Monday, 7 September 2015

Ketika Cinta Tak Berbalas

“Seharusnya kau berusaha mengerti. Mengapa kau—
Tidak pernah bisa menjadi hujan yang jatuh persis di hatinya.“

Aku tahu, sudah berapa lama kau mencoba berhenti. Aku juga tahu, sudah berapa lama kau mencoba melupakan. Hari-hari yang kau lalui karena menyukainya itu terasa menyakitkan, karena ia tak pernah memperhatikan. Perhatiannya tak pernah tertuju kepadamu, hatinya hanya tertuju kepada wanita itu dan ia lebih memilih berhujan-hujanan di atas cintanya dan bukan cintamu yang turun dengan sendu.

Kau tak pernah berusaha menatapnya terlalu lama, kau hanya sanggup memintanya dalam do’a. Do’amu selalu sama selama bertahun-tahun – meminta Allah untuk menjadikannya milikmu. Hari demi hari kau lalui memintanya dalam diam, tapi sekarang kau tahu Allah tak menjawab do’a-do‘amu. Kau – layaknya hujan yang jatuh ke tanah meninggalkan jejak kubangan di atas tanah yang kotor. Jatuh begitu saja, jatuh yang menyakitkan karena kau tak pernah sekalipun dapat jatuh di hatinya. Membiarkan air matamu turun tak tertahankan, karena melihatnya lebih memilih wanita yang duduk di sana dan tak pernah sedikitpun melirikmu yang jatuh terluka dengan sia-sia.

Dia tak akan pernah tahu, betapa sulitnya dirimu menghapus bayangnya dalam duniamu. Aku tahu, berulang kali kau menutup mata, berusaha menghilangkan kehadirannya dari memori menyedihkan itu. Tapi ternyata kau masih tak kuasa menghapusnya. Lalu kau menuliskan pertanyaanmu di atas kertas dan memberikannya kepadaku agar aku membacanya, “Kenapa Allah tak mengizinkanku untuk menjadikannya milikku, kenapa?“

Sekarang kau mulai mempertanyakan keadilan-Nya. Sekarang kau mulai menyalahkan-Nya. Mengapa dari banyaknya pria di dunia ini, kau hanya meminta satu pria, yaitu dia – untuk menjadi milikmu, Allah tak sudi memberikannya? Akhirnya pertanyaan itu muncul kembali, “Tak cukupkah do’a yang aku ucap setiap harinya, agar menjadikannya milikku selamanya?“ Pertanyaan itu tertulis persis di bawah pertanyaanmu sebelumnya dan aku membacanya.

“Lalu, mengapa aku berdo’a?“ Kau bertanya kepadaku.
“Seandainya aku tahu Ia tak akan pernah mengabulkan do’aku, aku tak akan pernah berdo’a memintanya. Sekarang aku sudah jatuh terlalu dalam, aku tak tahu apakah aku dapat mencintai pria lain selain dirinya. Apakah aku tak akan pernah menikah selamanya? Karena aku tak tahu bagaimana mencintai pria lain selain dirinya. Aku mengharapkannya, tapi Ia tak memberikannya. Aku memohon, agar ia dijauhkan dari wanita lain agar nantinya aku menjadi milikknya, tapi Ia malah memberikan wanita lain untuknya. Salahku di mana? Hatiku terkoyak dan aku tak tahu siapa yang bisa memperbaikinya…

Lalu aku terdiam…
“Ada sesuatu yang salah di sini, my dear. Mengapa sekarang kau marah kepada-Nya? Mengapa kau menyalahkan-Nya karena pria itu tak membalas perasaan yang sama? Apakah bisikan-bisikan setan itu sudah berhasil merubah hatimu menjadi kelam? Mengapa cintamu kepadanya lebih besar daripada cintamu kepada-Nya?“ Akhirnya aku bertanya.

“Adalah benar perkataan orang…
cinta dapat membutakan seseorang dan membuat orang menjadi lupa. Lupa akan pemilik cinta sesungguhnya. Lupa bahwa perasaanmu ini tidak pada tempatnya karena mencintai seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa. Buta bahwa kasih sayang-Nya lebih besar dibandingkan pria itu. Tidak berusaha melihat kenyataan bahwa mungkin Allah sedang menjauhkanmu darinya karena ia tak pantas menjadi pendamping hidupmu selamanya. Karena matamu tak ada apa-apanya dibandingkan mata yang Allah punya. Matamu tak dapat menembus apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya. Bisa jadi, hatinya tak seputih yang matamu lihat, bisa jadi karakternya tidak sehebat yang matamu pandang. Allah yang bisa menembusnya. Allah yang tahu watak aslinya. Allah yang bisa melihat jauh kedepan, seperti apakah yang akan terjadi jika kau menikah dengannya. Kalau memang, Allah sekarang tidak memberikanmu untuknya, mungkin memang kau tak pantas untuknya dan dia memang tak pantas untukmu. Jadi mengapa kau marah kepada-Nya?” Ujarku kemudian. Aku menatapnya lembut, ia mengalihkan pandangannya.

“Mengapa kau selalu bertanya-tanya dalam hati, ‘Mengapa ia tak mencintaiku seperti aku mencintainya?’ dan mengapa kau jarang sekali bertanya ke dalam hatimu, ‘Mengapa kadar cintamu kepadanya lebih besar daripada kadar cintamu kepada-Nya?“ Aku bertanya kembali karena temanku tak menjawab.

Terdapat hening yang lama antara kita berdua. Jam dinding berdetak tampak lebih kencang dari biasanya. Aku masih memandangnya lembut – akhirnya ia menggerakkan kepalanya dan menatapku dengan tatapan nanar, “Kamu tahu, cerita orang-orang itu salah. Ternyata, monster  itu tidak tidur di bawah tempat tidur, tetapi dia tidur di dalam hati. Suatu saat akan terbangun dikala hati kita sedang lalai. Lalai mengingat-Nya, sibuk terlena akan dunia dan menyalahkan-Nya ketika patah hatinya. Monster di dalam hati itu terbangun, menggunakan waktu bangunnya seefektif mungkin, mengubah hatiku menjadi kelam dengan bisikan-bisikan kemarahan yang tidak ada hentinya.” Ujarnya sambil meremas kerudung nilanya.

Hari semakin kelam. Awan kelabu itu, belum mau pergi. Bola mata temanku semakin kelam dan air matanya mulai turun. Ia menangis, hujanpun turun lagi – Berhasil mengisi tempat kosong di jalanan yang berlubang. Air hujan di jalanan itu berubah keruh, sekeruh hatinya sekarang, “Jadi aku harus apa?” Ujarnya terbata.

Aku menggerakkan ujung-ujung jemariku untuk menghapus air matanya yang turun deras, “Berdo’alah kembali kepada-Nya. Mintalah untuk diberikan pelangi di setiap hujan yang turun lebat, rumah tempat kembali ketika kau ingin beristirahat dan cahaya terang yang tidak pernah redup ketika kau tersesat.” Jawabku sambil tersenyum. Temanku mengangkat kepalanya dan ia membalas senyumku. Awan mendung di kedua mata lentiknya sudah mulai memudar. Sepertinya pelangi itu sudah datang.

Aku memeluknya dan berbisik pelan di telinganya, “Pangeranmu pasti datang tepat waktu. Datang sebagai hujan yang berhasil jatuh tepat di hatimu dan kau akan dengan senang hati menerimanya. Karena ia bukan hujan yang membuatmu kedinginan. Ia bukan hujan yang menimbulkan banjir bandang atau hanya sekedar genangan kotor yang menjijikkan. Pangeranmu pasti hujan yang membawa berkah dari Allah di saat hatimu sedang benar-benar kekeringan. Jadi bersabarlah, akan ada masa di mana hujan itu datang lebih indah dari biasanya.”

Temanku tertawa sekarang. Wajah itu sudah secerah mentari pagi dan mendung itu perlahan sudah lenyap dari kedua matanya. Aku memandang keluar jendela – hujan sudah berhenti digantikan pelangi yang melengkung indah mewarnai hari ini.

-------------------------------------------
Postingan ini dikhususkan untuk teman-temanku yang sedang patah hatinya dan bertanya pendapatku mengenainya. Lalu aku jawab melalui sebuah karya fiksi. Do'aku untuk kalian, "Semoga hujan berkah itu segera datang :)"

8 comments:

  1. Dan pelangi itu akan datang bagi yang membaca tulisan ini ��

    ReplyDelete
  2. suka sama tulisannya,, keadaannya jadi ingat sama diri sendiri :)

    ReplyDelete
  3. Jadi ceritanya cintaku tidak engkau balas ini? Okehhh. Haha

    ReplyDelete
  4. Kata-kata yang sangat dalam, matamu tidak seperti mata-Nya yg dapat menembus dan melihat apa yg tidak bisa matamu lihat.. sukses selalu mbak Dhira :)

    ReplyDelete