Thursday, 19 November 2015

Hal Apa yang Membuat Orang Tuamu Bahagia?

Beberapa bulan terakhir ini, diusia gue yang sebentar lagi bertambah – time flies too fast to growing older :( Ada satu hal yang benar-benar menjadi pertanyaan besar buat gue, yang bikin gue gelisah dan berhasil bikin gue ga bisa tidur selama berhari-hari.

Pertanyaan ini sederhana sebenarnya, pertanyaan yang selalu gue tanya ke Allah dalam do’a-do’a gue, sebuah pertanyaan yang gue ajukan dalam tangis selepas shalat, sebuah pertanyaan yang tetap gue lontarkan di setiap perjalanan gue sambil menatap awan-awan yang berubah-ubah bentuknya dari dalam mobil, “Ya Allah,usiaku sebentar lagi bertambah, tetapi aku merasa belum bisa membahagiakan orang tuaku. Jadi tolong Ya Allah tunjukkan kepadaku, hal apa yang bisa aku lakukan agar membuat orang tuaku bahagia?”

Kalian tahu, gue selalu merasa bahwa setiap anak wajib mengetahui hal apa sebenarnya yang membuat orang tuanya bahagia. Melakukan sesuatu yang jika kita melakukannya, orang tua kita benar-benar bangga dan tersenyum bahagia karena kita, anak-anak tersayangnya sudah berhasil memberikan kebahagiaan yang mereka inginkan. Sebuah pertanyaan yang sulit dicari jawabannya, karena para orang tua biasanya menyembunyikan keinginan terbesarnya di dasar hati mereka yang paling dalam karena melihat kondisi kita yang mungkin dirasa memberatkan.

Sebuah pertanyaan yang ketika diajukan, jawaban mereka pasti selalu sama, “Apapun, yang penting kamu bahagia, nak.”

Menurut gue, kalau jawaban seperti itu yang terlontar, tandanya orang tua kita masih menutupi apa yang sebenarnya mereka inginkan. Dan gue memang pernah mendapatkan jawaban serupa dari nyokap gue. Pada waktu itu gue menyerah mencari jawabannya, karena nyokapgue selalu memberikan jawaban yang serupa. Akhirnya, gue memutuskan mencari jawabannya sendiri dengan melakukan banyak hal. Salah satunya dengan menulis.

Gue inget banget di suatu sore. Ketika nyokap gue sedang sibuk dengan pekerjaannya, gue datang pelan-pelan karena khawatir menganggu. Hanya menyampaikan berita bahagia singkat, “Ma, Mbak Dhira juara satu lomba nulis yang waktu itu Mbak Dhira ceritain itu loh.” 

Rencana di kepala gue, sehabis menyampaikan kabar bahagia itu adalah langsung balik lagi ke kamar. Tetapi respon nyokap gue yang tiba-tiba, menghentikan rencana awal gue. Nyokap gue langsung menghentikan pekerjaannya, berdiri dan memeluk gue erat sambil berkata dengan suara bergetar, “Masya Allah, puteri mungilku, anak pertamaku hebat sekali. Mama bangga, nak. Dari dulu mama sudah tahu, anak mama ini pintar menulis. Terbukti kan sekarang juara pertama,” Gue diam karena shock. Nyokap gue melepas pelukan eratnya, memegang kedua pipi gue dengan kedua tangan lembutnya dan akhirnya gue bisa melihat dengan jelas bahwa kedua mata nyokap gue basah oleh air mata yang hampir jatuh terjun ke bawah pipinya, “Kamu hebat, sayang. Puteri mungil mama sudah dewasa, tulisannya semakin hebat. Ini yang membuat mama bahagia, sayang. Melihatmu berhasil dengan pekerjaan yang kamu cintai. Duduk serius di depan laptop untuk menulis dan menghasilkan tulisan yang indah. Terus berkarya ya, sayang.”

Kalian tahu, itu adalah pelukan dan apresiasi yang ga akan pernah gue lupakan sepanjang hidup gue.
Kalau gue lagi males nulis, pelukan di sore itulah yang membuat gue bangkit kembali untuk semangat menulis. Kebahagiaan terdalam nyokap gue yang selama ini hanya terpendam di dalam hatinya, akhirnya gue mendapatkan jawabannya.

Kebahagiaan nyokap gue sederhana ; melihat puteri pertamanya, dengan tekun, melakukan suatu hal yang puterinya cintai.

Makannya gue dulu sering heran, kalau ketika gue lagi mengalihkan sejenak mata gue dari layar laptop dan tiba-tiba melihat nyokap gue berdiri di depan pintu, menatap gue dengan tatapan teduhnya, “Lagi dapet ide baru ya, nduk?” Kalau gue mengangguk dengan riang, nyokap gue ikut tertawa riang. Kalau gue garuk-garuk kepala sebagai jawaban, nyokap gue akhirnya bilang, “Mau mama buatin cokelat panas? Mungkin bisa bikin Mbak Dhira rileks, terus muncul ide baru?”

Begitulah kebahagiaan nyokap gue. Sederhana.

Beberapa bulan terakhir ini, kebahagian bokap dan ibu guelah yang sedang gue cari. I’ll tell you the truth, I have two moms. Mama adalah panggilan untuk ibu kandung gue dan ibu adalah panggilan untuk ibu gue yang satu lagi. Dulu gue juga pernah bertanya pertanyaan yang serupa dan jawaban ibu gue juga sama, “Yang jelas Mbak Dhira bahagia.” Tapi gue tahu, bukan itu jawaban yang sebenarnya.

Akhirnya gue bertanya ke bokap gue dan dulu jawaban bokap gue gini, “Bapak bahagia kalau melihatmu menikah dengan pria yang baik.” Tapi sampai sekarang, gue belum menikah. Berarti sampai sekarang gue belum membahagiakan bokap gue dan akhirnya gue mencari kebahagiaan lain yang mungkin bisa gue lakukan sebelum gue menikah. Itulah yang bikin gue galau. Karena gue ga nemu-nemu jawabannya, “Apasih sebenarnya yang bisa bikin ibu dan bapak bahagia?” Sampai gue do’a berhari-hari dan jawaban dari Allahpun akhirnya datang pada suatu hari dan itu mencerahkan kehidupan gue sekarang.

Suatu saat gue dikasih tugas oleh bapak dan ibu gue untuk ‘naik kelas’, melakukan sesuatu yang ga gue suka. Bokap gue bilang di suatu pagi, “Mbak Dhira, maukah kamu membantu bapak di Akademi Trainer untuk sementara? Bapak kekurangan tim marketing dan bapak tahu kamu bisa, nak.” Gue diam. Melakukan hal lain selain menulis adalah hal yang belum gue inginkan. Gue menolak, karena gue ga pernah melakukan hal itu sebelumnya. Gue takut dengan kehadiran gue malah merugikan perusahaan bokap gue sendiri.

Tapi waktu itu bokap gue bilang dengan suara lembutnya, “Kalau kita mau naik kelas, terkadang kita harus melakukan hal yang tidak kita sukai, nak. Bapak tahu, Mbak Dhira punya bakat di bagian itu. Kamu menolak karena belum pernah mencoba. Dicoba dulu, sayang. Kita tahu berhasil atau tidaknya kan, kalau memutuskan untuk mencoba. Passionmu di bidang menulis dan tugas yang bapak berikan, bisa Mbak Dhira lakukan beriringan. Untuk latihannya, Mbak Dhira bisa diajarkan ibu. Bapak percaya kamu bisa, ayo di coba ya, nak.” 

Walaupun itu hanya kalimat singkat, ntah kenapa gue merasa ada secercah harapan terletak diantara kalimat itu. Ntah kenapa, feeling gue mengatakan bahwa bokap gue akan bahagia sekali kalau gue bersedia. Walaupun gue ga yakin dengan diri gue sendiri, walaupun gue ga yakin gue bisa, kalau memang itu bisa buat bokap gue bahagia, akan gue coba walaupun gue ga suka.

Ga suka itu bukan berarti benci, kan? Bisa jadi ketidaksukaan itu timbul akibat bayangan gue sendiri akan sebuah kegagalan yang belum tentu terjadi. Jadi pada waktu itu gue mikir, ga ada salahnya kalau gue coba. Bisa jadi, ketidaksukaan gue berubah menjadi kesukaan baru yang tiba-tiba muncul ketika gue sedang berusaha untuk naik kelas ke Dhira yang lebih baik lagi, kan?

Akhirnya gue berangkat ke Surabaya. Ibu menyambut gue di Bandara Juanda dengan tatapan berbinar-binar karena bahagia. Dari situ gue sadar, mungkin selama ini memang ini yang bapak dan ibu gue inginkan. Tawaran ini tidak pernah keluar dari bibir ibu dan bokap gue karena secara tidak sadar gue selalu bercerita bahwa gue ga begitu tertarik di dunia training. Mereka menahan keinginan mereka karena khawatir memberatkan gue pada waktu itu. Dari situ, ketika gue duduk di mobil merah kesayangan ibu yang keluar dari bandara Juanda, akhirnya gue bertekad, “Okay, I’ll do my best.”

Selama dua minggu gue berusaha untuk naik kelas, mengerjakan sesuatu yang ga pernah gue kerjakan sebelumnya, stress yang melanda karena terasa sulit pada awalnya, menjadikan gue lebih kuat dari sebelumnya. Dorongan dari bokap gue yang ga pernah berhenti, apresiasi dari ibu yang terus mengalir, semangat yang diberikan mama dari telpon, menjadikan gue terus melaju. Semakin lama apa yang dibilang bokap gue, tampak terlihat benar adanya. Gue menemukan kelebihan baru yang ga pernah muncul sebelumnya dan bahkan gue ga tahu kalau gue punya kelebihan itu. Target yang diberikan ke gue alhamdulillah terpenuhi, bahkan melebihi dari apa yang di targetkan pada awalnya.

Kalian tahu, ketika bokap gue datang ke Surabaya, bokap gue langsung buru-buru ke kamar gue, mengetuk pintu dan langsung memeluk gue ketika gue keluar kamar, “Bapak bangga sama Mbak Dhira. Kamu hebat, sayang. Terima kasih karena sudah mau mencoba. Terbukti bisa kan, nak.” Lagi-lagi gue diam. Pelukan itu rasanya sama. Sama seperti ketika mama meluk gue ketika gue menang lomba menulis. Rasa pelukan yang ga akan pernah gue lupakan seumur hidup. Kebahagiaan yang terpancar dari kedua mata bokap gue adalah sebuah kebahagiaan baru yang belum pernah gue lihat sebelumnya. Dan memang itu jawabannya. Kebahagiaan terdalam yang selama ini ada di dalam lubuk hati bokap gue yang berusaha ditahan karena khawatir memberatkan.

Hal yang sama gue rasakan ketika gue melihat ibu. Kedua matanya juga memancarkan kebahagiaan yang sama. Seolah beban berat terangkat dari pundaknya, rona sedih karena beban pekerjaan yang banyak hampir tidak terlihat lagi dari raut wajah ibu.

Ya Allah, seandainya aku tahu dari dulu…

Kebahagiaan ibu dan bokap gue sederhana sebenarnya ; gue ikut bergabung membangun Akademi Trainer bersama-sama orang tua gue dengan kelebihan yang gue punya. Sesederhana itu.

Terkadang, kita sebagai anak terlalu banyak menolak, terlalu banyak menuntut, terlalu banyak memikirkan diri sendiri, sampai akhirnya melupakan bahwa orang tua kita juga sebenarnya juga ingin dibahagiakan. Tetapi melihat anak-anaknya punya kesibukan lain, punya keinginan lain, pada akhirnya orang tua kita mengorbankan keinginannya dan mengubur keinginan dibahagiakan oleh anaknya di lubuk hati mereka yang paling dalam.

Maka jadilah seorang anak yang terus mencari kebahagiaan yang orang tua kita inginkan. Kebahagiaan satu sudah terpenuhi, carilah kebahagiaan baru yang orang tua kita inginkan. Sudah tidak terhitung berapa banyak kebahagiaan yang mereka berikan untuk kita, anak-anaknya. Sudah saatnya, kitalah yang membahagiakan mereka, kan?

“Kamu mungkin tidak sadar. Bagi orang tuamu, diberikan kebahagiaan yang mereka inginkan olehmu itu melengkapi hari dan membuat kesedihan mereka beranjak pergi.”

Terakhir, untuk ketiga orang tuaku tersayang…
Mbak Dhira sayang mama…
Mbak Dhira sayang bapak…
Mbak Dhira sayang ibu…

Maafkan aku, yang baru sedikit membuat mama, bapak dan ibu bahagia. Mbak Dhira akan terus mencari, Mbak Dhira akan terus berusaha membuat mama, bapak dan ibu bahagia dengan kebahagiaan yang kalian inginkan :)

Surabaya, 19 November 2015
Kebahagiaan orang tuaku, kebahagianku.
I Love You a lot, dear mama, bapak dan ibu.

10 comments:

  1. wah dalem.... semoga aja semua anak bisa mengerti orang tuanya lebih dhini... mungkin bakal banyak orang tua yg gak telat bahagia dan anak juga gak telat mengerti...

    ReplyDelete
  2. Terharu dengernya dhira... :') selamatt ya sudah berhasil buat orang tua bahagia ,,,
    Semangatt trs dhira... thanks ya buat sharingnya...

    ReplyDelete
  3. Subhanallah jadi nangis gw bacanya. Selamat ya dhira kamu sudah menemukan sesuatu yg membahagiakan orang tua. Saya jadi terinspirasi dengan ceritamu. Terus mencari tau , berdoa untuk sesuatu yang membuat orang terkasih kita bahagia. Thanks Dhira

    ReplyDelete
  4. Menginspirasi bagi orang tua2 utk membantu anaknya menemukan apa yang membuat orang tuanya bahagia. Thanx mba Dhira.

    ReplyDelete
  5. Menginspirasi bagi orang tua2 utk membantu anaknya menemukan apa yang membuat orang tuanya bahagia. Thanx mba Dhira.

    ReplyDelete
  6. Keren Dhir. Jadi kemaren Ke Surabaya buat itu ya? *sotoy*
    Selamat Dhir udah bisa 'naik kelas'. Semoga bisa 'naik kelas' di level-level selanjutnya...

    Termasuk menikah dengan lelaki baik yang diinginkan sama bokap lo :* :D

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah...

    ReplyDelete
  8. Ya Allah masa gue baca ini ikutan mellow..

    Mbak Dira Alhamdulillah ya bisa peluk ibu mama papa, knp gue sbagai cowok terlalu gengsi untuk melakukan hal yg sepele itu.

    ReplyDelete
  9. Halo mbak Dhira, ini yang harus sebenarnya saya cari tau tentang apa yang membuat orang tua bahagia. Inspiratif :)

    ReplyDelete