Sunday, 8 November 2015

Ketika Pintu Hatiku Diketuk Kembali

Pintu hatiku diketuk lagi. Oleh seseorang yang sudah kuhapus pergi. Seseorang yang sudah dengan tega menyakitiku untuk kesekian kalinya. Aku akui dia berhasil. Berhasil menjatuhkanku ke dasar lubang paling dalam kehidupanku. Menyisakan bekas luka-luka menganga yang sulit sekali aku sembuhkan karena pengkhianatannya. Kau tahu, seandainya aku tidak punya satu orangpun yang berada di sisiku untuk membantuku berdiri tegap kembali, mungkin aku sudah jadi gila karenamu.

Sekarang, kau mengetuk pintu hatiku kembali berharap berharap bahwa semuanya akan kembali seperti dulu lagi?
.
.
.
.
Kau bercanda.

Kau tahu, betapa sakit hatiku karena ulahmu? Betapa banyak air mata yang turun deras tak sanggup aku hentikan karena menerima kenyataan pahit itu? Betapa aku menyesal karena menjalin hubungan selama bertahun-tahun denganmu tanpa ikatan yang halal ternyata berakhir pilu? Kau hancurkan semua angan-anganku untuk hidup bersamamu di masa depan, kau buat hatiku menjerit karena kau lebih memilih wanita lain dibelakangku, kau pilih kehidupan bebasmu dan meninggalkanku begitu saja karena kau anggap aku tidak mendukung cita-citamu.

Lalu ketika pada akhirnya aku memutuskan hubungan kita yang sudah tak sanggup lagi aku jaga, kau datang mengemis minta ampun hampir di setiap minggu, mengatakan penyesalanmu dan akhirnya kau menyadari bahwa ternyata hanya akulah yang ada di hatimu?

Jangan bercanda, tuan. 
Gelas yang pecah tak akan pernah bisa kembali menjadi gelas yang utuh kembali. Begitu juga hati yang sudah hancur berkeping-keping. Kepercayaanku padamu sudah hilang tak berbekas. Yang tersisa hanyalah ketakutan bertubi-tubi jika aku menerimamu kembali. Aku takut kau akan mengkhianatiku lagi, aku takut pekerjaanmu yang sekarang kau tekuni akan membawamu kembali menjauh pergi. Jadi jangan salahkan aku, jika aku berusaha menutup semua inderaku akan kehadiranmu di depan pintu hatiku.

Kau tahu, suatu saat aku akan menikah dengan seseorang yang membuat hatiku tenang. Bukan seseorang yang selalu membuatku bertanya-tanya akan kesetiaannya, bukan seseorang yang membuatku resah akan pekerjaannya yang terlalu jauh dari dekapan agama dan bukan seseorang yang terus menggangguku, mengguncang hatiku di saat aku sedang berusaha memperbaiki diriku mendekat kepada Illahi.

Aku akan menikah dengan seseorang yang ketika aku menggandeng tangannya, aku merasa bahwa kasih sayang Allah terasa dekat dan hidupku bahagia karena ia menuntunku ke jalan yang di ridhoi-Nya.

Terima kasih karena darimulah aku belajar betapa sakitnya pengkhianatan. Memori indah kita bersama memang tak terhitung banyaknya, tapi sayang beribu sayang, memori menyenangkan itu tiba-tiba hilang diantara badai terakhir yang menyerang kita berdua. Maafkan aku karena hanya kisah menyakitkan yang sanggup aku ingat. Otakku seakan tak mampu menggali kembali kenangan manis kita berdua. Hatiku terus terasa sakit hanya dengan mengingatmu saja. Memang hukum Allah selalu benar adanya. Tak ada satupun manfaat dari menjalin hubungan tanpa ikatan yang halal. Terkadang, seseorang itu harus ditusuk terlebih dahulu untuk merasakan tajamnya sebuah pisau. Terkadang aku, harus dihadapi dengan kejadian menyakitkan terlebih dahulu untuk menyadari bahwa aku sudah melakukan hal yang di haramkan oleh-Nya. Darimulah, aku belajar untuk semakin mendekat kepada-Nya. Dari pengalaman pahit ini, aku semakin sadar bahwa hanya Allahlah satu-satunya tempatku meminta, tempatku bersandar, tempatku mengadu agar diberi kesabaran melewati hari-hari yang menyakitkan ini.

Akhirnya aku tahu, ketika permasalahan bertubi-tubi menyiksaku, bukan manusialah tempatku mengadu. Bukan kamu yang seharusnya aku cari ketika dulu ada masalah besar yang datang menimpaku. Harusnya sedari dulu aku mencari Allah untuk memperoleh ketenangan, bukan malah menjalin hubungan denganmu. Karena benar apa yang sahabatku bilang bahwa tidak semua orang yang hadir dalam hidupku adalah yang ditakdirkan Allah untukku. Mungkin memang ia hadir karena Allah ingin menguji, apakah aku lebih mencintai-Nya atau lebih memilih mencintaimu.

Dan aku lebih memilih mencintaimu dan menomor duakan cintaku untuk-Nya. Dulu, yang harus tahu pertama kali masalah yang aku hadapi adalah dirimu, jarang sekali aku bercerita kepada-Nya karena dulu aku pikir kehadiranmu saja sudah cukup menenangkanku. Tapi ternyata aku salah, sangat salah. Cintamu semu, pengkhianatanmulah yang nyata.

Jadi aku mohon berhenti. Berhenti mengobral janji. Berhenti berkata ingin melamarku atau menikahiku sesegera mungkin. Berhenti mengetuk, berhenti memohon-mohon di depan pintu hatiku. Kau tahu, bukan rasa senang yang aku dapat, bukan rasa iba yang aku terima, melainkan rasa sakit karena luka lama di hatiku terbuka lagi.

Penyesalan memang selalu datang terlambat dan penyesalanmu sekarang memang terlambat.
Jadi aku beri tahu sesuatu untukmu, bahagia itu sebenarnya sederhana ;
Mendekatkan diri kepada Allah misalnya,
berkumpul bersama sahabat misalnya,
melakukan hobi  yang selama ini aku tinggalkan misalnya,
lalu….
.
.
.
mengabaikan ketukanmu di depan pintu hatiku misalnya.
---------------------------------------
-
-
-
Based on true story.
Bukan pengalamanku yang jelas.
Yang nulis ga pernah pacaran seumur hidupnya :p

Untukmu yang punya pengalaman ini,
semoga hatimu tenang kembali, ya :)

3 comments:

  1. Apa semua masa "kelam" (berpacaran) itu ceritanya sama ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ngga juga. ini kan cuma salah satu contoh cerita hehe

      Delete
  2. lucky you realised how completely blooming rotten a relationship is. most people don't.

    ReplyDelete