Saturday, 22 August 2015

#Kisah Az & An 6 : Ayah, Perhatikan Kami Berdua, dong!

Hari Minggu cerah begini, hari yang berbahagia. Hujan sudah berhenti mengguyur kota Bandung. Mengusir kabut yang biasanya sukses membuat hari-hari bertambah suram, menjadi hari yang cerah ceria karena burung-burung mulai berdatangan sambil bernyanyi riang.

Suamiku duduk santai di meja makan sambil membaca koran. Az dan An, duduk berseberangan dengan ayahnya dan mereka berdua sibuk menggerakkan crayonnya ke kiri dan ke kanan sehingga kertas HVS putih itu sudah hampir penuh dengan coretan abstrak mereka berdua.

“Yah, lihat deh. Az sama An gambar pesawat.” Ujar Az tiba-tiba sambil menunjukkan hasil gambar abstraknya. Suamiku yang sedang asik baca koran, menurunkan korannya dan melirik ke arah HVS yang sudah hampir penuh coretan warna-warni aneka garis itu, “Mana? Ga kayak gambar pesawat?” Jawab suamiku seadanya, pandangan matanya kembali tertuju pada koran yang dari tadi di bacanya.

Az cemberut, ia menarik lengan panjang sweather abu-abunya sampai siku. An mengerutkan keningnya, wajahnya terlihat gusar. Mereka berdua kesal, karena ayahnya tidak fokus memperhatikan mereka berdua. 

Aku memperhatikan mereka berdua. Penasaran, apa yang akan selanjutnya mereka lakukan agar bisa merebut kembali perhatian ayahnya. Biasanya, ide mereka berdua aneh-aneh. Jadi, aku pura-pura tidak melihat kejadian tadi dan menyibukkan diri membuat sarapan.

“Yah, kenapa pesawat ada di langit, yah?” Tanya Az pada akhirnya. Aku menoleh otomatis dan tersenyum lebar. Sepertinya mereka sudah punya ide brilian.
Suamiku menjawab seadanya sambil terus membaca koran, “Karena kalau di air namanya kapal bukan pesawat, Az.”
“Ooo, terus kenapa kalau di air namanya kapal bukan pesawat?” Kali ini An yang bertanya.
“Ya karena fungsinya beda, nak. Jadi namanya beda.” Jawab suamiku.
“Kenapa kalau fungsinya beda, namanya beda, yah?” Az bertanya lagi.
“Kalau namanya sama nanti ketuker dong, orang nyebutnya.” Jawab suamiku sambil menyeruput kopinya. Matanya tetap tertuju pada koran yang dibacanya.
“Kenapa kalau namanya sama, orang bisa ketuker nyebutnya, yah?” Mereka berdua terus mengajukan pertanyaan yang menyebalkan – bertanya dengan mengulang jawaban ayahnya.
“Ya kalau namanya sama, orang jadi bingung antara mau ngomongin kapal atau pesawat, Azzzz.” Penekanan suara suamiku sudah mulai terdengar kesal.
“Kenapa kalau namanya sama, orang jadi bingung mau ngomongin kapal atau pesawat, yah?” An masih bertanya.
“Ya karena...” Suamiku menutup korannya dan menatap kedua anak kembarnya dengan pandangan kesal. Az nyengir, An tertawa.

“Udah yah, baca korannya?” Tanya An sambil memiringkan kepalanya.
“Kenapa kok, kita harus nanya berkali-kali supaya ayah akhirnya merhatiin aku sama An? Kenapa?” Az bertanya menuntut jawaban.
“Korannya boleh kita jadiin pesawat-pesawatan ga? Biar dia ga jahat lagi ngerebut perhatian ayah. Boleh ya?” An turun dari kursinya, lalu mengambil koran itu dengan tangan mungilnya. Matanya melirik ayahnya meminta persetujuan. Suamiku mengangguk pasrah. 
Az mengambil sebagian lembaran koran dan menyenggol pundak kembarannya, “Jangan dibuat pesawat semua, An. Sebagian lagi dijadiin kapal-kapalan ajaa. Terus kita buat dia berlayar di ember besar itu looh, biar tenggelaamm kayak kapal bajak laut yang nabrak karraaangg.” Ujar Az sambil tertawa. Lalu mereka berdua berlari pergi ke taman belakang.

Aku mengelus pundak suamiku lembut dan berbisik ringan di telinganya, “Makanya kalau diajak ngobrol sama anaknya, fokusnya jangan kemana-mana, sayang.”
Suamiku mengambil kertas HVS yang penuh dengan coretan warna warni kedua anaknya, “Iya benar, garis-garis ini membentuk gambar pesawat...Kenapa tadi, ayah bisa ga lihat ya, bund?” Suamikupun menarik nafas berat, kata-katanya terdengar lirih di telingaku. Kalimat-kalimat terakhir kedua anak kembarnya, sepertinya menohok relung paling dalam hatinya.

-----------------------------------
Kisah 1, Az dan An : Aku, Sang Titik Fokus 
http://www.nadhiraarini.com/2015/02/aku-sang-titik-fokus.html )
Kisah 2, Az dan An : Percobaan Roket ( http://www.nadhiraarini.com/2015/02/percobaan-roket.html )
Kisah 3, Az dan An : Bunda dan 4 Kata Ajaib (http://www.nadhiraarini.com/2015/02/bunda-dan-empat-kata-ajaib.html)
Kisah 4, Az dan An : Maafin Kami ya, Bunda...

10 comments: