang gue yang dikirim sebanyak 4 kardus besar, isinya sebagian besar buku semua. Sekarang? Ntahlah… :( #sigh

Cuma masalahnya kalau baca buku sejarah, tantangan buat gue sendiri nyelesein bacanya. Kenapa? Karena ga semua buku sejarah bahasanya enak untuk dibaca. Problem itu nampak terasa terlihat ketika gue jadinya bolak balik beli buku sejarah sana sini, tapi ga selesai dibaca karena tata bahasanya sungguh sangat tidak menarik minat gue untuk membacanya sampai selesai. Buku sejarah pertama yang pada akhirnya menarik minat gue baca sampai habis adalah buku Muhammad Al Fatih 1453 karya Ust. Felix Siauw.  Gue baca buku ini, waktu kerja di Jerman. Sampai atasan gue, senyam senyum sendiri ngeliat gue heboh dan serius banget baca buku itu ketika lagi waktu senggang di tempat kerja. Nah, jenis buku sejarah kayak gitu yang gue suka. Gue kayak diceritain sejarah penaklukan Konstatinopel dengan Bahasa yang sangat enak dibaca. Berlanjut ke serial novel Ghazi karya beliau juga bersama Sayf Muhammad Isa, ketika gue balik ke Indonesia.

Belum lagi buku-buku sejarah favorit gue yang lain, ketinggalan disuatu tempat, dipinjem temen ga dibalikin, janjinya mau dikirim via post tapi sampai sekarang ga ada kabar. Di WA, ga dibales, di DM juga sama aja. Membuat gue kesel setengah mati, karena harta karun gue lenyap. Sungguh, menyebalkan orang-orang yang meminjam buku tidak dikembalikan. Dan sayangnya, hari-hari setelahnya gue bolak balik merasa salah beli buku sejarah karena tata bahasanya banyak yang membingungkan dan berhasil menghisap minat baca gue ke Lubang Hitam, hilang sudah. Gue kesel dan gue menolak untuk membaca buku dalam bentuk fisik ataupun e-book.

Bagi orang yang kenal gue, mereka semua pasti tahu kalau gue adalah pribadi yang tidak mudah goyah. Gue bukan orang yang pada akhirnya mau baca hanya karena lingkungan gue semuanya hobi baca buku. Selama diri gue sendiri belum mau baca buku lagi, bodo amat orang lain mau bilang apa. Nyokap gue mulai heran, karena gue kalau di toko buku cuma muter-muter doang. Setiap ditanya, “Mba Dhira, ga beli buku?” Gue cuma ngegeleng dan bilang, “Ngga ah, maam.” Padahal, gue adalah anak ortu gue yang bukunya paling banyak di rumah. Ampe kamar penuh tumpukan buku. Bokap gue sampe bingung mau naro buku gue di mana lagi saking banyaknya. Tapi sekarang, boro-boro beli. Masuk ke toko buku malah perginya ke bagian alat tulis untuk ngeborong post it atau beli cat air untuk ngegambar gitu wqwq.

Selama dua tahun terakhir, tulisan-tulisan gue tidak terinspirasi dari membaca buku. Tapi dari tulisan pendek orang lain misalnya yang gue baca ketika lagi browsing, puisi yang ga sengaja gue baca di blog orang, quotes-quotes yang berseliweran di Instagram, video ceramah para ustadz, dll. Gue ingin baca buku lagi, tapi gue belum mau. Karena gue belum tahu persis, apa akar masalahnya gue gamau baca buku lagi.

Sampai akhirnya, ada di satu titik di mana gue beneran pengen baca buku lagi. Tapi gue bingung, dari mana mulainya. Mood membaca ini harus gue kumpulkan bagaimanapun caranya. Maka, hal yang pertama gue lakukan adalah :

1. Doa Sama Allah
Gue doa sama Allah untuk diberikan kekuatan yang bertahan lama untuk mau membaca lagi. Sekaligus mohon untuk ditunjukkan buku yang tepat sebagai dorongan gue untuk memulai membaca setelah sekian lama. Karena kalau gue salah baca buku lagi untuk pertama kalinya setelah libur baca buku, dijamin gue ga akan baca buku lagi.

Kalau gue lagi ga sholat, gue dzikir yang banyak. Sungguh, keinginan gue untuk membaca buku lagi sudah sangat besar. Cuma gue terlalu ragu-ragu karena khawatir buku yang gue baca membosankan dikarenakan pilihan tata bahasanya yang sanggup memadamkan semangat gue dalam membaca. Jadi gue minta sama Allah, untuk menunjukkan kepada gue, hal apa yang membuat gue jadi malas membaca buku.

2.     Cari tahu alasan kenapa minat membaca menurun
Buat gue penting banget untuk cari tahu, kenapa minat baca gue turun drastis? Selama gue memutuskan untuk berhenti membaca, gue ga pernah kepikiran kenapa gue gamau baca lagi. Yang gue tahu, gue bosen aja. Atau malah nganggap, membaca itu membuang-buang waktu gue. Gue waktu itu berfikirnya gini, “Selama gue bisa ngerjain pekerjaan yang lebih bermanfaat, kenapa gue harus baca buku yang bahkan isinya aja ga seru? Kenapa gue harus maksa diri gue untuk menyelesaikan buku yang dari tata bahasanya aja bikin gue ngantuk? Diem lama ngabis-ngabisin waktu gue aja.”

Setelah gue doa minta petunjuk Allah, Allah tunjukan kenapa gue jadi males baca. Dari tulisan yang gue tulis di atas, tampak jelas sekali kalau gue selalu merasa salah beli buku atau buku yang gue buka di toko buku itu gue ga suka jenis tata bahasanya. Sehingga, kerjaan gue di toko buku itu minta izin pegawai toko bukunya untuk buka plastiknya, supaya gue bisa liat gambaran isi dari tata Bahasa tulisannya. Sialnya, buku-buku yang plastiknya udah gue buka untuk dilihat gambaran isinya, selalu berakhir gue kembalikan ke rak buku. Jadi, kerjaan gue di toko buku itu cuma bukain plastik buku aja dan berujung ga beli apa-apa karena ga ada yang gue suka.

Mungkin, gue bisa bilang ini adalah penyakit seorang penulis. Gue jadi punya standar sendiri tentang tata Bahasa dalam buku yang sedang gue baca. Hanya buku-buku tertentu yang sesuai dengan standar yang gue buat sendiri yang mau gue baca. Karena gue beli buku, bukan untuk seneng-seneng ngabisin waktu gitu aja. Gue mau baca buku, supaya gue dapet inspirasi di tulisan gue yang baru. Buku yang gue paham isinya, disampaikan dengan cara yang menyenangkan, sehingga gue paham dan bisa menceritakan isi buku itu kepada orang lain. Buku-buku jenis itu susah ditemukan dan gue frustasi dibuatnya. Belum lagi, buku favorit gue pada lenyap dipinjem orang ga dibalikin. Ada sebagian besar buku yang belum selesai gue baca karena ketinggalan. Tapi orang-orang tersebut tidak mengembalikan buku-buku berharga gue dan gue kesel minta ampun. Gue jadi merasa harta karun gue dirampok. Gue cari buku-buku yang hilang itu di toko buku manapun untuk dibeli ulang, tapi ga ada. Grrr~

3.     No one is busy in this world
Everything is always about priorities. You will always find time for the things you feel important.  Jadi gue berfikir, kalau gue beralasan ‘sibuk’ untuk membaca, tandanya itu hanya alasan gue aja. Kalau gue bener-bener ingin menjadikan membaca buku itu sebuah prioritas, maka gue pasti akan menyediakan waktu. Gue akan selalu punya waktu untuk segala hal, kalau gue meluangkan waktu gue untuk itu. Kalau gue masih bilang, gue ‘sibuk’, tandanya gue memang ga meluangkan waktu untuk membaca dan ga menjadikan membaca itu sebagai prioritas gue. Biasanya, alasan terbesar orang ga meluangkan waktu untuk membaca adalah penyakit M. Apa itu penyakit M? Penyakit M itu adalah MALES. Karena MALES, jadinya banyak alasan. Dan alasan ‘sibuk’ itu yang menjadi korbannya. Sungguh kasihan si ‘sibuk’, sering kita jadikan kambing hitam atas kemalasan kita :(

4.     Pilih jenis buku yang disuka
Klo ada yang tanya gue akan memilih buku apa, maka gue akan memilih buku sejarah. Dan doa meminta petunjuk kepada Allah untuk dipilihkan buku mana yang harus dibaca terlebih dahulu agar minat membaca gue naik setelah libur membaca sekian lama ini, benar-benar sangat menolong. Allah tahu, gue lebih suka membaca buku sejarah dibandingkan novel. Maka Allah tunjukkan buku mana yang harus gue baca terlebih dahulu di saat yang tepat. Di saat keinginan gue membaca sedang tinggi-tingginya, masalahnya hanya tinggal memilih buku mana yang harus gue baca duluan. Lalu, voilaa~ setelah, tiga hari di luar kota karena ngisi seminar dan kegiatan menumpuk lainnya, saat pulang ke rumah dan masuk ke kamar ternyaman sejagat raya, gue ngeliat tumpukan buku yang sudah tersusun rapi di atas meja. Gue kira itu punya ade gue, karena dia suka ngebajak kamar gue dan meninggalkan banyak jejak peninggalannya di kamar gue ketika gue lagi ga di rumah (ya bukulah ketinggalan, mukena, bantal kesayangannya, charger hp, dll).

Tapi tahunya itu buku-buku punya gue yang sudah disampul rapi sama nyokap gue. Tiga buku tentang sejarah Islam dan satu novel terjemahan, yang sempat lupa di taro di mana. Gue sempet buka semua buku-buku itu sekilas dan semua tata bahasanya adalah jenis tata Bahasa yang amat sangat gue sukaa. Detik itu juga, minat membaca gue naik seketika, apalagi ketika Nyokap gue bilang, “Iya itu bukunya ternyata nyelip di kolong meja. Ini mama sekalian sampul bukunya supaya rapi. Terus mama taro di kamar Mb Dhira, deh.”

Maha Besar Allah Sang Pengabul Doa-Doa Hamba-Nya yang sederhana. Sungguh, cara Allah mengabulkan doa-doa amat sangat indah. Datang di waktu yang tepat, dengan buku-buku sejarah yang gue inginkan, ga cuma satu tapi tiga ditambah bonus satu novel terjemahan, dengan jenis tata Bahasa yang gue harapkan, disampul rapi oleh jemari-jemari mama yang lembut, kemudian diantarkan langsung ke kamar gue pula. Demi Allah, sungguh tenang hati ini jika motto ‘Allah dulu, Allah lagi, Allah terus’ ini selalu berusaha diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari :)

So, I’ll try again. Masih long long way to gooo banget supaya gue tetap istiqomah dalam membaca. Tapi in syaa Allah, membaca buku selalu berusaha gue masukkan ke dalam list prioritas gue. Gue gamau masuk dalam jajajaran kelompok orang pemalas yang banyak alasan.

Sebagai penutup dari Allah atas jawaban doa-doa gue di atas, tiba-tiba Allah membuat gue terngiang akan ucapan bokap gue bertahun-tahun lalu yang mengiringi pertumbuhan gue ketika beranjak dewasa;

“Aku berlari menjauh dari kemalasan…
dan kemalasan itu tak mengejarku lagi.
Capek katanya…”

Selamat membaca, teman-teman :)

1 comment:

  1. Mba Dhir, kan mood membaca nya sudah kembali.
    Berharap mood nulis di blog nya juga kembali hehe.
    Makin kesini mba dhir cuma sebulan sekali posting tulisan :(
    Ditambah yaah mba dhiiir :)

    ReplyDelete