Sunday, 8 March 2015

Cerita Sahabat dan Hati yang Berserakan

Gue duduk dalam diam ngeliat sahabat gue sendiri, bercerita tentang kisahnya yang secara ga sadar menyayat hati gue. Kisah yang sebenarnya banyak dialami oleh sebagian besar wanita. Kisah yang sulit, sebuah kisah yang banyak diantara wanita harus berjuang melewatinya. 

“Awalnya, gue ga sadar Dhir, bahwa perasaan ini sudah terlibat terlalu jauh.“ Ujarnya pelan. “Gue belum pernah ketemu dia, gue hanya kenal dia melalui dunia  maya. Tapi ketika dia japri gue lalu mengucapkan keseriusannya dan berjanji akan datang ke bokap gue beberapa bulan ke depan, gue menyadari bahwa dia ga bisa gue anggap main-main, Dhir.” Ujarnya lagi.

Gue masih diam, hanya bisa menatapnya. “Gue hanya tahu, semua perasaan itu datang begitu saja. Ketika dia bertanya ke gue, kira-kira apa yang ada dalam dirinya yang harus lebih di pantaskan agar siap menghadapi bokap gue. Ketika akhirnya gue menjawab detail setiap pertanyaannya. Ketika gue tahu bahwa dia tidak hanya sekedar bertanya, tetapi benar-benar take action memperbaiki dirinya. Ketika gue menyadari bahwa dia memang benar-benar berusaha bangkit memupuk kepercayaan dirinya yang sempat hancur karena bisnisnya yang sempat gagal. Ketika gue merasa bahwa di balik kata-katanya yang singkat, dia bisa menentramkan hati gue yang terkadang gundah, mampu menyemangati gue dengan perkataannya yang tidak bertele-tele. Tahu apa yang harus dilakukan ketika emosi gue sedang ga stabil dan menerima kelakuan gue yang kadang-kadang kayak anak kecil.” Sahabat gue berusaha menahan tangisnya. Gue masih belum bisa bereaksi apa-apa. Bingung.

“Tapi gue sadar, Dhir. Bahwa apa saja bisa terjadi sebelum dia datang ke bokap gue beberapa bulan lagi. Gue udah bilang ke dia dari awal, kalau ada pria lain yang datang sebelum dia datang, dia harus menerima dengan lapang dada kalau gue jadi lebih memprioritaskan lelaki yang lebih dulu datang. Dan dia menyanggupi.”

Gue mulai mengerti sedikit permasalahannya, “Jadi, sekarang ada cwo yang dateng serius ke bokap lo gitu maksudnya? Sebelum cwo yang itu dateng?”

Sahabat gue mengangguk, “Iya. Gue kenal orangnya, Dhir. Walaupun gue ga nyangka bahwa dia ternyata diam-diam suka sama gue. Dia belum dateng serius ngelamar sih, cuma bilang ke bokap gue klo dia itu suka sama gue dan berharap bahwa dia dipertimbangkan sebagai calon suami.”

“Lalu?” Gue lanjut bertanya.

Sahabat gue menarik nafas berat, “Masalahnya adalah cwo yang bilang ke bokap gue itu, bukan tipe gue, Dhir. Tapi gue ga bisa sembarangan nolak dia, karena agama dia bagus.”

Gue mengerutkan kening, “Terus sama cwo yang sebelumnya gimana? Lo kasih tau dia ga, klo ada cwo lain yang mau dateng duluan sebelum tu cwo dateng beberapa bulan lagi?”

Lagi-lagi sahabat gue menarik nafas panjang, “Awalnya ngga, Dhir. Soalnya kan udah gue  bilang dari awal, kalau ada pria lain yang dateng duluan, dia harus terima. Tapi berhubung gue menghargai dia karena udah bilang mau serius ke gue duluan, gue bertanya ke dia apakah dia mau memajukan bulan kedatangannya ketemu bokap gue. Kalau dia mau datang lebih cepat setidaknya bulan ini, gue bisa memprioritaskan dia dulu, bukan cwo yang barusan itu.”

Gue membelakkan mata, exited, “Terus dia bilang apa?”

Sahabat gue diam sekarang. Dari bahasa tubuhnya, gue tiba-tiba sadar bahwa kalimat selanjutnya adalah suatu rentetan kalimat yang berat sekali untuk diucapkan sahabat gue, “Gue tau Dhir dari awal karakter dia itu kayak gimana. Dia bukan tipe yang bergerak dengan tergesa-gesa. Dia bergerak berdasarkan planning yang dia buat. Dia ga akan bilang mau dateng dua bulan lagi, kalau dia sendiri belum sanggup. Ketika dia bilang mau dateng dua bulan lagi, tandanya dia siapnya memang bulan itu. Bukan sekarang. Jadi, ketika gue bertanya ke dia apakah mau memajukan kedatangannya untuk ketemu bokap gue, itu adalah sebuah pertanyaan yang gue sendiri sudah tahu jawabannya. Dia tetap bertahan untuk tetap datang di bulan yang sudah dia tentukan.”

Terus gue bengong, “Laaah, terus dia ngerelain elo gitu?”

Sahabat gue geleng, “Dia bilang ke gue gini, Dhir, ‘Walaupun berat ngomongnya, kamu jalani aja apa yang ada di depanmu. Aku belum siap kalau datang sekarang. Yang paling baik itu menyegerakan kebaikan. Kalau kamu bisa lebih cepat menikah, maka itu lebih baik. Kamu pernah bilang, akan istikharah kalau ada yang serius melamar, kan? Jangan lupa, ya. Karena kita ga tahu mana yang terbaik. Jadi bertanyalah kepada Allah mana yang baik untukmu. Sebenarnya dengarnya sakit, banget. Tapi karena banyak hal positif yang aku dapatkan dengan mengenalmu, sakitnya kalah. Walaupun memang, memarnya tetap ada. Tapi aku tahu kamu wanita yang baik, jadi kamu pantas dapat yang terbaik.' ” Air mata sahabat gue mulai turun, “Dia juga bilang, Dhir : ‘Kalau kamu mau proses dengan pria lain sekarang, maka kesepakatan kita batal..It’s win-win solution sebenarnya. Kamu meniti tanggamu, aku juga. Apakah suatu saat kita akan ketemu, yang penting jalanin satu-satu aja dulu. Kamu ga perlu khawatir.‘ ” Dan air mata sahabat gue mulai turun deras. Ia terisak dipelukan gue.

Sebuah cerita yang menyakitkan. Pria dan wanita sering dapat di posisi sulit seperti ini. Tapi dalam hal ini, posisi wanita lebih sulit lagi. Wanita itu dipilih dan tidak bisa sembarangan menolak pria yang datang. Apalagi kalau pria yang dateng itu, memiliki dasar pemahaman agama yang bagus. Di sisi lain, gue ga nyangka masih ada pria di dunia ini yang mau dengan lapang dada mengalah. 

Pria itu ingin menjaga hati sahabat gue supaya pilihan sahabat gue ga berat sebelah. Dia tahu bahwa dia belum siap jika harus datang cepat, makanya dia mundur perlahan. Dengan cara yang gentle. Bukan dengan cara kayak anak kecil yang marah-marah ketika apa yang dia suka keserobot orang. Bukan dengan cara egois, yang memaksa sahabat gue untuk menunggu dia datang dua bulan lagi. Pilihan yang sama-sama berat untuk kedua belah pihak. Tapi untuk saat ini, memang hanya pilihan itu yang paling baik.

Gue hanya sanggup mengelus pundak sahabat gue perlahan. Ikut merasakan bahwa kisahnya adalah kisah yang berat untuk dijalani. Kita berdua sama-sama ga mau pacaran. Jadi gue tahu banget rasanya. Ketika ada pria yang benar-benar serius dan ternyata cocok, susah banget rasanya untuk menerima kenyataan bahwa pria itu mundur sekarang. Mempersilakan orang lain terlebih dahulu karena dia sendiri belum siap kalau diminta datang lebih cepat. Berhasil mengatasi gejolak hatinya dan meminta sahabat gue untuk tetap memprioritaskan pria yang datang lebih dahulu. Dia tahu pria itu bukan dirinya, dia tahu sakit rasanya, tapi untuk saat ini, hanya ini jalan satu-satunya.

Kalau benar-benar yakin bahwa Allah itu selalu memberikan jodoh yang terbaik dengan skenario-Nya yang diluar dugaan, maka kerelaan untuk melepas itu lebih mudah. Awalnya sakit memang, tapi itulah cara Allah untuk mengajari bagaimana caranya belajar melepaskan. Merelakan seseorang yang masih belum tentu jodoh kita. Sedih hati gue denger cerita sahabat gue. Tapi gue ga bisa apa-apa. Allah pengen sahabat gue ini belajar mengatasi perasaannya, lebih menjaga lagi hatinya. Allah tempa hati sahabat gue dengan pengalaman yang ia alami sekarang. Untuk menjadikan sahabat gue wanita yang lebih kuat. Untuk mengingatkan kembali bahwa ada etika-etika yang harus dilewati ketika proses ta’aruf berlangsung dan sahabat gue harus siap menaati apa yang diperintahkan oleh Allah dan mengesampingkan perasaannya terlebih dahulu. Bisa jadi, apa yang dinilai baik di mata sahabat gue, belum tentu baik di mata Allah. Karena rencana Allah, selalu lebih indah dari rencana kita yang terindah, bukan? Maka percayalah, semua itu akan indah pada waktunya.

Sahabat gue mengangkat kepalanya, mengusap air matanya yang tadi sukses meluncur bak air terjun di kedua pipinya, “Dhir, dia bilang : ‘Suatu saat nanti, ketika aku tahu ternyata kamu masih sendiri, aku akan mencoba lagi. Aku berdo’a untukmu, semoga Allah selalu menemanimu.’

Gue hanya sanggup mengangguk, ikut membantunya mengusir pergi air matanya yang tadi sempat turun dengan ibu jari gue, “I know…I know. Gue tahu, lo pasti bakal dapet pangeran yang terbaik, dengan kualitas yang oke punya. Sekarang, jalani dulu prosesnya. Kasih waktu buat diri lo sendiri beberapa hari untuk nenangin diri, ya. Tell me if you need me, dear.”

Sahabat gue mengangguk. Ia tersenyum sekarang, “Saatnya membenahi hati gue ini yang berserakan. Jangan pergi kemana-mana ya, Dhir. Please, ada di samping gue dan terus ingetin gue sampe hati gue ini mulai kembali pada tempatnya. Makasih, karena elo selalu ada untuk gue apapun kondisinya.”

Senyum sahabat gue menular dan gue jadi ikutan senyum juga. Sahabat gue tahu, klo gue juga sedang merasakan hal yang sama. Kejadian yang ketika gue inget kembali, cuplikan lagu ini yang berputar untuknya, 


“The more you go through, the stronger you’ll get
One more step, two more steps
Just walk slowly
Follow the light that is hidden in your heart

Even if you freeze
Even if all the dreams you wanted break apart
Like the start that shines in your heart
Because, you are like diamond
I know you'll shine brighter…”

Ini bukan masalah sakitnya hati, hilangnya harapan. Bukan masalah kekecewaan, redupnya keinginan. Ini hanya masalah pertanyaan yang harus gue tanya lagi dalam diri gue lebih dalam melalui secuil ujian yang Allah berikan ke gue. “Jadi seberapa besar gue mencintai Allah dan mau merelakan cinta gue yang belum saatnya kepada sesama manusia? Now, I’m ready. Now, I know.”

Makin percaya dan meyakini bahwa Pangeran gue pasti datang tepat waktu. Kalau bukan orang lain, ya pasti kamu :) Tinggal bagaimana gue sabar menunggu, sabar menjalani prosesnya, terus semakin bergerak naik ke atas tangga memperbaiki diri. Ntah diujung tangga gue akan berakhir bertemu dengan orang lain atau dengan dia. 

Terakhir, satu yang gue percaya dan gue yakini : bahwa hanya Allah-lah Sang Maha Pemberi Kejutan yang Manis…

Bogor, 8 Maret 2015
Hatiku untuk Allah dan Hatimu juga untuk-Nya
Maka percayalah, 
hati kita akan ditempatkan di tempat seharusnya oleh-Nya

20 comments:

  1. ah kak dhira, makin matang karya-karyanya. makin suka :))

    ReplyDelete
  2. Dalem banget, *peluk sahabat mbak dhira*

    ReplyDelete
  3. menyentuh , dan ini realita yang dialami para wanita :')

    ReplyDelete
  4. Kagum sama prianya.Tapi kurang setuju dengan caranya di awal.

    Kalau belum siap, kenapa sudah bilang mau datang beberapa bulan lagi? Kasihan kan wanitanya?

    Sebelum siap, lebih baik rasa di pendam dulu. Untuk kedua hati. Kalau seperti ini, aku yakin kedua hati itu sedang berserakan. Alhamdulillah dua-duanya paham agama dan punya teman baik, hingga bisa mengendalikan diri.

    Tapi salut buat keduanya. Moga berjodoh dgn jodohnya yang terbaik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sahabat gw dl tahu pria itu suka dan akhirnya dia memastikan sendiri supaya jelas, kapan mau serius berkomitmen. Pria itu bilang, "dua bulan lagi." :)

      It's okay. Dua2nya sudah bisa membereskan hati masing2. Kalaupun cara mereka ada yg kurang tepat, Allah sudah menegurnya dengan kejadian ini, kan? :)

      Namanya juga manusia, apalagi sudah bermain dengan perasaan, susah sekali diaturnya. Kalaupun sang pria tahu kalau caranya bilang duluan sebelum blm benar2 siap itu kurang tepat, ya itulah, namanya juga perasaan. Sulit untuk ditahan hehe

      Yang jelas dari kejadian ini, dua2nya sama sama belajar. Itu yg terpenting, kan? :)

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
    3. iya ya soal perasaan kadang mengalahkan logika. bahkan mereka yang paham hukumnya.

      aku salut buat mereka berdua. Karena sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang kembali.

      Tak peduli bagaimana awalnya, yang penting akhirnya keduanya belajar dan intropeksi diri.

      Sekali lagi salut buat keduanya dan terimakasih sudah klarifikasi :)

      Delete
  5. Pagi-pagi baca tulisan ini jadi terdiam. Masa-masa kek gini sudah sy lewati, tapi punya anak cewek saya kudu paham juga gimana perasaan wanita kalo tar anak ngalamin kejadian kek gini.

    Nice story. Like it.

    ReplyDelete
  6. gentel tuh mas nya yg ngalah.

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  8. Bagus ceritanya kak suka banget cara penulisan dan penyampaiannyaa..

    ReplyDelete
  9. Sahabat hanya membereskan hati yang berserakan :)

    ReplyDelete
  10. dhira, izin repost beberapa paragraf dari posting kamu ya..
    nanti tetap kucantumkan sumber nya dari blog Dhira :)

    ReplyDelete
  11. Nangis aku bacanya mbak dhiraa :')
    Di bagian mbak tulis "Jadi seberapa besar gue mencintai Allah dan mau merelakan cinta gue yang belum saatnya kepada sesama manusia?"

    Seakan pertanyaan itu kena ke aku juga :)

    ReplyDelete
  12. Aku repost ya mbak, aku cantumin juga alamat blog mbak :)
    Terimakasih mbak dhira :)

    ReplyDelete
  13. Intinya, cerita Kak Dhira udah bisa menginspirasiku... Thanks, Kak. Hehe.. :D

    ReplyDelete
  14. Hanya bisa berdoa untuk Mbak Dhira dan sahabatnya, Semoga Allah Swt. memudahkan kalian berdua bertemu dgn jodoh masing-masing... Aamiin

    ReplyDelete