Monday, 23 February 2015

#Kisah Az & An 3 : Bunda dan Empat Kata Ajaib

Aku berjalan ke arah ruang keluarga karena mendengar keributan kecil di sana. Di sana, dua anak kembarku sedang sibuk bertengkar meributkan sesuatu. Ingin rasanya aku berlari untuk melerai mereka berdua. Tapi ntah hati ini seolah-olah memintaku untuk mendengarkan dahulu dari jauh, apa isi perdebatan hebat kedua anak kembarku ini.


Mereka berdua duduk di atas karpet berbulu lembut berwarna abu-abu. Si kembar mengenakan baju lengan panjang kesukaan masing-masing. An lebih senang memakai baju berbahan kaos yang panjangnya menutupi tangannya sendiri. Sedangkan Az lebih suka memakai baju lengan panjang berbahan wol rajutan ibunya, yang panjangnya melebihi pergelangan tangannya.

Di sana, An sedang menarik kerah baju wol hitamnya Az sampai hampir belel. Yang ditarik bajunya hanya diam pasrah sambil garuk-garuk kepala, “Kamu sih, Az. Gara-gara kamuu, siih! Nantangin bunda segalaa. Susah kann, jadinyaa. Ini jawabannya apaaa?? UUHHH.“ Teriak An kesal. Lalu ia menendang kaki Az yang sedang duduk bersila dan akhirnya An guling-guling di atas karpet karena frustasi.

“Yaa abisnya kan ga seru kalo cluenya gampaangg, An. Masa kayak cluenya para ibu temen kita yang lain, cemen banget. Gampang ketebak. Kali-kali dong, mintanya yang susah. Biar kitanya mikir terus jadi tertantang gituu.“ Az membela diri. Kali ini, Az menyilangkan kedua tangannya di dada. Tidak merasa bersalah sama sekali.

“Iya tapi kan bunda itu paling jago buat kode-kode yang susah gituuu. Tuh, gara-gara kamu minta bunda kasih clue yang susah, jadi dibuatin yang susah beneran, kaan?? Terus apa sekarang jawabannya, APAAA?? Ntar klo salah ngasih bunga ke bunda, gimanaa??” An berteriak lagi. Kali ini tangannya menarik-narik lengan Az.

Az cemberut, “Ya kalo gitu kita pecahin clue dari bunda bareng-bareng, An…walaupun susah. Kalau salah, ya…ya…jadi malu sih, emang. Tapi kan yang jelas udah usahaa.” Az masih beralasan.

An semakin kesal, kedua tangannya di angkat ke atas dan sudah siap akan mencakar dan menerkam saudara kembarnya. Aku keluar dari persembunyianku, berlari terburu-buru, lalu langsung menangkap An agar tidak sempat melukai kembarannya, “Hey, An kenapa, nak? Anak ayah ini kenapa kok malah bertengkar begini dari tadi?” Tanyaku bingung.

Az masih duduk bersila dengan tangan menyilang di dada, keningnya berkerut. An meronta-ronta ingin lepas dari gendonganku, “Itu pokoknya, Az nyebelin, yaah. NYEBELIN pokoknya!” Teriak An histeris.

“Coba Az jelasin ke ayah, ini kenapa An sampai kesal begini?” Tanyaku tegas. Az mendelik sebal lalu mencoba menjelaskan, “Kan gini, yah..di sekolah nanti mau diadain peringatan hari Ibu gitu kan. Naah, anak-anak di sekolah termasuk kita berdua…diminta untuk buat dan bacain puisi buat ibu samaaa kasih bunga ke ibu kita masing-masing gitu.” Az menarik nafas sesaat, lalu melanjutkan, “Cumaa, ga boleh sembarangan kasih bunga. Kita sebagai anaknya, harus kasih bunga kesukaan ibu kita masing-masing. Tantangannya tapinya, sang ibu ga boleh langsung kasih tahu bunga kesukaannya itu apa, yah. Harus ngasih taunya pake clue. Nanti biar anaknya sendiri yang nebak, bunga kesukaan apa yang ibunya maksud dalam clue tersebut.“

Aku mulai paham sedikit maksud Az, “Terus masalahnya di mana?“ Tanyaku masih penasaran.

Kali ini An yang melanjutkan, masih sambil marah-marah, “Masalahnya adalah Az banyak gaya, yaah. Pake nantangin bunda supaya kasih clue ke kita yang susah. Biar tertantang katanya. Gara-gara ibunya temen-temen kita ngasih clue ke anaknya gampang banget. Kayak ibunya si BumBum masa ngasih cluenya begini doang : Merah - Bunga dengan batang berduri atau ibunya si Jemy kasih clue : Warna-warni – Bunga khas Belanda. Itu juga anak TK juga tauu. Gampang banget.“ Jawab An berlebihan. 

“Iyaa bunga khas Belanda yang ada di Taman Kukunhoff. Warna warni, gampang banget.“ Ujar Az mulai sok pintar.

Aku tersenyum, “Keukenhof, nak. Taman di Belanda, khusus bunga-bunga itu namanya Taman Keukenhof bukan Kukunhoff. ” Ujarku mengoreksi.

“Iya, yah. Taman Kukinhof.” Serobot An ngaco, karena tidak sabar, “Masalahnya bukan di situ, yah. Masalahnya adalah bunda beneran ngasih clue yang susah banget. Kita kan tau sendiri yaah, bunda paling jago buat kode-kode begituan. Nyebelin, sekarang kita berdua ga tau itu cluenya bunda maksudnya bunga apaan. SUSAH BANGEETT. HUAAAAA. Ntar kalo salah kasih bunga ke bunda, gimanaa?? GAMAUU. HARUS BENERR!! MALUU KALO SALAAHH. AN PENGEN BIKIN BUNDA SENENG DI HARI IBUUU.” Teriak An histeris. “SEMUA INI GARA-GARA AZ POKOKNYAA. GAYA BANGET SIH, PAKE SEGALA MINTA CLUE YANG SUSAH KE BUNDAAA.” Teriak An makin menjadi.

Kening Az makin berkerut karena kesal, bibirnya cemberut, “Aaah, udah ah. Mending pake jalur singkat ajaa. Nanya ke ayah. Kan ga ada aturannya klo kita ga boleh nanya ke ayah kaan.” Ujar Az membela diri.

An tiba-tiba diam, lalu melirik kepadaku. Matanya berbinar-binar penuh harapan, seolah-olah aku bisa menjawab pertanyaan terbesar mereka sekarang, “Kalau begitu, ayah tahu ga bunga kesukaan bunda itu apa?” Tanya An penuh harapan.

Pertanyaan itu tiba-tiba membuatku merasa sesak nafas. Aku baru sadar, sudah bertahun-tahun aku menikah dengan istriku, tidak pernah sekalipun aku memberikannya bunga. Bahkan, bunga apa yang ia suka pun, aku tidak tahu dan tidak pernah berusaha untuk mencari tahu. Seakan seperti terlena, karena istriku tidak pernah meminta dibelikan hadiah apapun. Akupun jadi tidak pernah terfikirkan untuk memberikan hadiah apapun.

Hari ini sepertinya Allah ingin menamparku melalui pertanyaan sederhana kedua anakku. Seolah Allah ingin menunjukkan bahwa aku sudah terlalu lama terlena, tidak terlalu memperhatikan dengan detail apa yang istriku suka. Tamparan ini sungguh menyakitkan, membuatku terjatuh keras dengan luka hati yang tergores. Tatapan kedua pasang mata si kembar yang mengharapkanku memberikan jawaban yang mereka nanti-nantikan menambah sakitnya hatiku ini, “Ayah…tidak tahu, nak.” Jawabku tercekat. Tenggorokkanku tiba-tiba seperti ada yang mengganjal, hatiku semakin tergores karena kebodohan yang aku buat sendiri.

Ya, aku suami yang kurang perhatian terhadap istri sendiri…
Ya, aku suami yang tidak peka karena ingin selalu diperhatikan…

Aku ingin kabur, tidak ingin melihat tatapan kecewa dua pasang mata yang tadinya berbinar-binar ingin tahu. Ingin menangis rasanya, melihat cahaya di kedua mata si kembar meredup tiba-tiba, lalu pundak mereka turun seketika karena kecewa mendengar jawabanku yang di luar dugaan mereka. “Ayah, bagaimana? Masa bunga kesukaan bunda, ayah ga tahu? Waktu di hari pernikahan bunda sama ayah, memangnya ayah ga ngasih bunda satu buket bunga gitu? An inget, waktu Om Izzan nikah, Om Izzan ngasih sebuket Bunga Mawar putih untuk istrinya. Ayah ga pernah? Satu kali pun?” Tanya An bertubi-tubi, kecewa. Hatiku semakin sakit. Aku suami macam apa…

Az membetulkan posisi sweaternya yang miring karena tadi di tarik paksa kembarannya. Keningnya lagi-lagi berkerut karena otaknya berfikir keras, “Om Asa bilang, lelaki yang memberikan bunga kepada istrinya itu adalah lelaki romantis. Ayah ga pernah, berarti ayah ga romantis.” Ujarnya datar. Hatiku ditusuk lagi. Perih.  

An bergerak ke atas meja, mengambil selembar kecil kertas putih yang terdapat beberapa baris tulisan khas istriku, “Kalau gitu, ayah tolong bantuin kita berdua, mecahin clue yang dibuat bunda. Ini maksudnya, bunga kesukaan apa yang bunda maksud di dalam cluenya, yah?”

Aku mengambil kertas putih itu dengan tangan bergetar. Berharap semoga aku bisa menjawab clue yang dibuat istriku sendiri. Aku tidak mau gagal lagi. Aku tidak mau melihat tatapan kecewa kedua anakku lagi. Aku harus tahu jawabannya.

Di kertas itu, clue yang istriku buat tidak banyak. Hanya empat kata : Weiß – Fleur de Lys. Dan aku jatuh untuk kedua kalinya. Aku tidak tahu apa maksudnya. Seperti bahasa asing, tetapi aku tidak tahu itu bahasa apa. 

Aku menarik nafas berat, berusaha mengumpulkan tenaga untuk berbicara, “Ayah…tidak tahu, nak.” Lagi-lagi kalimat itu yang keluar. Kalimat bodoh, kalimat terkutuk untuk situasi seperti ini.

An berdiri sekarang, marah. Matanya berkilat-kilat karena kesal. Aku tak sanggup menatap An, lalu pandangan mataku bergerak ke arah Az. Tatapan mata Az dingin, seakan menusuk menembus pertahanan tubuhku. Aku tahu, sudah sepantasnya aku dihukum, bahkan oleh anakku sendiri. Si kembar benar-benar menyayangi bundanya. Selalu ingin memberikan hadiah yang terbaik yang bundanya suka. Aku tahu, betapa berartinya bagi mereka berdua, memberikan bunga yang disukai ibunda tercintanya. Mereka tidak ingin salah menjawab clue dari bundanya. Harus memberikan bunga yang benar, harus membuat ibundanya senang. Berbeda denganku yang selama ini sibuk sendiri, tidak tahu diri. Maunya senang sendiri.

“AYAH, PAYAH!” Teriak An histeris, lalu berlari ke arah kamar bermain dan membanting pintunya keras. Az mengambil kertas berisi clue dari bundanya yang masih aku pegang, melihatku sekilas tanpa berkata apa-apa, lalu pergi ke kamarnya dengan membanting pintu.

Tinggal aku sendiri, di atas karpet abu-abu ini. Duduk terdiam menyesali apa yang terjadi. Ini memang hanya persoalan sepele, hanya persoalan bunga kesukaan. Tapi dampaknya besar sekali bagiku dan kedua anakku.

Aku terlalu sibuk dengan duniaku, hampir tidak peduli dengan dunia anak-anakku dan istriku sendiri. Banyak hal sepele yang semakin lama semakin aku lupakan. Apa makanan kesukaan Az dan An, mereka sekarang ada di kelas berapa, istriku sedang senang membuat masakan apa, anak-anak senangnya diajak jalan-jalan kemana, hampir semuanya aku lupa. Aku bodoh, aku merasa tidak becus sebagai suami dan sebagai seorang ayah.  

Hari ini aku disadarkan. Benteng pertahanan keras hati ini perlahan mulai hancur lebur menjadi bubur. Air mataku turun deras di pipiku. Hari ini, aku menangis…

****

An mengurung diri di kamar bermain. Hatinya kesal luar biasa. Kesal karena ayahnya payah, kesal karena kembarannya itu sok pintar. An duduk diam di sudut ruangan, pandangan matanya menjelajah kamar bermain. Sebagian tembok di bagian pinggir kamar bermain, banyak tempelan beberapa kosa kata dengan bahasa asing yang ditempel bundanya.

Ia berdiri, ntah kenapa penasaran ingin bergerak ke sana. Semakin dekat, semakin terlihat judul besar kata di tempelan kosa kata yang ternyata dalam Bahasa Jerman. “FAR-BEN.” Ujar An mengeja. An memiringkan kepalanya ke arah kiri. “Farben dalam Bahasa Jerman itu artinya warna-warna. Bunda dulu ngajarin tiap hari warna-warna dalam Bahasa Jerman.” Ujarnya bicara sendiri. 

Di tempelan itu, banyak berbagai jenis warna yang di bawahnya ada keterangan nama warna dalam Bahasa Jerman. “Schwarz itu hitam…” An berkata sambil menunjuk-nunjuk warna hitam yang ada di tempelan Berbahasa Jerman itu. “Grün itu hijauuu. Warna kesukaan bunda.” Ujar An sambil tertawa. Pandangan matanya bergerak ke arah tengah dan matanya tiba-tiba terbelak, “Weiß itu di bacanya waiss. Itu tuh warna…OH MY GOD, KENAPA GA KEPIKIRAN DARI TADII!! ” Teriak An tidak percaya. 

An berjalan mundur, lalu membalikkan badannya ke arah pintu. “AZ AZ!! AKU TAU AZ, MAKSUD BUNDAA YANG KATA ‘WEIß‘ ITUU, AZZ!!” An teriak-teriak girang dan masuk ke kamar di mana Az berada.

Az yang sedang tiduran di atas tempat tidur, langsung terduduk. Matanya membelak, “Emang apa, An? Dapet dari mana?”
An mendekat dan duduk di atas tempat tidur Az, “Weiß itu salah satu warna dalam Bahasa Jerman, Az. Aku tadi ga kepikiran ke sana, padahal kita berdua kan udah hafal warna-warna dalam Bahasa Jerman kan, Az.”
Az menepuk tangannya sendiri, “A-HA! Iyaa bener An, itu kan artinya warna ituuu. Ya ampuun, aku ga kepikiran sampe sanaa, An! Keburu stress duluan ngeliat clue dari bundaa. AHAHAHA” Lalu tiba-tiba Az terdiam, sibuk menganalisa sesuatu, “Tapi Fleur de Lys itu bahasa apaan ya, An? Perasaan Bahasa Jerman itu ga ada kata sambung ‘de‘ deh, An.”
An mengangguk setuju, “Iya sih bener, Az. Tapi ga ada salahnya kita buka Kamus Bahasa Jerman dulu, yuu. Kali aja ada, walaupun kayaknya ga ada sih.” Saran An tidak yakin.

Mereka berdua berlari ke arah perpustakaan mini di sebelah ruang tengah. Di ruangan itu, banyak lemari-lemari berisikan beraneka macam buku. Si kembar bergerak ke arah lemari besar di tengah, yang isinya penuh buku-buku tebal. “Di mana kamus Bahasa Jermannya ya, Az?” An bertanya. Pandangan matanya fokus menyusuri buku-buku tebal di depannya.
“ITU DIA, AN!” Teriak Az menunjuk posisi buku yang ada di rak ketiga. “Eh tapi…” Az melanjutkan. Tetapi ucapannya terhenti. “Tapi kenapa, Az?” Tanya An penasaran.

Az menggerakkan tangannya mengambil kamus besar Bahasa asing yang ada di situ. Tapi bukan kamus Bahasa Jerman yang ia ambil, melainkan kamus besar yang ada di sebelahnya. Kamus Bahasa Prancis milik ibunya. “Ntah kenapa, aku tiba-tiba ngerasa itu Bahasa Prancis, An. Di coba buka dulu aja yuu, kali aja nemu sesuatu.” Ujar Az memberi saran.

An mengangguk, lalu mereka berdua membuka kamus besar Bahasa Prancis itu di bagian huruf ‘F’. “Fleur…Fleur…Fleuuuurrr.” Gumam An.

“UWAAHH…UWAAAHHH…UWAAAHHH!!!” Teriak mereka bersamaan, lalu langsung lonjak-lonjak karena senang. “TUH KAN BENER, BAHASA PRANCIISSS, AN!!” Ujar Az bangga. An mengangguk senang, “YUHUUUU!! Eh tapi, kata ‘de‘ ini ada artinya ga sih? Kok kayak ga ada di dalem kamus?” An melirik ke arah kembarannya. Az lagi-lagi mengerutkan keningnya, “Itu mungkin kata sambung kayaknya ya, An. Langsung aja buka huruf L. Cari kata Lys, An.”

An membuka kamus Bahasa Prancis itu dengan terburu-buru saking semangatnya. Az bergerak mendekat, sampai kepala mereka bertabrakan. Kamus itu terbuka lebar di bagian huruf L sekarang. Jari-jari mungil mereka sibuk menelusuri kata demi kata. Lalu jari mereka tiba-tiba berhenti di sebelah satu kata. Mereka berdua saling lirik-lirikan dan pada akhirnya menutup mulut masing-masing karena tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, “YA AMPUUN!! YA AMPUUNN!! AN…AN KITA PINTAR, AANNN!!” Teriak Az bahagia. Lalu mereka berdua tertawa sampai guling-guling di atas lantai.

Puas tertawa, Az mengembalikan kamus Bahasa Prancis itu ke tempat semula. Mereka berdua tertawa lepas dan berjalan riang bergandengan ke arah kamar bermain.

Aku, yang sedari tadi mengawasi si kembar dari jauh, berjalan mendekat ke arah lemari besar di dalam ruang baca ini. Bahasa Jerman…Bahasa Prancis…Kedua bahasa asing yang sempat di pelajari istriku yang memang senang belajar bahasa asing. Ah, kenapa aku bisa lupa?

Seingatku, dulu istriku senang membacakan dongeng pengantar tidur Bahasa Jerman untuk si kembar. Bahkan, lagu pengantar tidur mereka berduapun menggunakan Bahasa Jerman juga. ‘La Le Lu‘ judulnya. Kenapa aku sekarang baru ingat? Kemana saja, aku selama ini?

Aku menarik nafas berat. Merasa bodoh dan kecewa terhadap diri sendiri. Tanganku bergerak pelan untuk mengambil kamus besar Bahasa Jerman hanya sekedar mencari tahu apa arti dari kata ‘Weiß‘ tadi. Lalu aku tersenyum setelah tahu artinya. Sepertinya itu clue yang menjelaskan bahwa istriku senang bunga yang berwarna itu.

Setelah menutup kamus Bahasa Jerman, sesuai pengamatanku tadi, si kembar membuka kamus Bahasa Prancis yang ada di sebelahnya. Lagi-lagi, aku mengambil kamus berat itu dan membuka kata perkata dari clue ‘Fleur de Lys‘ yang dibuat istriku untuk si kembar.

Terjawab sudah semuanya. Rahasia besar di balik clue yang dibuat istriku yang sebenarnya sederhana. Clue yang seolah mengajarkan bahwa kita, aku dan anak-anakku, akan tahu jawabannya, jika si kembar mengenal dengan baik sang ibunda lebih dalam dan jika aku memperhatikan istriku dengan sangat baik selama ini.

Nyatanya aku kalah. Kedua anakku yang lebih mengenal sosok ibundanya di bandingkan aku, suaminya. Sang anak paham betul bahwa ibundanya lancar berbahasa Jerman dan sempat mempelajari Bahasa Prancis dengan jangka waktu yang cukup lama. 

Clue yang mungkin sebenarnya sulit dipecahkan untuk ukuran anak sekolah dasar, bisa dipecahkan hanya dalam kurun waktu beberapa jam oleh kedua anaknya. Walaupun memang, mereka sempat bertengkar dulu, tetapi pada akhirnya mereka paham maksud clue dari ibundanya. 

Sedangkan aku? Pria dewasa yang katanya mengerti segalanya tentang istrinya. Tapi kenyataannya? Omong kosong.

Aku menutup mataku, berjanji kepada diri sendiri untuk menjadi ayah dan suami yang lebih baik lagi. Mengucapkan sumpahku dalam hati, berjanji kepada Allah bahwa keluarga kecilku ini harus terus dan akan selalu aku prioritaskan. Dan aku juga berjanji, bahwa aku harus banyak meluangkan waktuku untuk mereka, keluarga kecilku.

Sekarang, aku menutup kamus berat Bahasa Prancis itu dan mengembalikan kamus itu ketempatnya semula. Hatiku sedikit enteng, karena akhirnya aku tahu salah satu hal kesukaan istriku. Bunga itu…bunga yang tidak pernah sekalipun aku beri.

Mataku menangkap kertas kecil yang tergeletak di lantai. Az dan An rupanya lupa mengambil kertas clue dari bundanya. Aku mengambilnya dan membaca tulisan khas istriku sekali lagi, lalu tersenyum senang : Weiß – Fleur de Lys. White – Flower of Lily.

***************************************************
Kisah 1, Az dan An : Aku, Sang Titik Fokus ( http://www.nadhiraarini.com/2015/02/aku-sang-titik-fokus.html )
Kisah 2, Az dan An : Percobaan Roket ( http://www.nadhiraarini.com/2015/02/percobaan-roket.html )

12 comments:

  1. Ya Allah Mba Dhira demi apaa ini keren juga ihhhhh

    ReplyDelete
  2. Mbak keren banget, sumpah bikin mikir juga :")
    Masih menunggu kelanjutan nya...

    ReplyDelete
  3. Hahaha...
    Ayahnya Az-An lucu juga :D

    ReplyDelete
  4. Dhiraaaaa (calon) anakmu pintar syekaliii. Gemeeesh!!

    ReplyDelete
  5. Venaswari Hanna Tyastiti24 February 2015 at 23:07

    2 jempol mbk dhiiir (y) (y) pinter bgt bkin pnsaran -_- :D
    siph2 :")

    ReplyDelete
  6. Komentarku, ikut senang yang dikode peka.

    ReplyDelete
  7. yg bikin tambah keren, pemosisian nya..yg nulisnya cewe..tapi dlm ceritanya jd laki2..bravo kaka dhira..

    ReplyDelete
  8. aku suka,mbak dhirr ~
    jadi gak sabar baca part selanjutnya ^^

    ReplyDelete
  9. Mbak Dhira,,, ya ampun,, keren banget ceritanya :)

    ReplyDelete