Sunday, 7 October 2012

Keraguan hati si Arin kecil...

dia, yang bernama Arin. Duduk di depan jendela memandangi sinar bulan yg menerobos masuk tanpa permisi lewat jendela kamarnya. Hari ini, sabtu. Harinya dia libur. Tanpa panggilan teriakan dua bocah kecil mengajaknya bermain, tanpa ketukan di pintu kamarnya meminta bantuan, tanpa tugas-tugas rumah tangga ringan memanggil-manggil. Hari ini dia sendiri di rumah, keluarga asuhnya semua pergi. Ntah kemana. Bagus. Hari ini, hari tenangnya. Walaupun hanya sehari.

Arin menarik nafas panjang, sambil memandangi bulatnya bulan purnama yang bersinar terang mengalahkan sinar lainnya di luar jendela. "Hari ini, kamu, hey cahaya bulan! sudah tanpa permisi masuk ke kamarku, tujuh kali. Tandanya, aku sudah di sini selama tujuh bulan.." Dia berbicara sendiri. "Hey, kamu!" Ulangnya."Menurutmu, aku harus tetap di sini atau pulang ke Indonesia tahun depan?"

Yang di ajak bicara, tidak menjawab. Awan hitam gelap, tiba-tiba datang membantu sang bulan untuk bersembunyi. Lari dari keharusan untuk menjawab pertanyaan Arin. "Aahh, sial. Kok, ilang?" Merasa di acuhkan, tangannya bergerak mengambil buku sudokunya yang tergeletak di atas karpet. "Oke, kalo kamu malah ngumpet. Aku tunggu sampai awannya pergi tertiup angin. wee." Arin menunggu, sambil duduk bersandar di tembok lalu mulai bermain sudoku dengan santai. Sudoku, makanan sehari-harinya. Tidak membutuhkan waktu lama, kurang dari sepuluh menit, satu sudoku terisi semua. Arin melirik ke Jendela, bulan purnama itu sudah tampak lagi. Angin dingin nan kencang di awal musim gugur ini, tampaknya sudah berhasil mengusir awan hitam yang nakal. "AH-A! Hallo, bulan! Wir treffen uns nochmal. Kita bertemu lagi." Arin tersenyum lebar, sinar bulan meredup. "Haha, takut jawab pertanyaanku, ya? Oke, gapapa. Kamu dengerin aku cerita aja, gimana?" Tiba-tiba, semua aktifitas di luar menjadi berhenti sama sekali. Angin berhenti bertiup kencang, tidak ada mobil yang bolak-balik lewat di jalan raya, langit tampak jernih, sinar bulan kembali bersinar terang. Semuanya, seperti mengharapkan sesuatu. Menunggu Arin bercerita.

"Well, ini bukan cerita yang seru tapi cuma curhat. Kalian semua ga perlu berhenti beraktifitas hanya karena mau dengerin aku cerita. Ini, seperti lebih ke cerita galau. Hehe" Arin menjelaskan. Daun-daun di pohon depan jendela, bergoyang-goyang ringan seakan memberi tahu, "Tidak apa, kami mendengarkan..."

Arin mengangkat bahu. "Okay. Jadi ceritanya, aku lagi bingung. Lima bulan lagi, aku selesai homestay di Jerman. Aku pengen tetep lanjut tinggal di sini. Mmm, kalau kuliah, mungkin nggak. Karena bakal buang-buang waktu, karena harus mulai dari awal lagi. Kalian tau sendiri, aku udah sempet kuliah psikologi selama dua tahun di Bandung. Aku pengennya ambil Ausbildung. Itu tuh semacam apa ya..mmm, aku gatau sebutan bahasa indonesianya. Tapi, Ausbildung itu kayak semacam belajar khusus maksimal tiga tahun dan kalo udah selesai, bisa langsung kerja. Nah, berhubung aku itu tertarik banget sama anak-anak special need, aku pengen ambil Ausbildung yg di bagian Heilerziehungspflegerin. Jadi belajar khusus orang-orang special need gt. Tapi, untuk bisa ambil Ausbildung itu harus ada pengalaman kerja dulu. Jadi, untuk pengalaman kerja aku mau kerja sosial dulu di sini namanya Freiwilliges Soziales Jahr atau kalo di singkat namanya FSJ. Di bagian khusus anak-anak special need. Nah, masalahnya adalah... " Arin menarik nafas panjang. Aktifitas di luar berhenti lagi, seolah-olah menanti kelanjutan cerita Arin.

"Masalahnya adalah FSJ yg aku mau, mulainya setiap bulan September. Homestayku selesai bulan Februari. Banyak waktu kosong untuk nunggu FSJ mulai. Pilihannya ada dua. Pertama, klo aku udah fix keterima kerja di FSJ itu, cara buat nunggunya pulang dulu ke Indonesia nanti balik lagi sekitar bulan Agustus ke Jerman. Tapi kalo aku pulang, itu jarak waktunya sampe enam bulan dan bahasa jermanku yg aku pelajari dengan susah payah bisa ilang karena ga di pake di Indonesia selama enam bulan. Sayang, kan.." Arin melirik ke luar jendela, daun-daun di luar bergerak-gerak lagi, seolah-olah setuju.

"Atau cara kedua. Aku ngambil sekolah bahasa jerman di sini. Dan belajar level selanjutnya selama sekitar tiga atau empat bulan. Dua bulan sisa, aku pake buat pulang ke Indonesia dan nanti balik lagi ke Jerman. Tapi konsekuensinya, biayanya jadi mahal. Aku harus punya tempat tinggal sendiri. Dan pastinya biaya kehidupan sehari-hari selama sekolah bahasa, jadi mahal. Aku gamau minta uang ayahku. Kalaupun ayahku ngasih uang, pasti bakal aku pake, klo kepepet aja hehe"

Arin berhenti sejenak. Membuka laptopnya dan mulai mencari-cari lagu. Sambil mengobrak-abrik folder lagu-lagu di laptopnya, dia melanjutkan "Tapi, kok feelingku taun depan bakalan ada yg ngelamar aku ya? HAHAHA" kali ini Arin tertawa kencang. Angin dingin di luar ikut bertiup kencang, dan daun-daunpun ikut bergoyang-goyang, seakan-akan ikut tertawa bersama Arin. "Haha. Das ist lustig, ge? Lucu banget, ya? wkwk"Jari-jarinya sibuk menggerakkan kursor di laptopnya. Lagu yang di cari belum juga ketemu.

Arin berhenti, lalu melirik ke jendela. "Tapi, kira-kira kalo emang beneran ada yg ngelamar, suamiku nanti mau ga ya tinggal di Jerman sementara?hehe Aku dari dulu ngebayangin, kayaknya asik bisa tinggal berdua sama suamiku di luar negeri. Jalan-jalan bareng, travelling bareng di sini. Berkunjung bareng ke keluarga Indonesia lain yang juga tinggal di sini. Pasti asik banget ya? hehe. Tapi, itu seperti ide yg egois ya? hoho Klo suamiku nanti harus meninggalkan segalanya yg sudah dia lakukan di Indonesia cuma demi ikut aku ke sini, sepertinya itu ide yang agak salah, kan? Dan kalo aku memang harus tinggal di Indonesia, berarti kontrak FSJku yg udah aku dapet dengan susah payah, harus di lepas dong, ya? Dan aku ga bakalan bisa ngambil Ausbildung di sini berarti, kan? Bisa aja sih, aku ngelanjutin kuliah di Indonesia. Tapi, dari dulu sebenernya aku maunya jadi orang yg ahli di bagian orang-orang special need. Bukan Psikolog. Kalo di Indo kan, belom ada yg namanya Ausbildung. Belajar khusus gt. Jadi mau gamau aku harus nyelesein kuliah psikologi aku, terus kalo lulus ambil S2 lagi. Buang-buang waktu kan, ya? Kalau ada jalan cepet, kenapa aku harus muter-muter? Dari dulu aku pengen, ketika aku pulang ke Indonesia nanti, aku udah punya ilmu sesuai bidang yang aku inginkan. Bangun tempat khusus buat orang-orang special need yg tidak mampu di Indonesia, memberikan terapi gratis atau semacam itulah hehe. Aku gamau pulang ke Indonesia cuma bekel belajar bahasa Jerman di Jerman. Gak terlalu di pake juga di Indonesia. Toh aku pulang ke Indo bukan mau jadi guru bahasa Jerman.." Arin menarik nafas, lalu kembali melirik ke laptop hitamnya. Lagu yang dari tadi di cari, ternyata dari tadi sudah ada di depan matanya. Dia memencet lagunya. Dan lagu dari Angela Zhang yang berjudul Journey, mengalun pelan dari Windows Media Playernya.

"It’s a long long journey
  Till I know where a I’m supposed to be
  It’s a long long journey
  And i don’t know if I can believe
  When shadows fall and block my eyes
  I am lost and know that I must hide"

"Lalala~" Arin ikut bernyanyi pelan. Daun-daun bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri, kendaraan di luar berjalan cepat seolah menambah nada dalam lagu yang diputar Arin. "Hey, anda. Calon suami yang sudah di persiapkan Allah untuk saya. Yang ntah kapan anda datangnya. I'll sing for you..."
"It’s a long long journey
  Till I find my way home to you
  Many days I’ve spent
  Drifting on through empty shores
  Wondering what’s my purpose
  Wondering how to make me strong
  I know I will falter I know I will cry
   I know you’ll be standing by my side"

Arin menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Badannya kali ini ikut bergoyang. Dia menyanyi bersama daun-daun, angin dingin musim gugur, dan sinar bulan yang terang ikut andil bagaikan cahaya lampu panggung. "Hey, anda! Kenapa saya masih merasa belum pantas untuk menjadi pendampingmu? Kenapa feeling saya selalu membuat saya ragu dan selalu berbisik-bisik di dalam hati bahwa saya bukan wanita terbaik untukmu?"

"Cause it’s a long long journey
  Till I feel that I am worth the price" 

  
Arin lanjut bernyanyi. Angin dingin di luar tiba-tiba bertiup sangat kencang, menggoyangkan daun-daun tak beraturan dan menggugurkan hampir setengah daun-daun di luar. Pertanda sang angin tidak setuju dengan lirik yang baru terucap dari bibir Arin. Sang Bulan meredupkan sinarnya seolah-olah berkata, "Jangan bicara begitu..."

Arin tersenyum simpul dan tetap lanjut bernyanyi hingga liriknya selesai...

"You paid for me on calvary
  Beneath those stormy skies
  When satan mocks and friends turn to foes
  It feel like everything is out to make me lose control
  Cause It’s a long long journey
  Till i find my way home to you. to you..."

Lagu itu selesai dinyanyikan. Aktifitas di luar jendela semakin sibuk. Semakin menunjukkan ke tidak setujuan mereka terhadap lagu yang baru di putar dan dinyanyikan Arin."Kamu salah, sangat salah, Arin" Sang Angin seolah berkata. "Jodohmu, pasti yang terbaik untukmu. Jangan merasa tidak pantas. Allah selalu tahu, selalu tahu apa yang terbaik untukmu.." Daun-daun di luar seolah-olah menasihati. Arin tersenyum kecut. Tak memberikan banyak reaksi, tidak berbicara sepatah katapun untuk membela diri. 

"Tunggu saja, Arin... suatu saat kamu akan tahu bahwa kami benar..." Sang Bulan berbicara melalui sinarnya, seolah-olah berjanji. 

Dan malam itu, mereka melangsungkan aksi protesnya. Badai hebat di luar jendela...

"Yah, suatu saat aku pasti akan tahu...akan tahu... Hal-hal terbaik apa yang akan diberikan Allah untukku..." Ujar Arin dalam hati, ia mengangkat kepalanya dan melihat jendela yang sekarang sudah di penuhi butiran-butiran air yang di hempaskan Sang Angin Dingin, di Musim Gugur tahun ini...

7 comments:

  1. Anakku, bapak selalu berdoa yang terbaik untukmu. Selalu berilah yg terbaik maka kau akan mendapatkan yg terbaik. I miss U

    ReplyDelete
  2. Hiks hiks... Apa yg bs mami bantu Nak untuk kmu?

    ReplyDelete
  3. babe @JamilAzzaini iya makasih ya ayahku sayaangg. Love You too :)*kiss2*
    itu @Anonymous mami yg nulis? aaa, mamiii. bantu doa aja yaa mamiku sayaangg. love youu *hugs2*

    ReplyDelete
  4. mba dhira (atau mba arin? hhe), salam kenal sy iiy dari bandung :) seneng de baca tulisan2 mba dhira. nularin semangat jgn takut ngejar impian walaupun dgn cara yg ga biasa. keren! smg suatu saat bisa se-berani mba dhira hhe

    ReplyDelete
  5. subhanallah cerita mba Dhira, mantep. motivasi bgt, smoga arin kecil sgera dilepaskan dr keraguan., kan ragu-ragu tmennya setan, ehehehe. salam kenal ya mba, sy arin dr yogya ^_^

    ReplyDelete
  6. "Hey, anda! Kenapa saya masih merasa belum pantas untuk menjadi pendampingmu? Kenapa feeling saya selalu membuat saya ragu dan selalu berbisik-bisik di dalam hati bahwa saya bukan ..." #jleb.

    ReplyDelete