Saturday, 11 July 2015

Tangisan Kepiluan

Pernahkah kamu merasakan suatu hal yang berbeda dalam hidupmu?
Sesuatu yang membuatmu terpaksa berhenti sejenak?
Sesuatu yang memaksamu untuk menghadapi kenyataan bahwa kamu ternyata tak sekuat biasanya?
Sesuatu yang menyadarkanmu bahwa sekarang posisimu tidak lagi berdiri tapi jatuh terjerembab sakit rasanya?

Kamu yang aktif, kamu yang senang keluar rumah berkelana kemana-mana dengan bebasnya, kamu yang bisa tertawa lepas sepuasnya, kamu yang kuat, kamu yang pintar sekali bertutur kata, kamu yang cepat sekali menangkap hal baru, kamu yang…yang luar biasa…

Tiba-tiba dihadapkan dengan kenyataan pahit,
dengan cara yang tak kamu mengerti bagaimana bisa,
kamu dipaksa berhenti.
Berhenti untuk terus bergerak terlalu aktif.
Berhenti untuk bebas berkelana dengan bebasnya.
Berhenti, semuanya berhenti.
Nikmat itu sedikit demi sedikit dicabut dari dalam dirimu.

Kamu sampai di suatu titik, di mana hanya bisa berdiri diam termenung dalam kesendirian.
Kenyataan ini begitu mengejutkannya, sampai cahaya rembulan yang bersinar teduhpun tak mampu mengobatinya.
Nada-nada indah air hujan yang turun di teras rumahpun, tak sanggup mengobati hatimu yang terluka.
Berita ini begitu menyakitkannya, sampai-sampai alam semestapun seperti tak sanggup membuatmu tertawa.

Rasa sakit itu menjalar-jalar sambil tertawa dengan liarnya di dalam tubuhmu yang semakin merana.
Kamu tak bebas lagi keluar rumah seperti biasa. Bukan, bukan karena kamu tak ingin, tapi karena tubuhmu selalu menjerit dengan kerasnya jika kamu keluar rumah terlalu lama.
Jeritan ini begitu menyayat hatimu, sampai kamu jatuh tak berdaya di dalam kamarmu yang sederhana.

Kamu tidak bisa lagi tertawa riang seperti biasanya.
Dada ini menekanmu terlalu keras, sehingga menahanmu untuk tertawa riang gembira seperti biasa.
Kata-kata tidak bisa meluncur seindah seperti apa yang kamu mau.
Hanya nafas putus-putus yang terdengar, seperti mobil mogok yang rusak mesinnya.

Kamu yang biasanya kuat, yang katanya sampai angin Musim Dinginpun tak mampu menumbangkanmu,
Tiba-tiba tumbang dalam hitungan detik.
Saking tumbangnya sampai kamu tidak bisa bernafas sendiri, kamu butuh alat untuk membantumu terus bernafas lagi.

Daya tangkapmu menurun drastis, menurun sampai pada tingkat yang membuatmu menangis.
Sulit sekali rasanya menangkap suatu hal yang sebenarnya mudah untuk di tangkap oleh jaring-jaring nalar.
Sebegitu parahnya sampai terucap dari bibir temanmu sendiri, bahwa sinyalmu terlalu lemah, terlalu parah sampai membuatmu terlihat bodoh.

Sekarang, kamu butuh waktu lama sekali untuk merangkai kata menjadi suatu tulisan panjang yang bermakna.
Tenagamu selalu habis di awal waktu, kepalamu tak sanggup berfikir seperti apa yang kamu mau, tanganmu bergetar dengan hebatnya sampai memegang sendokpun kamu tak mampu.
Air mata selalu meluncur deras di pipimu sebagai wujud kepiluan yang mendalam karena tulisanmu tak terangkai seperti apa yang hatimu mau.

Di saat yang sama, hatimu hancur karena patah hatinya.
Kepercayaan dirimu terjun bebas tidak sanggup kau hentikan lagi.
Hilang sudah kepercayaan dirimu karena sakitnya dirimu.
Merasa tak pantas mendampingi pria yang selama ini kau cintai dalam diamnya doa-doa.
Merasa tak mampu karena ilmu agamamu tak sebanyak wanita lainnya.
Berharap ia mendapatkan wanita yang lebih baik, yang bisa mendampinginya sepanjang usia.
Akhirnya, kamu berhenti.
Berhenti untuk mencintainya.

Untukmu, yang sedang sedih hatinya…
Mungkin ini di mana, Allah menunjukkan kuasa-Nya.
Waktu di mana, Allah menarik nikmat yang selama ini kamu punya.
Saat di mana, Allah ingin kamu semakin menyadari kenyataan yang ada.
Bukan, bukan karena ingin membuatmu merana…
Tapi Allah ingin kamu terus mendekat kepada-Nya.
Allah bersihkan dosa-dosa yang kamu punya.
Allah naikkan level ketaatan yang selama ini masih biasa saja.

“Jangan menangis, sesungguhnya Allah bersamamu.“
Kuatkan hatimu, terus tambah ibadahmu.
Jangan pernah jauhkan Allah dari hatimu.
Allah ingin kamu meminta, Allah ingin kamu mendekat, Allah ingin kamu terus mengingat-Nya.
Allah rindu padamu, itulah sebabnya Allah mencabut nikmat yang kamu punya untuk sementara waktu.
Kamu mungkin sudah terlalu lama berlalu…
Padahal, Allah ingin selalu memelukmu.
Inilah salah satu cara, agar Allah selalu dapat mendekapmu.

Jangan bersedih hati, untuk kamu yang sabar hatinya.
Jangan merasa sendiri, untuk kamu yang lapang hatinya.

Jadi, kawanku…
Aku beritahukan sesuatu untukmu,

“Satu persatu harta Nabi Ayyub binasa. Anak-anaknya mati dan dirinya dilanda sakit yang merontokkan jasadnya. Namun, doa yang sama selalu terucap di bibirnya. Doa di antara derasnya air mata yang membasahi kedua pipinya, ‘Ya Allah, aku mohon. Sisakan hatiku untuk selalu mengingat-Mu‘

Semoga Allah, terus memelukmu dengan cahaya-Nya dan menjadi penerang dikala hatimu gundah gulana.

Bogor, 11 Juli 2015
Untukmu yang sedang mencari kedamaian hati.
Semoga hatimu tenang kembali :)

5 comments:

  1. Siapa pun kamu, semoga lekas sembuh ;)

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Makasih mbak dhira....dr kmren aku berdoa semoga Allah memelukku...tulisan ini menjadi jalan supaya aku lebih paham...

    ReplyDelete