Monday, 15 February 2016

Permohonan Terakhir Sepasang Cincin

(Serial Volkert Family 9,dari sudut pandang sepasang cincin)

Baca ini dulu, sebelum melanjutkan (klik link) ~> Volkert Family Trees & Sinopsis Cerita

Genre : Romance, Tragedy
Sinopsis : Seandainya kalian berdua tahu, kami hanya ingin berada di jari manis kalian, bukan di jari manis orang lain.

Word Count : 721/1500

Pria itu menurut kami luar biasa tampan. Kedua alis lebatnya indah mewarnai wajahnya. Rambut hitamnya yang legam terlihat bersinar jika terkena sinar matahari. Wajahnya teduh, menentramkan siapa saja yang menatapnya. Ia adalah seorang pria berbadan tinggi besar pemilik senyuman yang amat sangat menawan.

Suatu hari kami melihatnya datang ke toko tempat kami tinggal. Ia datang dengan setelan formal bernuansa biru tua tampak luar biasa elegan di siang itu. Sepertinya di tengah istirahat siangnya, ia menyempatkan diri untuk mampir ke toko kami. Lalu ia berbicara dengan sang pemilik toko dengan antusias. Suara baritonnya yang khas, benar-benar menyejukkan di tengah-tengah cuaca yang sangat panas hari ini.

Tiba-tiba pemilik toko datang mendekati kami dan kemudian mengangkat kami. Pria tampan itu bergerak mendekat dan memperhatikan kami dengan senyuman puas. Ia mengangguk segera lalu mencoba salah satu dari kami di jari manis kirinya yang panjang, “Sempurna.” Kami mendengarnya berkata dengan suara riang. Terakhir yang kami tahu, tempat tinggal kami berpindah dari toko tua ke kamarnya yang besar.

Di kamarnya, ia meletakkan kami di dalam sebuah laci dengan model ukiran klasik. Sesekali ia membuka lacinya dan mengangkat kami. Jari-jari tangannya yang lembut, menggelitik kami dan membuat kami berteriak frustasi ingin segera dipakai. Kemudian ia tersenyum ketika mengangkat temanku yang berukuran lebih kecil, “Sebentar lagi, pemilikmu akan segera memakaimu, sabar ya.” Ujarnya lembut. Temanku melirik ke arahku dan kami sama-sama tertawa. Pria itu melirik jam di dinding, kemudian meletakkan kami di atas meja. Kami melihatnya mengambil sebuah benda di atas meja yang tampak seperti sebuah buku dan ia mulai membaca dengan suaranya yang mengalun indah. Merdu sekali, menentramkan hati. Buku apa yang sedang ia baca? Bahasa aneh apa yang sedang ia lantunkan?

Tak lama kami tahu, buku yang ia baca itu bernama Al-Qur’an dan pria tampan itu selalu melantunkan apa yang ada dalam buku itu setiap hari. Bahkan jika sepupu-sepupunya yang ternyata tidak kalah tampan dengannya itu datang, mereka membacanya bersama-sama. Terkadang, buku itu hanya mereka pegang, tetapi mereka tetap melantunkan apa yang di dalam buku tersebut tanpa membuka buku tersebut! Sepertinya mereka hafal segala hal yang ada di buku tersebut di luar kepala. Kami, yang hanyalah sebuah benda hanya bisa berdoa semoga dapat mendengarkan isi buku itu setiap saat. Indah sekali didengarnya...

Tetapi entah sudah berapa lama kami diam di dalam laci dan kami tidak mendengar apapun di kamar ini. Tidak ada suara selama beberapa hari. Sepertinya sang pemilik kamar sedang pergi. Rasanya sudah berminggu-minggu lamanya kami di sini tanpa ada sentuhan hangat dari pria tampan itu.

Hingga suatu hari...

Laci klasik ini terbuka, kamipun diangkat. Kami bersorak gembira, tetapi ketika pada akhirnya kami menatap wajah tampannya, air mata tiba-tiba turun dari matanya yang tajam dan ia mengalihkan wajahnya. Tangan kanannya menggenggam erat baju lengan panjangnya yang berwarna abu-abu dibagian dada dan iapun mulai menangis. Ada apa dengannya?

Sorot mata bahagia hilang dari kedua matanya. Tatapan matanya redup, wajahnya berubah sangat tirus, pucat seperti mayat hidup. Tangannya bergetar hebat dan pada akhirnya meletakkan kami begitu saja di atas meja. Kami melihatnya mengambil Al-Qur’an yang ternyata sudah berpindah ke dalam tas ranselnya. Akhirnya, setelah sekian lama, kami dapat mendengarnya kembali membaca buku yang bernama Al-Qur’an tersebut. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini bacaannya diiringi isak tangis membuat pilu siapa saja yang mendengarnya.

Tak jauh dari tempatnya duduk, terdapat tempat sampah berwarna hitam tampak penuh berisi puluhan jenis sampah yang sama, undangan pernikahan. Designnya yang unik dan cantik, tidak dapat mempengaruhi keputusan sang pria tampan untuk meletakkannya di tempat lain.Mereka teronggok tak berdaya di dalam tempat sampah, sisa undangan pernikahan yang belum sempat di sebar beberapa minggu yang lalu. Aku dan temanku yang berukuran lebih kecil saling bertatapan, berharap semoga sang pria tampan itu tidak mengakhiri hidup kami di sana. Temanku sudah pasrah, bahwa ia tidak akan pernah melingkar dengan anggun di jari manis pemilik seharusnya. Bahwa aku juga, pasti akan segera disingkirkan sebentar lagi, karena keberadaanku hanya akan menyakiti pria tampan itu berulang kali.

Lalu kotak biru tua tempat kami tinggalpun ditutup, gelap menyelimuti kami. Yang kami tahu, kami berdua dibawa ke suatu tempat oleh pria tampan itu, ntah ke mana. Kemanapun asalkan kami berguna di jari orang lain, bukan di tempat sampah atau di tempat manapun yang membuat kami merasa terhina.

“Kami hanya ingin berada di jari orang yang berbahagia, ntah siapapun orangnya. Tolong jangan buang kami.” Setidaknya hanya itu, permohonan kami yang terakhir.
---------------------------------
Volkert Family 1, Chat Room Keluarga Masa Kini 1 : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/chat-room-keluarga-masa-kini-1.html
Volkert Family 2, Ketika Cinta Begitu Berat : http://www.nadhiraarini.com/2015/09/ketika-cinta-begitu-berat.html
Volkert Family 3, Ketika Aku Merindukannya : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/ketika-aku-merindukannya.html
Volkert Family 4, Chat Room; Keluarga Masa Kini 2 - Salah Jalan : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/chat-room-keluarga-masa-kini-2-salah.html
Volkert Family 5, Ketika Kenyataan Itu Memilukan : http://www.nadhiraarini.com/2016/01/ketika-kenyataan-itu-memilukan.html
Volkert Family 6, Buku Catatan Terkutuk : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/buku-catatan-terkutuk.html
Volkert Family 7 : Namamu Siapa? : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/namamu-siapa.html
Volkert Family 8 : Hati yang Tertusuk Puluhan Anak Panah http://www.nadhiraarini.com/2016/02/hati-yang-tertusuk-puluhan-anak-panah.html

1 comment:

  1. Assalamu'alaikum. Halo, Dhir. Salam kenal :)
    Aku udah ngikutin Volkert Family sejak beberapa waktu yang lalu. Waah, bener-bener berasa baca cerita detektif. Kudu baca bolak-balik buat nemuin siapa sebenarnya yang dimaksud dalam cerita.

    Awalnya kupikir Keinan yang bakal jadi tokoh sentral pertama kali. Ternyata semakin ke sini malah Keinan hampir gak dibahas sama sekali kecuali setelah ketauan kalo sebenarnya Sofia suka sama Keinan dan bukan sepupunya. Masalahnya, aku masih nebak-nebak kira-kira sepupu yang dimaksud itu siapa? Trus, soal buku itu dan penemunya (Salah satu Volkert bersaudara).

    Penasaran bakal kayak gimana endingnya. Sukses terus ya... :D

    ReplyDelete