Saturday, 28 March 2015

Gadis Kecil & Bulan Purnama


Gadis kecil berusia delapan tahun itu, selalu terlihat terduduk manis di depan jendela besar di ruang tamu. Maaf ralat, tidak selalu. Hanya ketika bulan purnama muncul di atas langit kelam, ia di sana. Duduk manis dengan gaun tidur putih panjangnya di atas sofa empuk berwarna merah. Rambut pirangnya sengaja tidak diikat, dibiarkannya tergerai begitu saja. Sesekali angin malam menggoyangkan rambutnya lembut sekedar untuk menemani sang angin berdansa menyambut kedatangan sang purnama yang tidak datang setiap hari.


Nama gadis itu, Ariana. Ia kehilangan orang tuanya dua tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan besar. Waktu itu ia ada di sana, melihat semuanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Yang aku dengar, ia terbangun setelah tiga hari koma dan tidak mau bicara sampai sekarang. Bukannya dia berubah menjadi bisu, tidak ada yang salah dengan dirinya secara fisik. Menurutku, ia hanya tidak mau bicara. Itu saja.

Aku berjalan mendekat, hanya sekedar ingin memastikan bahwa ia baik-baik saja. Tapi, kertas-kertas di atas meja ini berserakan di mana-mana sampai mataku terganggu. Jadi aku putuskan untuk membereskan dahulu kertas-kertas ini, sebelum aku bergerak lebih dekat mendekati Ariana.

Tapi apa yang aku lihat selanjutnya, membuatku terkejut. Kertas ini penuh berisi tulisan khas Ariana. Tulisan yang membuat keningku berkerut karena tulisan ini seperti bukan tulisan anak berusia delapan tahun. Tulisan yang membuat aku menyadari bahwa dugaanku selama ini tentangnya yang tidak mau bicara itu salah. 

Kertas ini berisi tulisan kecil berjejer rapi menggambarkan isi hatinya yang tak pernah bisa terungkapkan melalui bibir mungilnya. Aku hanya sanggup memandang punggungnya dan air mataku mulai menggenang, lalu menetes karena sudah tak sanggup ditahan.

Dear, Mommy…
Hari ini purnama yang kesekian kalinya. Aku kembali duduk di sini menatap sang rembulan hanya demi ingin menyapa mama di sana.
Ariana ingat, mama bilang purnama itu istimewa. Karena ia bukan hanya sekedar bulan. Ia berbeda dengan matahari yang menyilaukan menyakiti mata Ariana. Bulan purnama itu indah sinarnya, sejuk jika dipandang dalam diam. Bulan purnama itu layaknya tempat tinggal orang-orang yang sudah di panggil Tuhan kan, mama? Mama ada di sana kan, sekarang? Di atas sana? Memandang Ariana di sini dengan senyuman? 

Mama, hari ini sudah ratusan hari kesekian Ariana tidak sanggup berbicara mengeluarkan suara. Suara Ariana seakan habis di telan peristiwa mengerikan dua tahun lalu. Peristiwa di mana Ariana melihat tubuh mama dan papa bersimbah darah di kursi depan. Peristiwa di mana mama dan papa tidak pernah menjawab panggilan Ariana dengan suara renyah kalian seperti biasa…peristiwa di mana…Ariana akhirnya menyadari dengan hati yang hancur bahwa, mama dan papa sudah pergi ke bulan meninggalkan Ariana seorang diri tanpa siapa-siapa yang menjaga.

Tapi Ariana selalu ingat mama bilang, kalau Tuhan itu selalu menjaga Ariana di manapun Ariana berada. Ariana sekarang menjadi anak angkat teman mama. Mereka baik sekali, sayang dengan Ariana. Anak pertama mereka, Kak Adelia benar-benar menganggap Ariana seperti adik kandungnya. Tapi apa daya Ariana, Mama…ingin sekali Ariana membalas setiap sapaan dari mereka setiap harinya…Ariana sudah berkali-kali mencoba, tapi tak ada kata yang keluar dari mulut Ariana. Mama, kenapa sekarang susah sekali bagi Ariana untuk berkata-kata? Mama tahu, apa yang salah dengan Ariana? Kata dokter, Ariana baik-baik saja…tidak ada yang salah dengan pita suara Ariana…Apakah ini yang dinamakan trauma? Mengapa begitu mengerikan adanya…

Ma, Ariana bersyukur sekali di beri oleh Tuhan keluarga baru yang baik…Tapi, rindu Ariana akan kehadiran mama dan papa tidak pernah bisa terbendung lagi jika bulan purnama datang setiap bulannya. Pantulan cahayanya, lembut sekali selembut sentuhan jari-jari lentik mama. Sinarnya juga menenangkan, seperti papa yang selalu bisa membuat hati Ariana yang sedang gundah menjadi tenang.

Beberapa kali, Ariana hanya bisa menangis ketika mendung tiba atau ketika hujan deras turun mengguyur dan menyembunyikan keberadaan sang bulan dari pandangan mata Ariana. Ariana rindu sekali dengan mama dan papa. Tolong sampaikan kepada Tuhan permintaan Ariana, ma…Jangan sembunyikan purnama, ketika sudah saatnya ia tiba. Selain berdoa kepada Tuhan yang Maha Kuasa untuk mama dan papa, hanya ini yang bisa Ariana lakukan untuk mengabadikan keberadaan mama dan papa di hati dan pikiran Ariana…

Mama, ingatkan…
Besok Ariana ulang tahun. Please, tolong mama bilang ke Tuhan untuk tidak menyembunyikan purnama. Ariana ingin, besok malam…menikmati kue ulang tahun buatan Kak Adelia di sini, di bawah sinar bulan purnama.

Karena besok, di bawah sinar bulan purnama…
Ariana merasa mama dan papa ikut hadir di sini, berdoa bersama dengan keluarga baru Ariana dan ikut menikmati hidangan ulang tahun bersama Ariana.

Please ya ma…
Jangan lupa minta Tuhan untuk tidak menyembunyikan purnama ya, ma…
Nanti Ariana nangis, kalau mama lupa… 

Ariana sayang, mama- papa.
Selalu…selamanya…

************************************************
NB:
Tulisan ini terinspirasi dari nyokap gue, ketika gue bertanya ke nyokap gue, "Apa yang mama tangkap ketika melihat gambar di atas? Cerita apakah yang menurut mama cocok, untuk bisa menggambarkan gambar di atas?" 

Dan ide cerita ini pun, di dapat dari nyokap gue, setelah nyokap gue memperhatikan gambar di atas beberapa menit dengan kening berkerut hehe. Peace and Thanks a lot, mommy #hugs2

4 comments:

  1. Mama sama anak sama2 kereeeeen :3

    ReplyDelete
  2. Mama cuma kasih ide doang,setelah kamu olah jadinya malah bagus banget,kuerreeen abiezz.. Anak mama emang Top Markotop..

    ReplyDelete
  3. anak sama mamahnya sama2 kereen, topp.. :D

    ReplyDelete
  4. keren banget ka, apalagi kata ariana itu good lah

    ReplyDelete