Friday, 4 September 2015

#Kisah Az & An 7 : Jangan Tinggalkan Aku Sendiri

“Jadi, berapa lama?“ Tanyanya menuntut jawaban segera. Aku mengalihkan pandanganku dan menatapnya dengan senyuman maklum, “Tiga hari aja kok, mas. Sebentar, kan?” Jawabku. Bahunya yang bidang turun dengan lemasnya, keningnya berkerut dan aku tahu, sebentar lagi pasti ia mulai merajuk, “Aaah, adee. Kelamaan. Kenapa sih, ga bisa nunggu mas aja? Kan kita bisa berangkat barengan tiga hari kemudian. Kenapa? Kenapa ga bisa, kenapa?” Rajuknya, masih tidak terima.

Aku mendekat, memegang kedua pipinya dengan kedua tanganku. Menatapnya dengan lembut tanpa berujar apapun. Yang ditatap, hanya mengalihkan pandangan kesal, “Jangan tiga hari. Kelamaan. Berangkatnya dua hari lagi aja, ya. Kalau ditinggal ade sama si kembar sehari aja, mas masih sanggup deh. Please.” Ujarnya memohon.

Ujung jari telunjuk kananku, mengusap pipi lembutnya, pelan. “Ade harus gimana dong, mas? Hana besokkan lamaran. Dia pasti ngambek parah kalau kakaknya ga dateng. Mama juga katanya kangen banget sama si kembar. Az sama An harus ikut juga, biar ngobatin kangennya mama. Soalnya udah lumayan lama, mama ga ketemu sama dua cucunya ini, kan. Ade harus jadi seksi sibuk acara lamarannya Hana, nih. Jadi harus kesana. Mas juga kan ada rapat penting yang ga bisa ditinggal, kan?” Ujarku menjelaskan. Suamiku masih mengerutkan keningnya. Tetapi kali ini tatapannya lebih tegar dan maklum, “Jangan lebih dari tiga hari tapi, ya. Janji? Kalau mas ga bisa jemput, ade sama anak-anak harus pulang hari itu juga. Nanti biar Bang Supri yang jemput. Ga boleh pulang sendirian naik kendaraan umum pokoknya. Titik ga ada koma.”

Aku mengangguk sambil tertawa. Suamiku kalau sudah merajuk, memang selalu bikin aku gemas, “Iya. In Syaa Allah, janji. Lagian dede sama Bila gantian nginep, tiga hari kemudian kok. Ada abang juga sama Izzan. Okay?” Ujarku berjanji. Suamiku mengangguk masih sambil cemberut. “Inget ya, pulang dijemput ga boleh naik kendaraan umum. Kalau mas ga bisa jemput, Bang Supri yang jemput dan harus kabarin kapan berangkatnya dari sana, biar mas bisa memperkirakan kapan kalian sampai rumah. Handphone ga boleh mati harus nyala terus. Ada power bank tuh dua biji, jadi ga ada alasan handphone baterenya abis. Handphonenya harus dipegang ga boleh digeletakin gitu aja disembarangan tempat. Okay?” Ujarnya tanpa jeda, lalu ia berbalik pergi keluar kamar mencari kedua anak kembarnya.

Lagi-lagi aku tertawa. Sudah biasa dengan tingkah suamiku yang super duper protektif dan tidak suka ditinggal sendirian tanpa keluarga kecilnya. Sebelum suamiku benar-benar keluar kamar, aku iseng bertanya, “Kalau pulang naik travel gimana, mas?” Tanyaku jail. Seperti yang kuduga, suamiku langsung berhenti dan membalikkan badannya. Keningnya berkerut lebih dalam dari biasanya dan berujar dengan suara serak, “Jangan coba-coba.” Lalu ia pergi berlalu, meninggalkanku terkikik karena tingkahnya barusan.
****
Hari itu aku dan si kembar sudah siap berangkat. Az dan An tampak tidak terlalu bersemangat hari itu. Mereka berdua menatapku dengan tatapan sedih. Mata mereka tampak penuh dengan air mata yang akan segera tumpah, “Bunda kenapa ayah ga ikut, bunda? Kenapa?” An bertanya dengan suara bergetar. Aku duduk agak berjongkok dan mengusap poni An ke arah samping, “Ayah ada kerjaan penting yang ga bisa ditinggal, sayang. In Syaa Allah ayah nyusul tiga hari kemudian ya, nak.” Jawabku lembut.

Az bergerak mendekat ke arahku dan berdiri di samping kembarannya, “Tapi ayah biasanya sakit kalau kita tinggal terlalu lama. Az juga gitu, kalau bunda atau ayah pergi lama, pasti sakit. Ntar kalau ayah kenapa-kenapa gimana, bunda?” Az mulai menangis. Air matanya turun deras. An cemberut dan mulai menangis juga. Ia menengokkan kepalanya kesamping dan menarik tangan ayahnya yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya, “Ayah ikut pokoknya. Harus ikuutt. Huaaa.” An menangis lebih kencang.

Suamiku ikut berjongkok agar posisi duduknya setara dengan kedua anaknya, “Jangan nangis, sayang. In Syaa Allah ayah usahakan menyusul kalian ke sana, ya. Cuma tiga hari kok, nak. Gapapa kok, sayangku.” Ujarnya membesarkan hati kedua anaknya.

Dari samping aku menarik nafas berat. Belum berangkat, tapi wajah suamiku sudah pucat. “Mas….” Ujarku dengan suara tertahan. Suamiku menoleh, merasakan kekhawatiranku akan dirinya, “Gapapa, sayang. Asalkan handphonenya jangan ditinggal. Dipegang terus ya, kalau kamu ga pengen liat mas sakit.” Ujarnya dengan suaranya yang dalam. Aku mengangguk dan tidak berapa lama, meninggalkan suamiku sendirian di rumah.
****
Rumah, beberapa menit setelah istri dan kedua anakku pergi.

“Oh, I’m going crazy.” Ujarku frustasi. Jujur aku akui, aku memang pria manja. Dari kecil sampai besar, aku sudah biasa hidup tegar dan mengatasi apapun sendiri. Tapi dugaan kedua orang tuaku, benar adanya. Akan ada masa di mana, ketika sifatku akan berubah dari sok kuat menjadi manja. Masa ketika aku menikah dengan wanita yang tepat. Wanita yang memiliki volume kasih sayang yang besar, yang membuatku tak bisa menjadi pria sok kuat lagi, tetapi pria yang selalu membagi keresahannya kepada istrinya. Dan istriku, adalah wanita yang selalu berhasil meruntuhkan tembok sok tegar dan sok kuatku, hanya dengan sekali tatapan hangat dari kedua bola matanya yang meneduhkan.

Dulu, aku berfikir bahwa ibuku aneh. Tidak akan tidur sebelum ayahku pulang ke rumah. Selarut apapun ayahku pulang, ibuku selalu menunggu dengan setia. Ntah melakukan berbagai aktifitas kesukaannya untuk mengisi waktu luang menunggu ayahku pulang. Dan ketika ayahku pulang, ibuku selalu menyambutnya di depan pintu dengan senyuman mengembang tanpa memperlihatkan kelelahan karena menunggu terlalu lama. Ayahku akan membalas senyuman ibuku dengan senyuman lebar, kecupan di dahi dan pelukan hangat.

Ketika aku remaja, aku merasa itu adalah tindakan heroik berlebihan yang dilakukan kedua orang tuaku. Ketika beranjak dewasa, aku mulai merasa akan sangat menyenangkan kalau rumah tanggaku seperti itu. Dan ketika aku menikah, ternyata istriku juga melakukan hal yang sama tanpa aku minta – selalu menungguku pulang ke rumah dan selama bertahun-tahun aku menikah dengannya, tidak pernah sekalipun aku pulang ke rumah dengan keadaan istriku sedang tidur. Ia pasti menyambutku di depan pintu dengan senyuman hangatnya – selalu. Seketika itu pula aku tahu, bagaimana bahagia ayahku ketika selalu disambut seperti itu oleh ibuku. Rasa hangat mengalir deras dan rasa lelah, hilang sudah dengan hanya melihat istriku menyambutku di depan pintu dengan senyuman khasnya – indah sekali.

Ayahku juga sudah berulang kali balas mengejek ketika aku meledeknya karena selalu membawa ibuku pergi kemanapun dan selalu panik ketika ibuku tidak ikut, “Lihat saja kau, nak. Kau pasti  merasakan apa yang ayah rasakan sekarang. Hampa kalau istri dan anak-anakmu tidak ada. Mudah panik kalau mereka pergi terlalu lama. Lihat saja, nanti.”

Dan sepertinya itu kutukan. Karena itu benar adanya. Dari mulai aku menikah sampai sekarang sudah punya anak dua, aku paling benci jika mereka pergi meninggalkanku terlalu lama. Sehari tanpa pelukan hangat, tanpa bermanja-manja tidur dipangkuan istriku, tanpa mendengar suara anak-anakku, tidak melihat senyuman istriku yang selalu berhasil membuatku tenang, hidupku benar-benar selalu terasa kosong. Mudah panik kalau istriku tidak mengangkat telepon, sama sekali tidak ingin makan kalau bukan istriku yang memasak. Oh, ya ampun. “Bagaimana nasibku tiga hari kedepan…” Ujarku frustasi.
****
“Mbaaa, temenin De Hana yuukk, sebentar ajaa. Pokoknya Mba Dhira harus ikuuut.” Ujar Hana manja. Aku melirik jam tanganku, sebentar lagi suamiku datang menjemput. Aku tidak boleh pergi, sebelum suamiku datang. Karena kalau tidak, ia akan terserang panik luar biasa karena aku tidak ada. Ini sudah tiga hari, batas toleransinya ditinggal olehku sudah sampai diambang batas kesanggupannya, “Nanti aja ya, kalau ayahnya Az sama An udah dateng, okay?”

Hana cemberut, “Bentaran doang, mbaa. Ini nemenin bocah-bocah ini pergi ke swalayan bentaar. Kalau cuma De Hana doang yang pergi, ga shangguupp jagain bocah krucil-krucil ini. Pasti lari kesana kesini. Pusiiing kaan ngejarnya di dalem swalayaan.” Ujar Hana memohon.

Aku mencari handphoneku, “Ah, sedang dipakai mama menelpon abang.” Ujarku sambil melirik sekilas. Hana menarik nafas frustasi, “Tadi udah de Hana bilangin ke bapak, kalau masnya dateng, tolong bilangin lagi nemenin Hana sama krucil-krucil ini ke swalayan.”

Hatiku masih tidak tenang, Hana menarik tanganku ke mobil, “Tapi janji ya, jangan lama-lama. Tahu sendiri, ayahnya si kembar, ga bisa kalau cuma dikasih tahu begitu. Harus ngeliat langsung pake matanya, kalau kita selama tiga hari ini baik-baik saja.”

Hana mengangguk cepat, “Ah iya Mbaa, bereess. Makannya cepetaann. Ayooo, berangkat sebelum ayahnya Az sama An, dateengg.” Hana menutup pintu mobil. Aku, si kembar dan sepupu-sepupunya yang lain ikut ada di dalam mobil. Az dan An melirikku, dengan tatapan tidak tenang, “Bunda, kita pasti sampai sebelum ayah sampai, kan?” Aku hanya mengangguk pasrah berdoa semoga sampai tepat waktu.
****
“Alhamdulillah sampai juga.” Ujarku senang. Tidak sabar ingin segera bertemu istriku dan si kembar. Tiga hari yang menyiksa, sukses menurunkan berat badanku lebih dari tiga kilo. Istriku pasti akan menatapku dengan tatapan tersiksa, kalau melihatku jadi tambah kurus begini. Dia selalu tahu hanya sekali lihat, berat badanku naik atau turun.

Setelah bersalaman dengan yang lainnya, aku mengerutkan kening, “Dhira sama anak-anak kemana?” Perkataanku mulai terdengar tidak normal. Ini tidak biasa, mereka harus ada kalau ada. Kenapa mereka tidak menyambutku seperti biasa?

“Nemenin anak-anak ke swalayan bentar, tadi Hana minta ditemenin, mas.” Ujar Asa mencoba menjelaskan. Aku terduduk, “Kenapa ga kasih kabar kalau mau pergi sebentar? Kan ada handphone…” Ujarku lemas.

Asa melirik istrinya, “Mmm, tadi handphonennya lagi dipake mama telpon abang, mas. Soalnya abang ga jadi dateng hari ini kayaknya. Jadi mereka buru-buru pergi supaya bisa balik lagi sebelum mas sampai ke sini.” Ujar Bila pelan.

Aku diam. Penyiksaan ini belum berakhir. Rasa panik menyerang lebih kencang dari biasanya, “Hana baru belajar nyetir, kan?” Tanyaku lagi, kali ini dengan ekspresi kengerian luar biasa yang terpancar dari wajahku. Kali ini Bila melirik suaminya, “Rrr, tapi udah jago kok, mas. Percaya deh, In Syaa Allah ga kenapa-kenapa.” Asa menjelaskan dengan pelan.

Akhirnya aku mengambil handphone dan berusaha menghubungi adik iparku, Hana. Terdengar handphone berdering dari sudut ruangan beberapa saat kemudian. Bila berlari ke kamar dan keluar dengan tatapan ngeri, semua orang tahu aku sebegitu protektifnya terhadap keluarga kecilku dan tatapan kengerian Bila itu sudah sebagai tanda bahwa Hana pun tidak membawa handphonennya, “Mmm, mas. Kayaknya Hana ninggalin handphonennya karena tadi lagi di charge…”

Asa menutup matanya dan menarik nafas berat. Ia tahu, bahwa ini akan menjadi masalah berat untukku. Aku menopang kepalaku dengan tangan kiri. Kepalaku pusing, nafasku naik turun. Sepertinya aku demam. 
****
Aku menutup pintu mobil dengan panik. Az dan An juga sama gugupnya. Belanja kali ini memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya. Ayahnya anak-anak pasti sudah sampai dari tadi. Aku baru tahu di tengah jalan, bahwa Hana ternyata tidak membawa handphonennya. Oh tidak, ini bencana.

Si kembar tak mau menunggu, mereka langsung berlari mencari ayahnya setelah kaki mereka menapak di atas tanah. Asa berlari panik dan memberi tahu melalui gerakan tangan dan matanya bahwa suamiku ada di dalam kamar. Aku membuka pintu, ruangannya gelap karena lampunya di matikan. Tanganku meraba-raba supaya lampu bisa dinyalakan. Lampu menyala dengan bunyi, ‘klik‘ pelan dan di sana, diujung tempat tidur itu, suamiku berada.

“Oh ya ampun.” Ujarku setengah berlari. Tanganku otomatis memegang keningnya – panas. “Ya ampun, maafin ade, mas. Tadi Hana minta tolong temenin ke swalayan bentar, tapi ternyata mem…” Aku tidak melanjutkan kata-kataku, karena tangan kanan suamiku bergerak ke keningnya memegang tanganku, “Don’t go…stay here.” Ujarnya terbata. Aku mengangguk cepat, tetapi di luar kamar terdengar suara si kembar menangis. Aku bergegas berdiri untuk mengajak mereka ke kamar, tetapi tangan suamiku menggengam erat tanganku, “Jangan…kemana-mana. Di sini…aja. Jangan tinggalin mas sendirian…” Aku kembali terduduk dan segera berteriak memanggil anak-anakku, “AZ..AN…sini sayang, bunda sama ayah ada di kamar ujung. Sini nak.”

Terdengar suara langkah kaki yang berlari. Si kembar masuk sambil berebutan membuka pintu kamar. Az dan An langsung berlarian menuju ayahnya. Mereka berdua menangis sambil sesegukan, “Huaaa, tante kasirnya payaah, masa kita udah ngantri panjang-panjang, mesin kasirnya rusaaak. Terus kita terlambat pulaaang, terus ayah duluaan yang nyampee. Bundaaa, kenapa badan ayah panas bangeett??” An menangis semakin keras.

“Gapapa sayang, bentar lagi juga turun panasnya. Ayah cuma kecapean doang, kok. Kan tadi perjalanannya lumayan jauh. Sekarang sudah ketemu kalian, jadi pasti bentar lagi ayah mendingan.” Ujar suamiku menenangkan. Jari telunjuknya yang panjang, menghapus perlahan air mata kedua anak kembarnya. Az dan An memeluk ayahnya lagi. Masih sambil sesegukan.

Suamiku melirikku, ia cemberut sekarang, “Jangan diulang.” Ujarnya serak. Aku mengangguk cepat tanpa bersuara, gantian air mataku sekarang yang turun. Suamiku mengangkat kepalanya, memberikan isyarat supaya aku bergerak ke atas tempat tidur dan memposisikan diriku agar ia bisa merebahkan kepalanya di atas pangkuanku, “Ah, ini lebih baik.” Ujarnya senang. Ia menatapku dengan tatapan lembutnya, telapak tangan kirinya bergerak mengelus pipiku pelan, “Lain kali, jangan pergi tanpa pemberitahuan, ya. Mas panik kalau ade pergi terlalu jauh tanpa pengawasan yang jelas, apalagi ade gampang banget terluka di sana sini. Ngebayangin ade sama si kembar kenapa-kenapa sedikit aja, mas sampe ga bisa nafas.“ 

Aku mengangguk, air mataku masih turun. Masih sambil mengistirahatkan kepalanya di pangkuanku, jarinya bergerak menghapus air mataku, “Sini, mas kasih tahu rahasia. Ade tahu ga, kalau bantal yang paling nyaman adalah pangkuanmu, senyum yang paling menyenangkan adalah senyumanmu, kata-kata yang paling menenangkan adalah kata-kata yang keluar dari bibirmu. Mas rindu itu, setiap hari setiap saat. Jadi tetap di sisi mas, ya. Jangan kemana-mana lagi. Jangan tinggalin mas sendiri terlalu lama…” Ujarnya pelan. Lagi-lagi aku mengangguk, tanda berjanji. Jemarinya turun dari pipiku, badannya bergerak menyamping memeluk si kembar yang ternyata sudah tertidur karena kelelahan. Matanya bergerak terpejam karena mengantuk dan iapun tertidur dipangkuanku.

Aku mengelus keningnya pelan, merasakan rambut hitamnya yang tebal di ujung-ujung jariku. Panasnya sudah turun, wajahnya sudah terlihat tidak terlalu pucat. Aku memperhatikan si kembar, lama sekali. Wajah mereka mirip sekali dengan ayahnya dan benar-benar mirip kalau mereka sedang tidur seperti ini. Senyumku mengembang. Aku sayang mereka, mencintai mereka bertiga dengan segenap hatiku yang paling dalam. Terima kasih Allah, sudah memberikan mereka bertiga untukku. Engkau Maha Baik, anugerahmu selalu indah. “Semoga keluarga kecilku ini, bisa bersama-sama di surga-Mu nanti, ya…“
------------------------------
Kisah 1, Az dan An : Aku, Sang Titik Fokus 
http://www.nadhiraarini.com/2015/02/aku-sang-titik-fokus.html )
Kisah 2, Az dan An : Percobaan Roket ( http://www.nadhiraarini.com/2015/02/percobaan-roket.html )
Kisah 3, Az dan An : Bunda dan 4 Kata Ajaib (http://www.nadhiraarini.com/2015/02/bunda-dan-empat-kata-ajaib.html)
Kisah 4, Az dan An : Maafin Kami ya, Bunda...

5 comments:

  1. Aaak kak dhira aaaaak. Baru blogwalking lagi dan kisahnya AZ AN ada lagiii. Heu. Sosweet bingits. Bahagia itu sederhana yaa kak :))

    ReplyDelete
  2. Duh Mbak Dhiraaa, semoga Mbak Dhira cepet ketemu sama pangerannya deh yaaa :"

    ReplyDelete
  3. haduuh mbak dhira.. tulisannya sosweet banget.. :)

    ReplyDelete
  4. Sukses slalu damel mb dhira , Sukses dunia & akhirat aamiin

    ReplyDelete
  5. Aaah mba dhiraa ;") speechless

    ReplyDelete