Tuesday, 7 April 2015

#Kisah Az & An 5 : Perpaduan Dua Tulisan Usang

“Aku mencintaimu, apa kamu juga?“
“Iya.“

Selembar kertas lecek dengan dua tulisan tangan berbeda ini, kemudian dibalik ke halaman belakangnya. Halaman dibaliknya tidak jauh berbeda. Berisikan beberapa kalimat berantakan yang ditulis ketika bosan.

Tulisan yang seharusnya hanya ditulis oleh satu orang. Tulisan yang harusnya tidak ada jawaban dibawahnya. Tulisan yang tertulis di kertas robekan lecek yang siap dibuang. Tulisan yang terlihat saling berkesinambungan satu sama lain, antara pertanyaan dan jawaban aneh orang misterius ini. Tulisan yang aslinya tidak menunggu jawaban, karena itu hanya pertanyaan-pertanyaan yang ditulis iseng ketika sang wanita sedang melamun menunggu sahabatnya.

Tapi ntah kenapa, ada tulisan lain yang tiba-tiba ikut ada di sana. Menjawab semua pertanyaan asal wanita itu. Seperti tulisan pria, bukan wanita.

“Dia datang bersama hujan. Dia anugerah buatku bukan, ya?“
                                                             “Bisa jadi.“
“Dia berani datang ke ayahku ga, ya?“
“Berani. Tapi belum tentu, 
ayahmu menerimaku yang masih seperti ini keadaannya.“

“Yang suka sama dia kayaknya banyak deh, masa dia suka aku juga?“
                               “Kamu fokusku. Dan akan selalu begitu.“

“Kalau dia berani datang ke ayahku lalu di tolak bagaimana perasaannya, ya?“
“Rrrr, hancur. Tapi percayalah, aku akan bangkit kembali.
Untuk mendapatkan wanita sepertimu,
aku tahu aku harus berjuang keras memantaskan diri.
Kalau sekarang aku ditolak, 
mungkin kata Allah, aku belum pantas mendapatkanmu sekarang.
Mungkin di lain waktu. Ketika di mana Allah bilang aku siap
dengan kondisiku yang jauh lebih baik lagi dan kamu ternyata masih sendiri.
Aku akan datang lagi, menemui ayahmu.
Semoga pada saat itu, 
Allah memberikan kuasanya mempersatukan kita berdua.“

“Ahahaha, ga mungkin banget dia dateng lagi. Pasti dia udah nemu cwe lain. Mustahil.“
“Percayalah, mungkin aku akan datang kembali.
Pasti akan ada banyak orang yang menjodohkanku dengan wanita lain.
Aku akan terus berusaha mencari yang terbaik,
siapa tahu memang bisa cocok dengan wanita lain.
Tapi kalau pada akhirnya, tidak ada yang cocok
dan Allah menggerakkanku ke arahmu lagi, yaaa mau bagaimana lagi?
Aku pasti datang kembali, meyakinkan ayahmu sekali lagi.“

“Eh tapi klo beneran dateng lagi gimana? Kok jadi kayak di sinetron-sinetron gitu ceritanya?? AHAHAHA. Aneh bener.“
“Lagunya Afgan : Jodoh Pasti Bertemu.
Kalau bukan wanita lain, aku yakin pasti kamu, Dhira.“

Aku membaca ulang kertas kumal, lecek yang usianya sudah bertahun-tahun itu. Kertas yang tadinya terbang tertiup angin, ketika aku sedang kesal karena kepanasan menunggu sahabatku di suatu halte bus. Kertas yang sudah aku lupakan keberadaannya, karena itu hanya berisi coret-coretan isengku ketika aku bosan menunggu Echa datang.

Tiba-tiba, kertas itu kembali hadir. Tepat ketika pesta pernikahanku sudah selesai. Pria itu menyerahkan kertas itu dengan tangan gemetar. Aku hanya menatap kertas itu tidak percaya. Kertas yang kusangka hilang begitu saja bersama angin kencang waktu itu, sekarang sudah ada di tanganku lagi beserta jawaban yang tidak pernah aku duga sebelumnya.

Hanya air mata yang bisa turun bak air terjun yang tidak dapat dibendung lagi. Ntah mengapa, aku masih menyimpan kertas kumal itu sampai sekarang. Di saat aku sudah mempunyai anak kembar nan cerdas, di saat aku sudah menikah selama bertahun-tahun.

Kertas itu masih ada. Aku simpan dengan hati-hati ditempat terbaik, agar tidak rusak. Mataku tertuju pada kalimat terakhir jawaban surat dari pria itu, “Kalau bukan wanita lain, aku yakin pasti kamu, Dhira.“

Dan memang tidak ada wanita lain. Hanya aku, sang titik fokusnya. Jodoh pasti bertemu kalau kata lagunya Afgan. Pangeranmu pasti akan Kuberi tepat waktu, kalau kata Allah.

Dia, sang pria yang memberikan kertas itu dengan gemetar setelah pesta pernikahan.
Dia, sang pria misterius yang menemukan kertas kumal, kucel yang terbang bersama angin kencang.
Dia, yang perasaannya tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang.
Dia, yang ntah kenapa ketika kertas itu terbang, berada tidak jauh dari tempat aku duduk dan berhasil memungut kertas yang terbang itu.
Dia, suamiku sekarang. Ayah bagi si kembar, Az dan An.

Aku memandang dari jauh suamiku yang asik bermain dengan si kembar di taman bermain. Skenario dari Allah memang indah ya, sayang. Sepertinya tidak masuk akal jika diceritakan ulang. Tapi kejadian ini nyata dan kita berdua sama-sama tidak menyangka.

Memang, hanya Allah-lah Sang Maha Pemberi Kejutan yang Manis :)

Taman Bermain,
tanggal sekian-bulan sekian-tahun sekian,
Terima kasih, karena selalu menjadikanku titik fokusmu.
Sayangku selalu untukmu, suamiku - Ayah bagi si kembar Az dan An.

***********************************************
Kisah 1, Az dan An : Aku, Sang Titik Fokus 
http://www.nadhiraarini.com/2015/02/aku-sang-titik-fokus.html )
Kisah 2, Az dan An : Percobaan Roket ( http://www.nadhiraarini.com/2015/02/percobaan-roket.html )
Kisah 3, Az dan An : Bunda dan 4 Kata Ajaib (http://www.nadhiraarini.com/2015/02/bunda-dan-empat-kata-ajaib.html)
Kisah 4, Az dan An : Maafin Kami ya, Bunda...

7 comments:

  1. Replies
    1. Terima kasih sudah menyempatkan bacaaa :)

      Delete
  2. Asik baca tulisan tulisan mbak...

    ReplyDelete
  3. hahaha selalu asik masuk ke hati...

    ReplyDelete
  4. Subhanallah....Aamiin smg Allah mengabulkan





    ReplyDelete
  5. Aku selalu suka sama tulisannya mbak Dhir .. :) menyentuh :)

    ReplyDelete