Tuesday, 28 April 2015

Puisi : Lautan Kerinduan


Hari ini ketika lautan sedang tenang,
ketika sang langit sudah menghentikan tangisnya,
ketika sang rembulan kembali berani memunculkan sinarnya,
izinkan aku, menatap langit di atas sana,
menerka-nerka keberadaanmu sekarang di mana...

Langit malam yang kelam, menemaniku dalam diam.
Pasti selalu ada alasan, mengapa Tuhan masih menjaga namamu siang dan malam.
Ketika rindu akan sosokmu, sering datang bersamaan dengan angin laut yang datang dengan kejam,
tak ada yang bisa kulakukan selain membalut sang rindu, dengan doa dalam tangisan yang turun bagaikan arung jeram.

Bahkan jejakmu di mana, aku tak tahu.
Seperti apa sosokmu, aku hanya bisa menggeleng layu.
Bahkan hantaman ombak di kapalku, 
selalu berhasil menghancurkan imajinasiku tentangmu.
Tapi, apa dayaku?
Aku selalu merindukanmu...

Merindukanmu, yang bahkan aku tak tahu namanya.
Mencarimu dengan kapalku, yang bahkan aku tak tahu arahnya di mana.
Mengharapkan kehadiranmu, yang selalu aku rindukan sosoknya.

Aku yakin, kau juga merasakan rindu yang sama.
Sama-sama sedang mengarungi samudera, mencari sosokku yang kau juga bingung ada di mana.
Hanya Tuhan, satu-satunya kompas kita berdua.
Hanya Tuhan, nahkoda yang mengarahkan kapal masing-masing kita. 

Kamu, sang bintang kerinduan.
Kamu, sang pangeran pilihan Tuhan.
Datanglah sebagai cahaya dibalik kabut kegelapan.
Mungkin saat itu, adalah saat yang tepat menurut Tuhan.
Ketika kita dipertemukan di tengah lautan.

6 comments:

  1. Nah kan bisa kan bikin puisi :)) sering2 baca buku puisi dhir. . Jangan lupa main ke jok-belakang.blogspot.com eaakk ahahha

    ReplyDelete
  2. du bist so süß diiir... Mantabsssslaah puisinya :'')

    ReplyDelete
  3. kata-katanya bagus bener mba hebat deh :)

    ReplyDelete