Sunday, 13 September 2015

Ketika Cinta Begitu Berat

-SERIAL VOLKERT FAMILY 1-

Baca ini dulu, sebelum melanjutkan (klik link) ~> Volkert Family Trees & Sinopsis Cerita

“Ibu, apa gejala jatuh cinta itu?” Tanyaku datar. Pertanyaan dengan nada serius yang begitu saja terlontar dari mulutku yang hampir memasuki usia dua puluh lima tahun. Pertanyaan yang seharusnya ditanyakan ketika aku remaja – yang sayangnya tidak pernah terlontar karena aku tidak pernah merasakannya. Pertanyaan menggelikan yang seharusnya tidak ditanyakan oleh pria dewasa sepertiku. Pertanyaan yang…sialnya sudah terlanjur keluar dan tidak bisa ditarik kembali karena ibuku sudah mendengarnya.

“Jantungmu berdetak lebih cepat dari biasanya ketika dia ada dan terkadang nafasmu sesak ketika kamu memikirkannya.” Jawab ibuku lembut, tanpa memberikan pertanyaan lanjutan dan hanya menjawab apa yang aku tanya.
“Apakah termasuk berkurang drastisnya fokusku? ” Keningku berkerut, hampir menyatukan kedua alisku yang gelapnya hampir menyamai hutan belantara.
Ibuku menghentikan apa yang dilakukannya dan menatapku,“Jika fokusmu berkurang ketika dia ada di sekelilingmu dan matamu selalu ingin bergerak ke arahnya, maka jawabannya iya, nak.”

Jawaban ibuku menggangguku, aku menarik nafas berat, “Termasuk jadi sulit tidur?” Kali ini aku membuka kancing paling atas kemejaku, karena udara tiba-tiba menjadi terasa panas.
Ibuku tersenyum meneduhkan, “Kalau kamu jadi sulit tidur karena memikirkannya, lagi-lagi jawabannya iya, nak.”

Tangan kananku bergerak menarik kursi di depanku, hingga menimbulkan suara ‘Sreek’ keras, lalu duduk dengan tidak sabar. Jari-jariku mulai mengetuk-ngetuk meja, menimbulkan melodi asing yang cukup menggambarkan suasana hatiku yang sedang panik, “Ibu itu kan dokter, ibu punya obatnya?”

Kedua tangan lembut ibuku bergerak memegang kedua pipiku dan menghadapkan kepalaku persis ke depan kepalanya, sehingga aku bisa membaca dengan jelas gerakan bibir ibuku yang berkata, “Wanita beruntung mana yang sudah berhasil membuatmu jatuh cinta, nak?”

Dan aku hanya dapat menutup kedua mataku karena malu.
****
Aku berdiri mematung, memandang adik perempuanku yang sedang heboh bercerita dengan wanita di sampingnya. Lidahku kelu, kakiku tiba-tiba tidak mau bergerak seperti tercebur ke dalam semen yang tiba-tiba mengering sebelum aku sempat keluar. Penyebabnya sederhana, wanita itu. Dengan susah payah aku memejamkan mataku, tidak ingin terlalu lama menatap wajah teduhnya terlalu lama. Tapi agak sedikit terlambat, karena mataku terlanjur menatap senyumannya. Senyuman itu, senyuman itu berbahaya. 

Keterlambatan sepersekian detik untuk menutup mata, menghasilkan dampak menyebalkan berkepanjangan. Mataku terlanjur menatap senyuman itu. Ketika pada akhirnya mataku terpejam, senyuman itu tiba-tiba muncul. Senyuman manis itu, senyuman yang khas itu, senyuman yang bahkan saudara-saudara perempuanku yang cantik tidak dapat menandinginya. Oh ya ampun, senyuman itu memang berbahaya.

“Kau kenapa, kei?“ Aidan, sepupuku mengerutkan keningnya. Alisnya yang setebal alisku, terangkat satu. Aku membuka mata dan hanya menatapnya tanpa bicara apa-apa. 
“Aku tahu kenapa.“ Tiba-tiba Ezra, sepupuku yang lainnya datang dari arah depan dengan senyuman menyebalkannya. 
“Kenapa memangnya? Bocah ini aneh dari tadi.“ Ujar Aidan. Masih ada nada bingung dalam suaranya. Ezra tertawa, matanya bergerak menatap seseorang yang sedang asik mengobrol dengan adik perempuanku, dagu lancipnya bergerak ke depan dan senyuman menyebalkannya ini muncul lagi. Aidan mengikuti arah yang ditunjukkan Ezra dengan kedua mata dan dagu sialnya hingga pada akhirnya dia juga mengerti maksud dibalik tawa sepupu sepermainannya. “Oh ya ampun, sepupu.“ Ujar Aidan mendekatiku dan menepuk-nepuk bahu kananku pelan. Penekanan kata ‘sepupu‘ di akhir kalimatnya yang diucapkan dengan nada menyebalkan ini, membuatku ingin menyiramnya dengan ember berisi air dingin yang sedari tadi masih aku pegang erat.

Aku menarik nafas jengkel karena tertangkap basah. Kedua sepupuku ini sebenarnya menyenangkan, tapi ada waktu-waktu tertentu yang terkadang membuatku ingin menendang mereka karena bertingkah menyebalkan, “Puas?“ Ujarku kesal. Hanya kata-kata itu yang sanggup keluar dari mulutku. Kedua mataku lagi-lagi menangkap senyuman wanita yang duduk di sebelah adikku, sehingga semburan kata-kata yang ingin aku lontarkan ke kedua sepupuku itu tercekat di tenggorokan.
  
“Seleramu boleh juga.“ Aidan akhirnya bicara lagi. “Semua orang mengakui, senyumannya dia itu manis.“
“Menawan lebih tepatnya.“ Ezra melanjutkan.
“Wajahnya juga teduh.“
“Dia terlihat anggun.“
“Elegan juga.“
“Suaranya juga indah terdengar di telinga.“

“OH, diam kalian semua!“ Ujarku setengah menggeram. Kesal karena kedua sepupuku juga memperhatikannya. Wanita itu, bernama Arianna. Orang tuanya hebat, memberikan nama seindah itu, seindah karakternya, seindah apa yang dimilikinya sebagai seorang wanita. Seseorang yang selalu dianggap kakak oleh adikku karena hubungan mereka yang sangat dekat. Seseorang yang…yang…oke, aku akui : wanita pertama yang aku suka. 

Dia memang selalu menarik banyak perhatian pria tanpa ia minta. Anggun, elegan, memang kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. Kerudungnya panjang menjuntai anggun tanpa pernah ia ubah menjadi mode aneh yang sedang musim sekarang ini. Aku tidak pernah melihat ia menggunakan rok. Selalu gamis panjang longgar dengan model sederhana yang ia pakai. Dia selalu terlihat ceria dan senyumannya yang khas selalu mengembang mengukir wajahnya. Awalnya aku mengira ada yang salah dengan telingaku karena setiap suara yang keluar dari bibirnya selalu terdengar mengalun lembut dan menenangkan. Tapi ternyata, hampir semua orang yang mengenalnya mengatakan hal yang serupa. Jadi telingaku tidak salah, telinga orang-orang itu juga tidak salah, memang Tuhan sudah menganugerahkan suara seperti itu kepadanya. Di manapun ia berada, ia selalu menjadi pusat perhatian karena mudah bergaul dengan segala macam usia dan sifat cerianya yang menular. Senyumnya juga tentunya – menular.

Sebenarnya banyak wanita yang lebih cantik daripada Arianna. Tapi kecantikan yang dimilikinya terlihat berbeda dibandingkan wanita lainnya. Ada daya tarik unik yang tidak bisa dijelaskan orang-orang ketika melihatnya. Ayahku pernah bilang, itu yang namanya kecantikan dari dalam hati. Memancar keluar dari wajah dan sifatnya yang lain sehingga dapat mengalahkan para wanita yang hanya cantik dari fisik saja.

Beberapa hari belakangan ini, aku sibuk menerka-nerka, berapa banyak lamaran yang sudah ia terima? Mengapa di usianya yang sudah dua puluh tiga, ia belum menerima lamaran seorang pria manapun? Sebenarnya, aku ingin sekali menjadi salah satunya. Menjadi pria yang melamarnya secara resmi dihadapan ayahnya. Tapi ntah aku merasa tidak berdaya. selalu merasa kalah sebelum berperang. Ketakutan yang berlebihan karena selalu berfikir bahwa aku tidak pantas menjadi pendamping hidupnya, berhasil menahanku maju untuk menembus benteng pertahanan keluarganya.

“Kau ini bodoh, kenapa tidak langsung melamarnya saja, sih?“ Aidan membuyarkan lamunanku. “Yang mengantri banyak tahu. Keduluan orang lain baru tahu rasa.“ Sepupuku yang satu itu mengambil batu dan melempar-lemparkan ke atas dengan tangan kanannya.
“Kalau lama, aku saja yang maju melamarnya secara resmi di depan ayahnya.“ Ujar Ezra sambil menatapku. Ia berkacang pinggang, menantang. 
“Kurang ajar.“ Ucapku pada akhirnya. “Jangan coba-coba.“ Tinjuku mengepal di udara.    
Ezra hanya tersenyum sinis, “Pernah dengar istilah siapa cepat dia dapat?” Ujarnya mengejek.
Aku menjatuhkan ember yang aku pegang dari tadi, “Dia bukan barang. Dan kau, belum tentu mendapat restu dari ayahnya.” Ujarku berang. Aku tahu dia bercanda. Tapi bercandanya sudah keterlaluan.
Sepupuku ini tertawa sekarang. Tawa yang dipaksakan. Angin dingin sore hari, menggerakkan rambut hitamnya yang panjang bergelombang sampai bahu, “Setidaknya aku mencoba. Kau tidak.” Ujarnya tajam.

Aku menarik nafas, merasakan bahwa apa yang ia katakan ada benarnya. Aidan menarik bahuku dan Ezra bersamaan, lalu menatapku, “Keinan, kau tahu…mencintai seseorang yang belum halal itu, seperti memegang bulu tetapi tanganmu terjulur ke depan. Pada awalnya, kau tidak merasakan apa-apa di tanganmu karena bulu itu ringan. Tetapi kalau kau terus memegangnya dalam jangka waktu lama dengan tangan terjulur ke depan, lama-lama kau pegal juga. Ada beban yang tidak terlihat karena tangamu terjulur terlalu lama melawan gravitasi bumi. Bulu yang tadinya ringan, menjadi sangat berat di tangamu.” Aku menyimak, Aidan masih menatapku kemudian melanjutkan, “Begitu juga cintamu padanya. Awalnya seringan bulu, lama-lama seberat beton karena kau terlalu lama memendam rasa.”

Langit tiba-tiba berubah mendung, hujan rintik-rintik mulai turun. Aku mengalihkan pandanganku karena malu. Merasa apa yang diucapkan sepupuku itu ada benarnya juga, “Jadi aku harus bagaimana?” Tanyaku nyaris tak terdengar.
Aidan menatapku, “Hanya ada satu cara. Me-la-mar-nya. Kalau lamaranmu ditolak, setidaknya kau tahu apa yang kurang dari dirimu dan kau bisa memperbaikinya. Kalau penolakannya tidak bisa kau terima, buang bulu itu jauh-jauh dari tanganmu supaya ia tidak membebanimu lagi. Buang perasaanmu padanya, karena bisa jadi memang bukan dia yang Tuhan takdirkan untukmu.”

Hujan rintik-rintik itu mulai jatuh ke atas kepalaku, tetapi tidak menghentikanku untuk tetap bertanya, “Kalau lamaranku diterima? Aku kan masih memegang bulu itu dengan tangan terjulur ke depan?”
Aidan tersenyum dengan sorot mata yang teduh, “Ya memang. Tapi kau tidak memegang bulu itu sendirian lagi. Ada Arianna nanti yang akan memegang tanganmu, menurunkan tanganmu ke bawah dan memegang tanganmu dengan erat. Sehingga kalian bisa berjalan beriringan bersama tanpa ada yang terbebani.”

Bunga-bunga di taman, mulai bergoyang-goyang tertiup angin kencang. Hujan rintik-rintik yang tadinya turun dengan lembut berubah menjadi tajam setajam jarum dan terasa menusuk kulit ketiga pria itu, “Permasalahan lamar melamar ini memang selalu menjadi masalah bagi pria. Seakan menjadi teror berkepanjangan karena merasa takut di tolak lamarannya.” Ezra akhirnya membuka suara,  “Tapi kita tidak akan pernah tahu kalau tidak pernah mencoba. Kau tahu, terkadang kita ini terlalu bodoh karena selalu membayangkan hal-hal yang belum tentu terjadi.” Ezra terdiam sejenak lalu melanjutkan, “Penghambat kesuksesan kalau kata ayahku.” Lalu ia meringis, sepertinya sedang membayangkan cara ayahnya berbicara waktu itu.

Hujan sepertinya sedang tidak ingin menahan kekesalannya. Turunnya semakin deras. Dan tiga orang pria tampan ini mulai bersiap-siap berlari ke dalam rumah, “Kau yang putuskan, anak muda.” Aidan berteriak agar suaranya terdengar karena hujan. Penekanan kata-katanya menyebalkan, sehingga ia ingin menimbulkan kesan lima puluh tahun lebih tua dariku. Lalu ia berlari, disusul Ezra yang mengumpat karena ceroboh menginjak kotoran anjing ketika sedang berlari ke dalam halaman rumah.

Tinggal aku sendiri, membiarkan tubuhku basah kuyup sambil merenungkan perkataan dua sepupuku itu. Apa yang dikatakan mereka, semuanya benar. Ah, Arianna. Kalau bukan wanita lain, pasti kau. Setidaknya aku harus berusaha supaya kau hasil akhirnya.

Lalu aku tersenyum. Sepertinya aku tahu apa yang harus aku lakukan setelahnya.

3 comments: