Monday, 6 July 2015

Jangan Tanya Suara Hati

Jenis : Fiksi Pendek
Tema : Kebodohan yang sering terjadi, ketika seseorang jatuh cinta
Keterangan : 
Warna Hijau : Suara Hati yang berbicara
Warna Ungu : Rin yang berbicara

*x-o-x-o*

Balada tak sengaja menyukai seseorang, di waktu yang ntah sengaja tepat, di kondisi yang sepertinya tepat dan tiba-tiba timbul harapan yang tidak tepat, membuatku tiba-tiba stress berat.

Pertanyaanku kepada teman-temanku sekarang bukan lagi seputar, “Bagaimana cara menjaga diri, tetapi menjadi bagaimana mewujudkan supaya aku dan dia, menjadi kita.“

Sibuk cerita kesana kemari, bahwa sepertinya aku dan dia akan menjadi pasangan luar biasa. Dia, seperti bayangan pria yang aku bayangkan suatu saat akan datang melengkapi separuh agama. Dia, yang sepertinya ingin menghalalkanku dengan segera. Dia, yang…yang…yang intinya tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata, karena menurutku dia adalah pria yang luar biasa. Pokoknya dia dan harus dia.

Bayangan ini mulai berimajinasi liar tak dapat diikat lagi seperti anjing yang lepas dari kandangnya, ketika sang tuannya membuka ikatan tali yang mengikat lehernya, secara sengaja. Baca : Secara sengaja.

Layaknya Allah, sang Tuhan pemilikku, yang memang ingin mengujiku melalui jalur cinta. Ia melepas sebentar ikatanku, hanya ingin untuk sekedar mengetahui, apakah ketika hatiku diberi rasa cinta sedikit saja dengan pria yang ada disana, akan membuatku semakin mendekat kepada-Nya ataukah malah melesat berlari menjauhi-Nya, seperti anjing yang bahagia dilepas ikatan talinya oleh tuannya?

Aku jadi bodoh, sebodohnya wanita. Menjadi lupa, bahwa cinta itu ada yang punya, “Oh, gosh. C’mon, Rin. Are you kidding me?” Suara hatiku berusaha memprotes.
Aku juga berusaha memprotes sang suara hati yang tidak berhenti-hentinya mengganggu imajinasiku dengannya, “Ya kalau bukan dia, siapa lagi? Semua kejadian seolah-olah memang jawabannya dia, kok. Pasti dialah siapa lagi?”
“Jangan pernah hubung-hubungkan sesuatu yang belum mungkin terjadi. Dosa.”
Aku menarik nafas sebal, dialog dengan hati sendiri, menyebalkan juga, “Ya ampun, sekali aja kenapa? Jarang-jarangkan, aku begini”
“Sudah lupakah kau, dengan Allah yang membuatmu bisa jatuh cinta dengannya? Bertanyalah pada-Nya, mendekat kepada-Nya, jangan tanya aku lagi yang tidak tahu apa-apa.”

Tapi aku, yang memang tidak bisa mengontrol diri sendiri ketika melihatnya, ketika membayangkannya, ketika merasakan tubuhku tiba-tiba menghangat jika memikirkannya, ketika jantungku jadi berdetak cepat seakan ingin ikut berdansa dengan cinta yang menguasai hati, menjadi lupa untuk berdialog kepada Tuhanku satu-satunya dan sibuk bertanya ke suara hatiku yang memang tidak tahu jawabannya.

“Kenapa aku bisa menyukainya?”
“Tanya Allah kenapa.”
“Kenapa ketika aku tanpa sengaja menatap matanya, matanya menyejukkan sekali?”
“Allah yang menciptakan matanya, tanya Allah kenapa.”
“Kenapa senyumannya bisa semenyenangkan itu? Senyumannya itu bisa membuatku sulit bernafas saking groginya,”
“Tanya Allah kenapa, Allah yang membuat senyumannya seindah itu.”
“Kenapa dia bisa secerdas itu? Pengetahuan agamanya banyak, wawasannya luas. Jadi semakin membuatku terpikat kepadanya. Ia pasti tipekal suami yang baikkan?”
“Allah yang menganugrahkan ia memiliki kecerdasan yang lebih, mengizinkan ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dalam mencari ilmu sehingga ia memiliki wawasan yang luas melebihi orang lain. Kau tanya sendirilah ke Allah, apakah ia memang tipekal suami yang kau butuhkan atau tidak. Tanya Allah saja, jangan bertanya kepadaku yang tidak tahu apa-apa. Tugasku hanya mengingatkanmu. Bukan menjadi mesin penjawabmu.

“Dan kenapa, Allah membuatku menyukainya?”
“Rin, mau berapa kali aku bilang, tanya Allah kenapa.”

Dan suara hatikupun protes, karena aku banyak bertanya.

1 comment: