Saturday, 25 April 2015

FanFiction : The Last Supper Tragedy

Detective Conan (Written By : Aoyama Gosho)
-Fokus kepada Organisasi Hitam-
Rating : Teen
Judul FanFic : The Last Supper Tragedy
Written by : Nadhira Arini

FanFic ini adalah challenge 'I Tag You' 
dari komunitas islamicotaku.com grup writing.
Di mana orang yang kena tag,
 harus menulis sesuai tema yang diberikan oleh pemberi tag.
Bagi yang kena tag, bisa menunjuk korban selanjutnya setelah tulisannya selesai dibuat (hanya diberi waktu max 4 hari).

Karena orang yang kena tag sebelum gue itu Tuan Mahmuda Rizaldi, 
dan dia dengan resenya nunjuk gue sebagai korban selanjutnya,
maka gue harus berlapang dada menulis sesuai tema yang dia kasih.
Tema yang dia kasih adalah gue harus menarasikan gambar ini :
Lukisan The Last Supper karya Leonardo da Vinci

Setelah gue bertapa sampe jungkir balik...
Alhamdulillah, gue nemu idenya.
Lagi-lagi pas gue lagi di kamar mandi~haha

Maafkan tulisan gue yang seadanya yaa...
Masih belajar buat FanFiction, nih.. >.<
=======================================================
“Mengapa kau mencuri lukisan terkenal ini? Tak biasanya kau terarik pada lukisan?“ Tanya Vermouth kepada Gin yang sedang berdiri mematung memandangi lukisan terkenal yang sekarang menggantung di ruang kerja Gin yang gelap.

Lukisan itu menggantung dengan elegan, seolah memancarkan pesonanya sebagai lukisan terkenal yang diperebutkan banyak orang. Lukisan yang terlihat mencolok di tengah ruangan kerja besar yang gelap. Satu-satunya benda yang diberi cahaya lampu kecil di atas gantungannya. Sengaja ditaruh cahaya untuk menandakan bahwa lukisan itu adalah suatu benda yang penting dan berkelas. Lukisan yang baru saja berpindah tangan dari Gereja Santa Maria delle Grazie di Milan, ke daerah perumahan elit di Tokyo. Lukisan yang menggemparkan dunia, karena kabarnya hilang ntah kemana tanpa jejak, bahkan kamera-kamera dan segala bentuk pengamanpun tak sanggup meninggalkan bukti keberadaan sang pencuri. Lukisan ini hilang meninggalkan sejuta tanda tanya dan tuduhan baru kepada seseorang yang sebenarnya tidak bersalah. 

Kid si Pencuri, pasti biang keladinya.
Begitu semua umat manusia mulai berprasangka. Semua berita memberi tuduhan yang sama. Hilangnya lukisan ini terlalu aneh, terlalu mustahil untuk dilakukan oleh pencuri biasa. Ini pasti masuk dalam salah satu trik sulap sang Phantom Thief. Dunia sekarang menyorot Tokyo secara besar-besaran menunggu perkembangan kabar selanjutnya. Polisi dan Intel bergerak siang dan malam untuk mencari tempat persembunyian sang tertuduh, Kid si Pencuri. Mereka tidak tahu, bahwa itu hanyalah isu kosong yang tak memiliki bukti yang jelas. Mereka tidak akan pernah menyangka dan sedetikpun berfikir bahwa pencurinya adalah salah satu petinggi anggota organisasi hitam yang biasa dikenal dengan kuro no sashiki, bernama Gin.

“Aku mencuri lukisan itu, karena aku mau.” Ujar Gin datar. Tatapan matanya tetap lurus menatap lukisan besar itu.  Rambut panjangnya yang berwarna emas kekuningan, bergerak pelan karena angin yang datang dari jendela besar yang belum sempat ditutup.

“The Last Supper karya Leonardo da Vinci.” Vermouth bergumam sendiri. Wajahnya yang cantik mulai dirasuki tanda tanya. Selalu tidak pernah mengerti setiap hal yang dilakukan Gin, “Kalau begitu aku ingin tahu, memangnya kau tahu apa maksud dari lukisan ini? Jangan bilang tidak. Bodoh sekali kau mencuri kalau tidak tahu makna dari lukisan itu sendiri.” Ujar Vermouth dengan nada putus asa.

Gin masih tidak bereaksi selama beberapa saat sampai akhirnya ia berbalik pergi memunggungi lukisan terkenal itu, “Tidak tahu persis artinya, tapi satu yang aku tahu…itu perjamuan terakhir Yesus sebelum di salib esoknya. Tuduhan panjang untuk Yesus karena adanya pengkhianat oleh salah satu muridnya.” Ujar Gin tanpa menengok kebelakang. Vermouth mendesah ringan, karena ia masih belum mengerti tujuan Gin mencuri lukisan yang biasa disebut dalam Bahasa Italia L’Ultima Cena itu.

“Lalu apa maumu?” Vermouth masih berusaha meminta penjelasan. Gin menghentikan langkahnya, lalu melirik tajam Vermouth hanya dengan sudut mata kanannya, “Aku bukan Yesus dan aku tidak mau mati konyol hanya karena satu pengkhianat bodoh di dalam organisasi kita.” Ujar Gin datar tapi menusuk, “Kita berdua tahu siapa pengkhianat di organisasi ini. Beberapa hari lagi, bisa aku pastikan, ia menikmati hidangan terakhirnya persis seperti di lukisan itu. Aku ingin membuat suatu hidangan terakhir untuknya, persis seperti yang ada di lukisan itu sebelum ia mati. Aku juga ingin dia berfikir bahwa ia dalam posisi aman dan aku yang esoknya akan mati karena isu bodoh yang ia ciptakan.” Kali ini Gin menyeringai lebar, “Tapi ingat nona…sekali lagi aku bukan Yesus yang rela di salib demi umatnya katanya. Zaman sudah berubah, yang tertuduh akan berganti menjadi yang menuduh. Sang pengkhianat yang harus mati di tiang salib. Menggantikanku yang seharusnya mati di sana karena tuduhannya.” 

Gin sekarang membalikkan tubuhnya kembali, tetapi bukan menghadap lukisan itu. Ia berdiri persis di hadapan Vermouth, “Dan kau, Vermouth.” Ujarnya dingin, “Aku perintahkan kau untuk membantuku mengeksekusi semuanya. Kalau kau berani-beraninya berkhianat juga, bisa aku pastikan akan ada dua salib di sebelah lukisan yang katanya berharga itu! Aku sudah tidak peduli dengan cerita asli lukisan itu, kalau kau berani-beraninya berkhianat! Yang berkhianat harus mati di tanganku, termasuk kau tanpa terkecuali! ” Gin berucap sedikit membentak sambil menunjuk lukisan yang menggantung di ruang kerja gelapnya. Kedua matanya berkilat seperti petir yang muncul di tengah badai. Vermouth menggerakkan tubuh langsingnya mundur, karena terkejut dengan aura membunuh Gin yang datang tiba-tiba. Ia tidak mengucapkan sepatah katapun, Gin akhirnya membalikan badannya dan pergi masih dengan aura dendam yang membara.
****
Kichiro Numabuchi, tertawa terbahak-bahak karena merasa berhasil mengelabui atasannya, Gin. Pengkhianatan yang ia buat memang sudah pasti tidak akan diampuni. Tetapi ia bangga, karena ia yakin tidak akan ada seorangpun di organisasinya yang mengetahui pengkhianatannya. Kalau Shuichi Akai saja bisa kabur dari organisasi mengerikan ini, pasti ia juga bisa.

Kali ini, ia berdiri menunggu dua orang di atas atap bangunan tinggi. Satu pria yang ia tunggu sudah datang dari tadi. Yang satunya lagi, ternyata baru datang bersamaan dengan sinar bulan purnama yang datang tiba-tiba setelah lama tertutup awan. Setelan jas putih sutranya berkibar tertiup angin malam, ia berdiri persis di sebelah lelaki seusianya yang datang lebih dulu, Shinichi Kudo.

“Jadi…” Ujarnya dengan nada marah yang dipaksakan untuk tenang, “Bukan ide yang bagus menjadikanku sebagai sang tertuduh. Rencanaku yang lain terpaksa tertunda karena dituduh mencuri lukisan terkenal bodoh yang bahkan aku sendiri tidak pernah menyentuhnya.” Pemuda dengan jas putih itu berkata gusar. Shinichi menggerakkan tangannya untuk menahan pemuda yang berdiri disebelahnya agar tidak melakukan tindakan konyol, “Sabar dulu, Kid. Biarkan dia memberikan penjelasan.”

Kichiro Numabuchi berdiri gugup karena khawatir kedua pemuda di depannya ini tidak mempercayainya lagi. Rencana yang sudah ia susun masak-masak untuk kabur dari organisasi itu, bisa gagal total kalau Shinichi dan pencuri handal yang sedang marah-marah ini berubah pikiran, “Gin yang mencuri lukisan itu. A-aku tidak tahu maksudnya apa, tapi aku sempat lihat lukisan besar itu ada di ruang kerjanya.” Kichiro menghapus keringatnya yang sempat mengalir dari dahinya, “Lukisan itu besar sekali kau tahu. Sangat mencolok bagi siapapun yang ada di sana.”

Shinichi mengusap lembut dagunya tanda sedang berfikir keras, “Apa maksudnya ia mencuri lukisan itu? Gin pasti punya rencana terselubung.” Kichiro mengangkat bahu tidak mau tahu, “Aku tidak peduli dengan itu semua. Ini bukan pertama kalinya organisasi kami mencuri sesuatu. Banyak misi rahasia yang bahkan aku tidak diberi tahu.” Kichiro menarik napasnya sesaat, “Jadi, kalian sudah melaporkan apa yang aku ceritakan beberapa minggu kemarin kepada Inspektur Megure dan agen FBI yang lainnya?”

Kid si pencuri mendesah bosan, Shininchi Kudo mengangguk ringan, “Sudah. Kalau ceritamu itu benar, semua anggota organisasi itu bisa ditangkap di tempat yang kau ceritakan dan Gin lah yang akan mendapatkan hukuman paling berat diantara mereka semua. Bisa jadi ditembak mati, melihat kejahatan yang dilakukannya.”

Kichiro menyeringai puas, “Bagus. Itu yang kuharapkan. Jangan sampai rencana ini bocor. Mereka orang-orang professional yang sulit sekali untuk dikelabui. Bisa-bisa aku yang mati.”

Kid sang pencuri handal menatap Kichiro dengan pandangan meremehkan, “Masa bodoh dengan itu semua. Aku tidak mau tahu, namaku harus bersih dari tuduhan mencuri lukisan raksasa itu.” Ujarnya tajam, “Aku beri waktu sampai minggu depan, kalau namaku belum bersih juga, anggap kesepakatan kita batal. Jangan pernah berfikir kembali kalau aku akan dengan suka rela menyelamatkanmu ketika kau butuh bantuan saat mencoba kabur di hari naas beberapa minggu lagi.” Kid lalu bergerak ke arah ujung dan bersiap pergi dengan gantolenya, “Sampai bertemu kembali kapan-kapan. Jangan harap suasana hatiku kembali membaik selama namaku belum bersih.” Lalu ia pun pergi, lagi-lagi ketika bulan purnama muncul kembali dibalik awan.

Tak berapa lama, Shinichipun menyusul pergi, lalu disusul Kichiro yang turun ke lantai bawah dengan tawanya yang memenuhi seisi gedung yang tak berpenghuni. Mereka tidak tahu, diujung atap terdapat sekat besar yang cukup untuk tempat persembunyian seseorang. Bourbon, anggota baru organisasi hitam berdiri disana sejak tadi, melaporkan secara langsung pembicaraan rahasia ketiga orang itu kepada Gin dan anggota organisasi hitam yang lainnya.  
****
Jamuan makan malam di rumah besar itu, berjalan sempurna. Lukisan curian yang tadinya berada di ruang kerja Gin, sekarang sudah berpindah posisi menjadi di ruang makan. Para anggota organisasi hitam itu, duduk persis di depan lukisan besar The Last Supper karya Leonardo da Vinci dengan posisi sama persis seperti yang ada di lukisan terkenal tersebut. Sudah pasti, Gin berada di tengah dan Kichiro tanpa sadar duduk di kursi yang posisinya sama dengan Yudas Iskariot. 

Di pertengahan makan malam, Gin meminta salah satu orang anak buahnya untuk mengatur kamera agar mereka bisa berfoto bersama, dengan pose persis seperti lukisan di belakang mereka. Kichiro tidak terlalu curiga maksud tersembunyi Gin. Ia hanya menduga, ini hanya ulah iseng Gin yang memiliki karakter aneh.

Selesai berfoto, semua makan dengan elegan tanpa banyak bicara. Hanya Gin yang sesekali bersuara untuk memastikan rencana mereka berjalan minggu ini sesuai rencana. Kichiro tersenyum culas secara sembunyi dan menutupi senyumannya dibalik gelas yang sedang ia teguk airnya.

Hanya hitungan detik sampai senyuman culas itu berubah menjadi teriakan kesakitan Kichiro. Minuman itu diberi semacam obat jenis terbaru yang dapat membuat orang yang meminumnya merasakan kesakitan yang amat sangat dan tidak akan sadar selama beberapa hari. Penemuan terbaru sang anggota baru, Bourbon. Sangat efektif menyiksa Kichiro dalam sekejap.

Gin tidak perlu menunggu lama untuk menyaksikan Kichiro terdiam tak bergerak. Ia tersenyum puas mendekati Kichiro yang terbujur kaku seperti mayat dengan raut muka masih menggambarkan kesakitan yang amat sangat, “Kalian semua…bawa pengkhianat ini ke Gereja Santa Maria delle Grazie di Milan, Italia. Bawa kembali lukisan raksaksa itu kembali ke sana, tempatkan ditempat seharusnya.” Ujar Gin dingin. Lalu ia melanjutkan dengan raut muka tanpa ekspresi, “Jangan lupa, ketika ia sadar, salib ia langsung. Gantung ia sampai meregang nyawa di sebelah lukisan besar itu.“  

Semua yang ada di sana mengangguk cepat dan melakukan apa yang diperintahkan Gin. Vermouth berjalan paling terakhir keluar ruangan tanpa banyak bicara,“Vermouth.“ Panggil Gin. Vermouth membalikkan badannya ke arah Gin, menaikkan alisnya menunggu Gin berkata lebih lanjut, “Jangan lupa, buat seolah-olah Kid si Pencuri dan Shinichi Kudo yang mencuri lukisan itu dan membunuh sang pengkhianat, Kichiro Numabuchi. Aku dengar, mereka sedang dalam misi rahasia di Italia untuk lebih lanjut menyelidiki caraku mencuri lukisan itu. Tidak ada yang tahu mereka di sana. Saat yang tepat untuk menjadikan mereka tersangka pelaku pembunuhan dan pencurian. Kalau polisi dan FBI tidak bisa menangkapku, biarlah kekesalan mereka dibalas dengan menangkap dua pemuda itu. Cukup adil, bukan?“

Bibir merah menyala Vermouth tersenyum menggoda, “Tentu, bisa diatur.“
****
Lonceng Gereja Santa Maria delle Grazie berdentang kencang, sekencang teriakan orang-orang yang melihat mayat manusia disalib di sebelah lukisan The Last Supper yang sempat hilang. Diujung mayat yang disalib itu, terdapat kertas berukuran sedang bertanda tangan khas Kid si Pencuri beserta pesannya :

“Aku kembalikan, apa yang sudah menjadi milik kalian…
Aku berikan, apa yang seharusnya terjadi setelah kejadian dalam lukisan…
Aku tidak sendiri. Pencurianku selalu dilindungi oleh detektif terkenal Kota Beika.
Dia ada, karena aku ada.
Orang itu mati, karena ia mengganggu kami mencuri.
Orang ini adalah suatu peringatan dari kami.
Bahwa jangan pernah mengganggu kami, 
kalau tidak ingin berakhir seperti orang ini…“

Salam kenal kembali,
-Phantom Thief & S.K-

****
Ribuan kilometer jauhnya dari Kota Milan, Gin berdiri memandang hasil foto besar di dinding ruang kerja gelapnya. Pose para kawanan anggota Organisasi Hitam yang dibuat persis seperti lukisan The Last Supper karya Leonardo da Vinci. Foto yang sengaja ia buat untuk memperingatkan anggota Organisasi Hitam yang lain bahwa siapapun yang berkhianat akan berakhir seperti Kichiro Numabuchi yang berperan menjadi Yudas Iskariot di dalam foto itu.

Sayup-sayup dari radio yang ia nyalakan dengan volume sedang, terdengar berita yang tiada hentinya bahwa Shinicho Kudo dan Kid si pencuri adalah tersangka utama kasus pembunuhan dan pencurian di Gereja Santa Maria delle Grazie, Italia. Berita itu seolah menjadi nada-nada indah di telinga Gin. Seperti musik klasik yang selalu ia dengar di waktu senggang.


“Maka sang tertuduh akan berganti menjadi yang menuduh. Sang hitam, akan menodai sang putih. Awan cerah akan tergantikan dengan angin puyuh. Jadi, jangan bermain-main denganku, wahai orang-orang bodoh…“

Gin tertawa terbahak-bahak di ruangan kerjanya. Lalu pergi meninggalkan foto berukuran besar menyedihkan itu. Tak jauh di bawah foto itu, terdapat judul foto berukuran sedang yang ia buat sendiri. The Last Supper Tragedy namanya. Dan memang foto itu hasil sebuah tragedi...

21 comments:

  1. Ka dhiraaaaaa keren banget idenya :D

    ReplyDelete
  2. Eh, kok kepikiran sih sampe bikin cerita kayak gini dari gambar kayak gitu.. Keren sumpah. Sebagai fans berat Kid The Phantom Thief, aku jadi terharu.. Tapi gak terima juga kalo Kid dtuduh gitu.. Hahhaha.. Nice post dhir :)

    ReplyDelete
  3. lagi-lagi nemu idenya pas lagi di kamar mandi? ada apa dengan kamar mandi mba? :D

    ReplyDelete
  4. Milan di spanyol y mba?? Koreksi dkit...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi Keren ceritanya...

      Delete
    2. Iyaaa, makasih bngt koreksinya yaa :D
      sebenernya sy sdh sadar dr dulu, cuma belum sempet diganti terus T,T

      Thank youuu :D

      Delete
  5. di tunggu terus postingan terbaru nya,,,

    ReplyDelete
  6. With the full support of people nearby so can the spirit? thank you very much for helping

    ReplyDelete
  7. This site always provide useful information every day thanks .

    ReplyDelete
  8. To this day I say thank you for having given information that really means a lot .

    ReplyDelete
  9. An information is a very nice thank you for presenting it.

    ReplyDelete
  10. This morning happy because with the information that is so very nice.

    ReplyDelete