Saturday, 19 December 2015

Ketika Aku Merindukannya

-SERIAL VOLKERT FAMILY 3-

Baca ini dulu, sebelum melanjutkan (klik link) ~> Volkert Family Trees & Sinopsis Cerita

Assalamu’alaykum, Keinan.
Apa kabarnya? (09.05)
Keinan Dimitri Volkert
Wa’alaykum salam
Alhamdulillah, baik (10.47)

Aku menarik nafas panjang. Mengapa selalu begini? Perasaanku padanya sudah terlalu lama aku simpan. Tidakkah ia menyadarinya? Semua chatku padanya selalu berbalas dingin. Tak pernah aku merasakan ada emosi dalam semua jawaban chatnya. Jarang sekali ia menjawab chatku dengan segera. Tidak tahukah ia, menit demi menit setiap aku menunggu jawaban chatnya sungguh menyiksa? Khawatir aku salah bicara, khawatir kata-kataku tidak seharusnya. Tidak bisakah kamu, menjawab chatku yang hanya bertanya kabar dengan segera?

Kenapa kamu dingin sekali, Keinan? 

Aku mencoba mencari topik. Rindu ini sudah sampai pada taraf tidak seharusnya. Aku merindukannya. Merindukan jawaban chatnya, walaupun hanya satu kata, walaupun berdurasi lama.

Aku mau mengembalikan buku.
Kapan kira-kira kamu ada waktu? (10.49)
Keinan Dimitri Volkert
Titip Lilian aja ya (11.35)

Desahan kecewa datang tak kunjung henti datang silih berganti. Selalu begitu. Tidak pernah ia punya waktu untuk bertemu denganku. Selalu melalui adik perempuannya, selalu.

Ga bisa langsung dikasih ke kamu aja, ya?
Hehe :p (11.37)
Sepuluh menit…
Dua puluh menit…
Masih tidak ada jawaban.
Handphoneku bergetar, tanda ada pesan Whatsapp yang masuk. Tanpa buang waktu langsung aku buka.

Rima Cahya Ningsih
Hari ini jadi dateng seminar ga, sop? (12.15)

ARGGHH, kok malah Rima sih yang nge chat. Ngeselin. Lama banget sih Kei, jawab chat doang??! Jawab dong, jawaabb.  Ga tahu lagi kangen apaaa!! Cuma jawab chat doang, Masya Allah.

Aku buka kembali obrolan chatku dengan dia. Kenyataannya semakin membuatku kesal. Lambang centang dua berwarna biru menandakan dia sudah membaca chatku. Tapi kenapa sih, kok ga di bales? Sumpah, Kei. Ngeselin abis tau ga.

Cie, cuma di read doang -,-“ (12.16)

Tanda centang dua berwarna biru muncul kembali. Keinan Dimitri Volkert is typing. Jantungku serasa mau meledak. Jari-jari tanganku mulai terasa dingin.

Keinan Dimitri Volkert
Lilian. Titip bukunya ke Lilian (12.17)

Rasanya ingin aku lempar handphone kesayangan yang sudah berhasil dengan tahannya menemaniku selama beberapa tahun belakangan ini. Jahat banget kamu, Kei. Serius. 

Aku berjalan putus asa di lorong panjang gedung tua ini. Angin kencang bertiup melantunkan bunyi menyeramkan yang bergema di dalam gedung. Jari-jariku yang panjang bergerak mengencangkan jaket berwarna cokelat kusamku dan terus berjalan ke arah ujung lorong. Akan ada seminar di sini, berharap Keinan datang. Setidaknya kerinduanku yang amat sangat ini dapat terobati hanya dengan melihat sosoknya.

“Wann kommt er eigentlich?“ Ujar suara berat menggema di sekitar lorong. Bahasa Jerman? Sepertinya aku tahu itu suara siapa. Senyumanku mengembang, harapanku mulai melambung tinggi. Kupercepat langkahku untuk menjawab rasa penasaranku.
“Weiß ich auch nicht.“ Jawab suara berat lainnya, sambil terbatuk.
“He’s not coming, bro.“ Suara berat yang lainnya lagi menjawab.
“Kenapa?” Suara berat yang pertama kali aku dengar menjawab dengan Bahasa Indonesia. Aku berhenti, memiringkan kepalaku untuk melihat siapa pria-pria yang dari tadi berbicara. Berharap dugaanku benar. Dan ternyata memang benar.

Di sana, di ujung lorong ini, berdiri tiga orang pria berbadan tinggi besar sedang asik mengobrol. Satu diantaranya yang aku ketahui bernama Nindra, sedang duduk di atas bangku panjang dan dua orang lainnya, Ezra dan Aidan berdiri sambil memegang gelas plastik putih yang mengepulkan asap dari dalamnya. Kopi sepertinya.

Sudah kuduga, para pria Volkert. Semuanya berumur sama denganku, dua puluh enam tahun. Mereka semua adalah keturunan campuran Jerman dan Indonesia. Ayah-ayah mereka kakak beradik, semuanya memiliki karakteristik sama; berbadan tinggi 180an sentimeter, berbahu bidang dan besar dengan jenis suara yang berat. Bertahun-tahun aku kenal mereka, sudah jelas mereka memiliki karakter alis yang sama, menghujam panjang seperti pisau dan lebatnya seperti hutan rimba.

Aura mereka menyeramkan, tetapi ntah mengapa memikat. Banyak yang menjuluki mereka F4, Meteor Garden atau kadang Boys Before Flower haha. Karena mereka memang selalu terlihat kemana-mana berempat dan saling melindungi satu sama lain. Satu lagi, mereka terkenal protektif dan sangat melindungi saudara-saudara perempuannya yang terkenal cantik-cantik itu.

Tapi, ada satu yang kurang. Harusnya mereka berjumlah empat orang. Keinan, kemana?

“Ehm” Aku berdehem. Ezra yang berambut lurus agak ikal, yang panjangnya hampir sebahu itu menoleh. Ia tersenyum lebar dan menyapaku dengan suara beratnya, “Halo, Sofushka.” Kedua sepupunya ikut menoleh dan tersenyum jahil, “Sonyaa, long time no see.” Kali ini Nindra yang menjawab dengan riang. Aidan hanya tersenyum tanpa bicara.

“Namaku, SOFIA bukan Sofushka atau Sonya.” Jawabku setengah berteriak, lalu cemberut. Ezra tertawa terbahak-bahak, rambut panjang ikalnya bergerak-gerak ringan seiring gerakan bahunya, “Sama aja, toh. Artinya sama-sama Sofia. Ya kan, Ndra?” Yang ditanya hanya mengangkat-angkat alisnya sambil tersenyum jahil.

“Panggilan Bahasa Jerman?” Tanyaku penasaran.
“Bukan, Rusia,” Kali ini Aidan yang menjawab. “sama aja kayak kita bertiga manggil Dimitri dengan sebutan Mitya. Anggap aja nama kecil. Nickname, you know.

DEG. Jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat. Selalu begitu kalau nama Keinan disebut-sebut. Detak jantungku mulai tidak bisa diajak kompromi. Keinan Dimitri Volkert…Keinan Dimitri Volkert…

ARRGGHHH, KENAPA SIIH??!!

“Kamu kenapa?“ Alis kanan Aidan terangkat tinggi. Aku menoleh gugup, enam pasang mata tiga pria berbadan besar itu menatapku dengan penuh tanda tanya. Khawatir ketahuan, aku mengalihkan pandangan ke arah jendela, “Jadi kalau aku dipanggil dengan sebutan seperti itu tandanya hubungan kita dekat begitu?“ Tanyaku dengan suara sok ditenang-tenangkan.

Nindra berdiri, membuang gelas plastik kosong ke tong sampah yang berada tidak jauh dari tempat dia duduk, lalu menoleh menatapku kembali, “Setidaknya bukan orang asing.“ Ujarnya sambil mengangkat bahu.

Aku tersenyum senang, jarang-jarang aku dapat kesempatan mengobrol dengan mereka, “Ngomong-ngomong, tumben cuma bertiga? Keinan ga ikut seminar?“ Tanyaku hati-hati.

Ketiga pria Volkert itu menatapku dengan tatapan menyelidik. Berusaha mencari celah sepertinya. Aku benar-benar menjaga ekspresi muka agar tidak terlalu terlihat gugup. Menyebut nama Keinan itu sudah merupakan goncangan berat untuk jantungku sendiri, sekarang aku diamati oleh sepupu-sepupunya pula,“Maksudku, biasanya kalian selalu berempat.“ Lagi-lagi berusaha menjelaskan.

Ezra tersenyum jahil, seakan tahu sesuatu lalu melirik ke arah dua sepupunya. Kedua sepupunya membalas dengan ekspresi yang tidak terbaca. Ntah kenapa, aku merasa mereka selalu punya bahasa sendiri yang hanya mereka saja yang mengerti tanpa harus bicara.

“Dia ada urusan. Tapi bisa jadi datang.“ Nindra menatapku, tatapannya masih menyelidik. Handphoneku tiba-tiba bergetar, seolah-olah menjadi penyelamat suasana yang ntah mengapa berhasil membuatku resah. Ada satu pesan whatsapp, langsung aku buka sebagai pengalihan:

Rima Cahya Ningsih
Gila, berani amat lo ngomong sama tiga orang ituu??
Aaaa, Aidan ganteng banget Ya Allah.
Sop..ya ampun soopp. NGIRII!!
Sementara gue hanya bisa memperhatikan dari balik
Pintu :(( (13.00)

“Oh, Mitya dateng ternyata.“ Aidan tiba-tiba bicara. Pandangannya tertuju ke arah belakangku. Wangi parfum khas pria tiba-tiba tercium begitu dekat. Wangi yang tidak asing, parfum yang selalu menandakan kehadirannya karena wanginya yang berbeda dari parfum-parfum lain. Oh my  God, bahkan aku tidak berani menoleh ke arah belakang.

Aku merasakan seseorang datang mendekat. Sambil berdiri gelisah, tidak tahu harus melakukan apa saking paniknya, aku hanya berhasil  menatap pohon-pohon yang bergoncang karena tertiup angin kencang di luar jendela.

Bayangan di belakang mulai terasa mendekat, aku menoleh ke arah kiri dan muncullah pria yang selama ini aku tunggu kehadirannya, aku impi-impikan sosoknya, aku rindukan jawaban chatnya. Ia, Keinan Dimitri Volkert sang pria dingin yang jarang merespon setiap chatku. Tubuhnya sama menjulangnya seperti sepupu-sepupunya. Hari ini ia memakai model baju sederhana, sweather putih berlengan panjang yang juga menutupi lehernya yang putih dan celana jeans hitam. Pakaiannya sederhana, tetapi selalu tampak memikat kedua mataku yang haus akan dirinya ini. Ya ampun Sop, jaga pandangan Sop…

Keinan menoleh ke arahku, aku menatapnya terpaku tak bisa berkutik, ntah kenapa aku merasa ketiga sepupunya yang berdiri di ujung lorong itu seakan menangkapku basah. Tapi aku tidak peduli, Keinan ada di sini! Di depankuu. Ya ampuunn!! Handphoneku terus bergetar, sepertinya Rima terus mengirimkan pesan via whatsapp karena dia dari tadi memperhatikan dari balik pintu.

Aku bingung harus menyapa seperti apa dan bodohnya kedua mataku tiba-tiba terpejam karena malu yang muncul mendadak, “Oh halo, Sonya.“ Sapaan suara berat yang indah itu berhasil meyakinkan kedua mataku dengan cepat terbuka kembali. Keinan tersenyum simpul kepadaku dan berjalan menuju ke tempat sepupu-sepunya berdiri di ujung lorong.

“KEINAN TADI MANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN SONYA?? OMG OMG OMG!! TANDANYA HUBUNGAN KITA DEKAT KALAU BEGITU KAN? YA AMPUN, YA AMPUUN, MIMPI APA GUE SEMALEEMM!!“ Teriakku dalam hati.

Tanganku gemetar, aku tahu ini berlebihan. Aku tahu ini lebay. Tapi mendapatkan fakta bahwa Keinan memanggilku dengan panggilan lain yang menurut sepupu-sepupunya sebagai panggilan yang ‘akrab‘ membuatku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Ya Ampuuunn.

Para gerombolan pria-pria Volkert itu berjalan menuju ke arahku karena ruang seminar berada persis di belakangku. Mereka asik mengobrol dengan bahasa campur aduk yang hanya aku mengerti sebagian. Empat orang pria berbadan tinggi besar itu melewatiku dengan satu anggukan ringan. Ezra berjalan paling akhir diantara mereka dan berbisik sebelum pergi meninggalkanku sendirian, “Hari yang indah bukan, nona?“

Aku terdiam, meresapi kalimat terakhir yang dibisikkan Ezra lalu memandang ke luar jendela; angin semakin kencang dan awan semakin gelap. Sadarlah aku, bahwa aku sudah tertangkap basah.

Sambil mengutuk pelan karena tidak berhasil mengatur emosi, akhirnya aku menyadari satu hal fatal yang membuatku kesal setengah mati...
.
.
.
.
yah, aku lupa mengembalikan buku.
---------------------
Volkert Family 1, Chat Room Keluarga Masa Kini 1 : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/chat-room-keluarga-masa-kini-1.html
Volkert Family 2, Ketika Cinta Begitu Berat : http://www.nadhiraarini.com/2015/09/ketika-cinta-begitu-berat.html

7 comments:

  1. Aaaakkkk ini dari versi si cewek ya? Akhirnya ngena banget, hari yang indah ya nona? Meaningnya kena semua XD

    ReplyDelete
  2. Dhir, gimana kalo ini dibukuin. Buat seriesnya *seenaknya jidat*
    Lanjut dong Dhir, lanjooooot

    ReplyDelete
  3. Ka dhira..ngena banget ih.. ��

    ReplyDelete