Saturday, 27 February 2016

STORY BLOG TOUR 2, Ep 10 : Memori yang Kembali

Visi? Idealisme pernikahan? Ceramah singkat Bang Togar tadi yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan apa yang aku pikirkan di kepala, seakan-akan menarikku kembali kebagian yang tiba-tiba aku lupakan ketika pada akhirnya aku bertemu mantan suamiku itu setelah sekian lama. Sesuatu yang hilang, sebuah ingatan menakutkan yang tiba-tiba kembali.

Sebuah ingatan kelam, yang ntah mengapa bisa aku lupakan. Lalu ingatanku berkelana. Menarikku kembali ke kenangan pahit yang hilang… 

Saat itu juga, aku ingin muntah…
Kalian tahu, aku mencintai Revan. Mencintainya dalam batas sewajarnya seorang istri mencintai suaminya. Aku pikir ia juga sama, tetapi ternyata kadar cintanya jauh berkali-kali lipat lebih besar dari apa yang aku duga. Jauh berbulan-bulan yang lalu, ketika petir datang menyambar berkali-kali membuatku berteriak ketakutan dan tanpa sadar berlari bersembunyi di ruang kerja Revan—aku menyentuh apa yang seharusnya tidak aku sentuh. 

Dua buah dadu yang secara tidak sengaja tergeser ketika tubuhku menabrak meja kerja Revan, tiba-tiba menggelinding masuk ke dalam suatu lubang di sudut meja kerjanya. Lantai yang aku injak tiba-tiba berguncang dengan hebatnya, lalu membelah terbuka memperlihatkan sebuah pemandangan yang membuat kedua mataku hampir keluar dari tempatnya—tangga. Aku melihat sebuah tangga yang mengarah ke suatu tempat gelap jauh di bawah tempat aku berpijak.   

Ntah dorongan apa yang membuat kedua kakiku melangkah turun mengikuti liukan tangga yang dingin ke bagian bawah tanah rumah yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Lampu-lampu tersembunyi di dinding, tiba-tiba menyala disetiap pijakan, menerangi langkahku menuju bagian lain rumah yang sudah aku tinggali semenjak aku menikah bersama Revan.

Lalu nafasku tercekat, aku berdiri di suatu ruangan besar berisi ribuan foto-fotoku di setiap dinding-dindingnya. Semua disusun berdasarkan tahun yang tertulis dengan angka kayu jati hitam di bagian atas. Tahun ketika aku kuliah, tahun ketika aku pertama kali bertemu dengannya, foto-fotoku ketika aku menangis diam-diam di sudut kelas, fotoku ketika aku sedang menatap orang dengan amarah, ya ampun. Dari mana Revan mendapatkan ini semua?

Tubuhku bergetar hebat, aku menggigil sekarang. Kedua kakiku melangkah tidak beraturan menuju sebuah papan besar yang berdiri di tengah ruangan. Dan apa yang aku lihat, membuatku tercekat.

Di papan itu, terpampang jelas puluhan rencana besar. Rencana yang disusun rapi untuk menutupi segala kecerobohanku yang terjadi selama ini. Kesalahanku ketika aku tanpa sengaja membuat rekan kerjaku dimarahi atasan, tiga jam kemudian tiba-tiba ia bersikap baik kepadaku tanpa raut kebencian yang beberapa jam sebelumnya jelas-jelas terlihat dari kedua mata kelamnya. Kesalahanku ketika aku menghilangkan buku modul kuliah temanku sehingga ia marah besar, sehari setelahnya tiba-tiba ia memelukku dengan erat dan mengatakan bahwa buku itu hilang karena kesalahannya bukan karena kesalahanku. Masalah menyakitkan yang tiba-tiba timbul ketika aku akan menikah dengan pria yang dijodohkan denganku tetapi tiba-tiba ia hilang tanpa jejak dan beberapa hari setelahnya Revan datang sebagai penolong, mengobati luka hatiku yang menganga dengan lembut, lalu ia melamarku sebulan setelahnya.

Jadi ini semua, bagian dari rencananya? Menyelesaikan semua masalah yang aku lakukan karena karakterku yang ceroboh, lalu melakukan sesuatu kepada orang-orang yang terlibat masalah denganku, kemudian membuat itu semua seolah-olah menjadi kesalahan mereka bukan kesalahanku? 

Aku pikir, hidupku selalu beruntung. Ternyata aku salah besar. Membuatku menikah dengannya juga sudah menjadi bagian dari rencana Revan jauh berbulan-bulan sebelum aku bahkan mengenalnya. Ya ampun, aku menikah dengan siapa? Monster?

“Kamu seharusnya tidak di sini, sayang…” Suara yang seharusnya menyenangkan, tiba-tiba berubah menakutkan dibalik leherku.

Aku meloncat karena kaget, menoleh kebelakang dan berteriak, “Aku ingin cerai.” Kata-kata itu tiba-tiba keluar dari bibirku yang bergetar. Raut wajah Revan mengeras. Ia mendekat, aku mundur dengan cepat menabrak barang-barang di tengah ruangan sehingga membuatku jatuh terjengkang, “Jangan…aku mohon. Ceraikan aku, sekarang.” 

Gerakan Revan cepat, kedua tangan besarnya sudah menyentuh pipiku sekarang, “Kalau itu yang kamu mau, sayang. Kamu tahu, aku selalu mengabulkan apa yang kamu mau kan..,” ujarnya menyeringai. “tapi ingat, suatu saat kamu akan kembali kepadaku, kalau aku mau, Dibaku yang manis.”

Angin dingin tiba-tiba berhembus masuk ke dalam ruang bawah tanah ini, lalu semuanya menjadi gelap. Ketika aku terbangun, hal yang aku ingat adalah aku sudah bercerai dengannya karena kebodohannya mengucapkan kata ‘talak’ setelah menonton film menjengkelkan berjudul “Talak 3”. Air mataku turun karena kesal mengingat kebodohannya mengatakan kata-kata berbahaya akibat latah sialnya itu. 

Tangisanku belum berhenti, ketika tiba-tiba telepon genggamku berdering dan aku diundang wawancara kerja sebagai jurnalis di perusahaan media massa milik Bang Togar. Suasana hatiku berubah, setidaknya aku bisa melupakan Revan dan bekerja di tempat yang selama ini aku inginkan…

Tanpa aku sadari, bukan aku yang mengirimkan surat lamaran kerja itu. Bukan karena alasan latah sial itu, aku bercerai dengan Revan…

****

Ya Tuhan, ada apa dengan memoriku? Apa yang terjadi denganku? Apakah bertemunya kembali aku dengan Revan di cafe itu untuk wawancara adalah bagian dari rencananya juga? Tiba-tiba aku merasa bahwa aku gila. Kepalaku berdenyut.

“Diba? Kamu kenapa?” Revan tiba-tiba berdiri dihadapanku. Oh Tuhan, jangan. Janji itu, ia memang berencana menemuiku di kantor. “Diba?” Revan mengerutkan keningnya.

Aku mundur, bersiap berlari pergi, “Diba? Bang Togar memarahimu lagi, ya?” Ujarnya dingin. Aku berhenti. Merasa ada sesuatu yang salah dibalik kata-kata Revan. Akhirnya aku menyerah, kemudian memberanikan diriku sendiri untuk menatapnya. Revan tidak menatapku sekarang, matanya menatap dengan penuh kebencian kepada Bang Togar yang terlihat sedang menelepon di dalam ruangannya.

“Revan jangan, kumohon. Jangan sakiti orang lain lagi. Ini murni kesalahanku.” Ujarku memohon.

Revan mengalihkan pandangannya ke arahku sekarang, senyuman misterius yang pada akhirnya bisa aku ingat setelah sekian lama aku lupakan kembali lagi, “Ah, ternyata kamu sudah ingat ya, sayang. Ingatanmu di ruangan bawah tanah itu, ingatan yang aku hapus…” Revan tertawa mengerikan, tapi kenapa di kantor ini tidak ada yang peduli akan kehadirannya?

“Sudah saatnya, manis…,”ujarnya sambil mendekat, “kamu kembali kepadaku. Sudah kukabulkan permintaanmu untuk bercerai, kan? Cukup membuatku menderita, sayang.” Revan mendekat ia menyalakan sebuah alunan nada aneh dari telepon genggamnya, tiba-tiba aku tidak dapat bergerak. Revan sudah berjarak sangat dekat denganku sekarang, kemudian ia berbisik ringan di telingaku, “Aku sudah bilang, kamu akan kembali kepadaku kalau aku mau, Dibaku yang manis.”

Musik aneh itu mengalun semakin kencang membuatku tersihir terlalu dalam, terlalu kelam, menarikku kembali masuk ke dalam lubang hitam yang pekat. Lalu kemudian semuanya menjadi gelap.
-----------------------
Hallo, Tulisan ini adalah bagian dari Story Blog Tour kedua dari OWOP satu. Saya Nadhira Arini, melanjutkan episode ke 10 di dalam Story Blog Tour ini. 

Episode-episode sebelum dan berikutnya ada di blog teman-teman OWOP yang lain, yaa. Bagi yang penasaran, silakan mampir ke alamat blog di bawah inii :

Ep 10, Memori yang Kembali by Nadhira Arini
Ep 11, selanjutnya di blog ~> Mesin Waktu Revan by Essenza Quranique B

Selamat MEMBACA! Semoga terhibur dan harap bersabar menanti episode selanjutnyaa :D

No comments:

Post a Comment