Tuesday, 15 March 2016

Saat Empat Malaikat Turun Ke Bumi...

-Berhubung komentar di postingan Apa Pendapat Kalian Tentang Serial Volkert Family? sudah lebih dari 20 sebelum tanggal 20 Maret, aku kasih bonus. Posting serial baru lebih cepaat. Khusus untuk kaliaann :) Thanks for comment and SELAMAT MEMBACAA!! :) -


****
Volkert Family 13, dari sudut pandang mahasiswi semester empat jurusan “Ernährungswissenschaften” Martin-Luther-Universität Halle-Wittenberg. 

Baca ini dulu sebelum melanjutkan (klik link) ~> Volkert Family Trees & Sinopsis Cerita

Genre : Comedy
Sinopsis : Ini pasti malam yang diberkati Allah karena ada empat malaikat turun ke bumi dan mampir untuk shalat Maghrib berjamaah di Masjid Indo, Berlin. Surga dunia memang ada, kawan. Percayalah.

Word Count : 2085/2500

Hari ini, untuk kesekian kalinya aku dan para mahasiswi Halle lainnya berkunjung kembali ke Kota Berlin untuk menghadiri pengajian rutin bulanan di Masjid Al-Falah. Sebenarnya kami tinggal di Kota Halle, kota kecil yang damai di Negara Bagian Sachsen-Anhalt. Cukup jauh dari Berlin dan biasanya kami membutuhkan waktu kurang lebih dua jam menggunakan kereta regional untuk sampai ke ibukota negara ini. 

Sebenarnya perjalanan ini seharusnya terasa panjang, tetapi bagi kami perjalanan Halle-Berlin ini tidak pernah terasa melelahkan karena kami selalu pergi berombongan. Rombongan ‘akhwat-akhwat Halle’ orang-orang biasa menyebut kami. Karena kami semua memakai kerudung panjang, rok lebar, kaos kaki yang menutup kaki kami dan tampak seperti wanita alim dari sudut pandang orang-orang. Tak apa, lebih baik disebut alim dibandingkan orang jahat, kan? Eh satu lagi, heboh. Namanya juga rombongan wanita-wanita, pasti berisik ya cerita sana sini selama perjalanan. Jadi untuk lebih lengkapnya kami adalah rombongan akhwat-akhwat Halle yang heboh nan cantik, cerdas dan ceria. Apasih…
Oh iya, sekedar info. Masjid Al-Falah ini bukanlah masjid seperti yang kalian bayangkan. Bentuknya bukanlah seperti masjid-masjid yang ada di Indonesia. Kami menyewa apartemen yang voila, kami sulap menjadi sebuah masjid. Namanya Masjid Al-Falah atau orang-orang biasa menyebutnya Masjid Indo Berlin. Masjid ini terdiri dari dua kamar mandi, satu dapur dan tiga ruangan besar yang dipisahkan oleh tembok. Jika kami shalat berjamaah, satu ruangan paling besar biasanya dipakai untuk shalat para pria, ruang yang tengah untuk kami para wanita dan ruangan terakhir terdapat banyak rak-rak besar disekeliling ruangan berisi aneka jualan produk Indonesia. Seperti, Saos Sambal, Indomie, Kecap dan lain sebagainya. Tentunya, hasil penjualan selalu masuk ke dalam kas Masjid Al-Falah.

Nah, jadi sekarang suasana Masjid Al-Falah sudah sangat penuh dengan puluhan manusia. Tidak hanya warga Indonesia yang tinggal di Berlin saja yang berusaha menghadiri pengajian bulanan ini, selain dari Halle banyak mahasiswa lain yang datang bergerombol dari kota sebelah. Intinya, momen ini sangat kami tunggu-tunggu karena sebagai ajang silaturrahmi kami para warga Indonesia. Masjid ini sekarang sedang bising dan lontaran kalimat demi kalimat Bahasa Indonesialah yang terdengar. Malas sudah kami menggunakan Bahasa Jerman kalau sedang kumpul-kumpul. Salah satu jalan untuk merefresh otak kami yang hampir meledak karena kuliah setiap hari dengan bahasa asing adalah dengan cara berbicara Bahasa Indonesia sepuas kami. Dan inilah saatnya. 

Sebenarnya pengajiannya sudah selesai dari beberapa jam yang lalu, suasana masih dapat dibilang cukup bising ketika tiba-tiba ada Negara Es yang menyerang. Sebuah kepala yang wajahnya sangat asing bagi kami, menyembul dari balik tembok dan berkata dengan suara beratnya, “Excuse me. Apa benar ini Masjid Indonesia?”

Suara di dalam masjd tiba-tiba berhenti total dan semua mata memandangnya. Ia adalah seorang pria luar biasa tampan, rambutnya hitam kelam, kedua alisnya tajam menukik dan pandangan kedua matanya berbinar-binar jahil. Ya ampuun, dia malaikat nyasar ke bumi atau apa?

“Hello?” Kali ini kedua alis tebalnya berkerut, sepertinya ia bingung karena tidak ada satupun orang yang menjawabnya. Aku melihat kesekeliling, di ruangan ini kebetulan semuanya duduk para wanita, para pria semuanya ada di ruangan ujung karena merasa segan berada diantara wanita-wanita. Pantes, tidak ada yang menjawab. Sepertinya semuanya terpesona akan kehadirannya.

“Rrr, i..ya. Ini bener masjid Indo, kok.” Ujarku pada akhirnya. Ya ampuun, mimpi apa gue semalem? Ini sih beneran malaikat…

Bibir pria itu menampilkan sebuah senyuman jahil yang memikat ketika mendengar jawabanku. Kedua mata elangnya semakin berbinar ceria, lalu ia menghilang dari balik tembok, “Here is the right place, guys.” Aku mendengarnya berbicara dengan seseorang. Pemandangan selanjutnya sanggup membuat kami semua para wanita menahan nafas karena shock.

Di ujung sana, masuk empat orang berbadan tinggi besar yang Masya Allah, Allah memang Maha Pencipta yang luar biasa. Sepertinya mereka malaikat yang sedang menyamar sebagai manusia. Aku belum pernah melihat ada pria setampan itu dalam sejarah kehidupanku. Bukan cuma satu lagi, empat orang! Eh tiga, pria yang masuk paling akhir wajahnya masih tertutup masker. Sepertinya ia agak flu karena masuk ke dalam ruangan dengan terbatuk-batuk. Tetapi kalau lihat dari postur tubuhnya, aku berani jamin dia pasti seganteng tiga pria yang berdiri berjejer di depannya.

Pria pertama yang tadi bertanya, berdiri paling depan memakai mantel panjang berwarna cokelat muda bermotif kotak-kotak. Rambut hitamnya acak-acakan memberikan kesan ‘nakal’ pada dirinya. Kedua matanya, seperti yang aku bilang tadi, berkilat-kilat jahil seakan menyimpan banyak rencana mengejutkan. Syalnya ia biarkan menjuntai jatuh begitu saja tanpa berusaha ia lilitkan di lehernya. Kedua matanya bergerak perlahan memperhatikan seisi ruangan, bibirnya bergerak ke kanan dan ke kiri seperti menimbang-nimbang sesuatu. 

Temanku memukul kakiku keras, memberikan isyarat untukku dengan kepalanya agar aku melihat pria lain yang berdiri disamping pria yang bertanya tadi. Ia mengatupkan bibirnya kuat-kuat agar tidak berteriak, sudah jelas temanku ini amat sangat tertarik dengan pria yang satu lagi. 

Pria kedua—yang tadi ditunjuk temanku dengan kepalanya, terlihat lebih serampangan dari pria yang sebelumnya. Rambut hitamnya agak ikal menjuntai sampai leher. Ia juga memakai mantel panjang berwarna biru tua dan kemejanya yang berwarna abu-abu gelap tampak mempesona sekali berada di tubuhnya. Syal berwarna senada dengan kemeja yang ia pakai bermotif polkadot hitam, hanya ia lilitkan di bagian kiri dan bagian kanan syalnya ia biarkan menjuntai begitu saja sampai hampir mencapai lututnya. Alis kanannya terangkat naik ke atas, kepalanya bergerak kesekeliling ruangan dan matanya berbinar menantang. Aura ‘bad boy’ sepertinya lebih cocok melekat pada dirinya dibandingkan ketiga pria yang lain.

Pandangan mataku beralih ke pria ketiga. Ia memiliki aura yang 180 derajat berbeda dengan kedua pria sebelumnya. Pandangan matanya yang datar terkesan cuek, terlihat tidak terlalu peduli dengan keadaan di lingkungan sekitar. Rambutnya terlihat halus menutupi dahinya seutuhnya, dipotong pendek dan diatur sedemikan rupa olehnya agar terlihat rapi. Ia menggunakan kemeja hijau gelap yang juga pas di tubuhnya. Mantel abu-abu gelapnya tidak ia pakai dengan sempurna hanya ia sampirkan di kedua bahunya. Kedua tangannya menyilang di dadanya dan ia terlihat amat sangat bosan.

“Maaf, ini tempat shalatnya di mana?” Pria yang berambut ikal panjang, akhirnya bersuara dengan suara baritonnya. Suaranya memecah keheningan dalam ruangan. Kedua alisnya berkerut karena bingung. Ia tidak memperhatikan ruangan paling depan dan sepertinya berfikir kalau masjid ini hanya satu ruangan kecil yang berisi banyak rak jualan.

“Oh, di ruangan itu. Coba kalian puter badan ke bagian belakang. Ruangan paling ujung itu tempat shalat pria.” Temanku tiba-tiba menjawab. Dasar, ketahuan sekali kalau ia tertarik. Lalu, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya setelah berusaha menjawab pertanyaan pria ikal itu. Lagi-lagi ia berusaha untuk tidak berteriak. Ya ampun, pria-pria ini bikin gempar satu masjid.

“Ah…” Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir pria berambut ikal panjang itu. Ia dan pria pertama yang tadi bertanya, menggerakkan tubuh mereka ke arah belakang untuk mencari tahu ruangan yang temanku tunjuk. Kedua pria yang berdiri di posisi ketiga dan keempat hanya diam tidak bergerak. 

“Wer ist dran?1” Ujar pria pertama setelah membalikkan tubuhnya ke posisi semula. Ia melirik ke arah ketiga pria disampingnya kemudian melanjutkan, “Siapa yang giliran jadi imam? Gue udah tadi siang, kan.” Ujarnya acuh tak acuh.

Pria keempat yang berdiri paling ujung, mengacungkan tangan kanannya, “Gue.” Ujarnya datar dari balik maskernya. Tekanan suaranya dingin, kedua matanya terlihat tidak memiliki ekspresi apapun. Ia memakai sweater abu-abu terang bergaya turtleneck sehingga menutupi lehernya seutuhnya. Mantel hitamnya yang panjang menjuntai sampai betisnya. Kedua tangannya kemudian bergerak membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya, “Tempat wudhunya di mana?” Tanyanya. 

Dan saat itu juga, sebagian wanita yang ada di ruangan terdengar susah payah untuk menahan jeritan. Ya Allah, pria terakhir ini memiliki ketampanan yang aneh. Tubuhnya menjulang tinggi di atas seratus delapan puluh sentimeter. Pandangan matanya tidak terlihat ramah, tidak terlihat galak juga. Sulit ditebak, seperti menyimpan sejuta misteri yang tidak dapat diungkap oleh siapapun. Pandangannya mengarah ke arah kami para wanita. Ia tidak mengucapkan apapun lagi, tetapi aura dingin yang ada pada dirinya seolah menuntut kami untuk segera menjawab pertanyaannya tanpa ditunda. Sesuatu dalam dirinya mendominasi dengan cara yang aneh.

“I..tu. Tempat wudhunya ada di deket tempat shalat pria kok. Kalian jalan aja ke arah tempat shalat pria, nanti keliatan tempat wudhunya.” Jawab Tasya, Mahasiswi semester empat jurusan Betriebswirtschaftlehre di Fachhochschule Brandenburg.

Pria keempat itu hanya mengangguk sekali, “Vielen Dank2.” Ujarnya singkat. Ia melepas mantel hitamnya kemudian mengikuti ketiga pria lainnya bergerak ke arah tempat shalat pria. Dari tempat dudukku, aku melihat pria keempat berhenti sebentar lalu melepaskan sweater abu-abu terangnya dan terlihatlah sekarang—walaupun hanya dari punggungnya saja, bahwa ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna merah marun yang…terlihat pas sekali berada di tubuhnya. Ya ampuun, aku harusnya jaga pandangan Ya Allah. Tapi gimanaa? Mereka gantengnya abnormal. Parah ini parah.

Pandanganku teralih ketika salah satu temanku yang kuliah di Technische Universität Berlin, merangkak ke arah depan untuk memastikan mereka sudah menghilang ke arah tempat shalat pria. Setelah yakin keempat pria itu sudah tidak dapat mendengar percakapan kita, ia berbalik arah dan menggoncang-goncangkan tubuh Tasya yang duduk di belakangnya dengan kencang, “OH GOD! Mereka siapaaa?? Mereka siapaaa?? Gilaa ini gilaaa.”

Dan keributanpun semakin menjadi selama sepuluh menit kedepan.

****
Rasa penasaran masih menyelubungi kami. Keempat pria itu tidak pernah kami lihat sebelumnya. Sudah jelas, ketika salah seorang dari mereka bertanya apakah ini masjid atau bukan, menandakan mereka belum pernah ke sini sebelumnya. 

Keempat orang itu fasih berbicara bahasa Indonesia dan Bahasa Jermannya juga sepertinya lancar. Wajah mereka abstrak, garis wajah mereka seperti garis wajah pria eropa tetapi ada beberapa bagian yang seperti wajah asia juga, “Mereka blesteran kayaknya. Gue yakin,” dinda, temanku yang sama-sama kuliah di Universitas Halle tiba-tiba angkat bicara, “kayaknya blesteran Jerman-Indo, deh. Ya Allah, dapet salah satu dari mereka aku mau Ya Allah. Eh ngga, yang rambutnya panjang aja Ya Allah, aku suka bangeet. Bad boy bad boy gimanaa gituu.” 

Semua tertawa mendengar celotehannya dan sebagian besar dari temanku sibuk berkomentar pria mana yang mereka suka. Kami berbicara setengah berbisik supaya para pria Indo lainnya tidak curiga dan keempat pria tadi juga harus dipastikan tidak mendengar obrolan ‘miring’ kami.

Kami sudah bertekad bahwa nanti harus ada perwakilan dari kami yang bertanya siapa nama mereka dan asik menebak-nebak identitas keempat pria misterius tadi. Sampai akhirnya, obrolan kami tiba-tiba berhenti mendadak karena mendengar lantunan surat Al-Fatihah dibacakan dengan merdu dari tempat shalat pria.

“Eh, itu siapa yang baca Qur’an suaranya bagus bangeet??!!” Aku tiba-tiba bertanya.

Dinda tiba-tiba berdiri dan berlari tanpa bersuara ke arah tempat shalat pria. Beberapa menit kemudian ia kembali lagi lalu menggoncang-goncangkan tubuhku dengan kencang, “Kak Ya Allah, kak. Cwo yang pake masker tadi, kak. Jadi imam, kaak. Itu suaranya, kaaaak!! Aaa, MELTING kak, AKUUU!!!” Ujar Dinda dengan heboh.

Aku tak tahan lagi, aku harus memastikan kebenaran cerita Dinda melalui kedua mataku sendiri. Akhirnya aku berdiri dan berlari mengintip dari balik tembok. Di sanalah aku melihat keempat pria tampan tadi sedang shalat Maghrib berjamaah dan memang benar pria keempat bermasker tadi yang menjadi imamnya. Jantungku berdetak kencang, Ya Allah bacaan Al-Qur’annya…Merdu sekali…

Mulutku menganga, ketika kembali ke ruangan, “Bener kan kaaak! Bener kan, bener kaaann!! Gila meenn. Sumpah aku penasaran kak, mereka itu siapaa!! Kakaklah yang tanya nama mereka nanti. Nyantai aja, kak. Nanya biasa aja gitu.” Dinda berusaha membujukku.

“Ah lu yang bener aja,” aku membantah. “Elo aja lah Riiin, yang nanyaa. Gak sanggup gue nanya setelah mendengar bacaan Qur’an tadi. Masih shock nih masih shock.” Ujarku lagi.

Rinda menggeleng cepat, “Idih, kok guee?? OGAAHH! Malu lah lu gila aja.”

Keributan saling tunjuk itu terjadi sangat lama sampai akhirnya keempat pria itu bergerak ke arah kami. Sepertinya mereka sudah selesai shalat dan sedang menuju ke arah pintu keluar yang terletak di samping lorong kecil sebelah ruangan tempat kami duduk. Semua saling senggol agar ada yang sukarela bertanya. Tidak ada yang berani, sudah jelas.

“Wir sind zu spät3.” Pria ketiga tiba-tiba bicara sambil melirik ke arah pria keempat. Pria bermasker yang tadi menjadi imam, melihat jam tangannya lalu segera memakai kembali sweater abu-abu terangnya.

“Lima menit lagi busnya dateng. Buruan.” Kali ini pria berambut ikal panjang yang berbicara. Mereka semua bergegas dan berjalan sembari memakai mantel panjang dan syalnya. Keempat pria itu melewati kami dengan sekali anggukan ringan, mengucapkan salam lalu segera pergi ke arah pintu depan. Mereka berempat hilang dalam hitungan detik.

“Oh meenn.” Teriak Tasya frustasi. Dinda tiba-tiba langsung menjatuhkan dirinya ke atas karpet, lalu berguling-guling karena kesal.

Gagal sudah. Hari itu kita semua kesal setengah mati karena gagal mengetahui identitas keempat pria misterius tadi. “Bener-bener dumm gelaufen4 banget. Sebel.” Ujarku dalam hati.

Dan hari itu, kami semua gagal memecahkan misteri terbesar dalam hidup.

Catatan Kaki :
1) Sekarang giliran siapa?
2) Terima kasih banyak
3) Kita udah telat
4) Sh*t happens

THE QUESTION IS :
“Jadi kalian suka pria yang mana? 
Apa yang kalian lakukan kalau kalian ada di posisi para wanita di atas?”
 photo 46.gif photo 46.gif photo 46.gif
DITUNGGU KOMENTARNYA DI BAWAH, YAAA!! AHAHAHAHA
 photo cz22.gif photo cz22.gif photo cz22.gif
----------------------------------------------
Volkert Family 1, Chat Room Keluarga Masa Kini 1 : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/chat-room-keluarga-masa-kini-1.html
Volkert Family 2, Ketika Cinta Begitu Berat : http://www.nadhiraarini.com/2015/09/ketika-cinta-begitu-berat.html
Volkert Family 3, Ketika Aku Merindukannya : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/ketika-aku-merindukannya.html
Volkert Family 4, Chat Room; Keluarga Masa Kini 2 - Salah Jalan : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/chat-room-keluarga-masa-kini-2-salah.html
Volkert Family 5, Ketika Kenyataan Itu Memilukan : http://www.nadhiraarini.com/2016/01/ketika-kenyataan-itu-memilukan.html
Volkert Family 6, Buku Catatan Terkutuk : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/buku-catatan-terkutuk.html
Volkert Family 7 : Namamu Siapa? : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/namamu-siapa.html
Volkert Family 8 : Hati yang Tertusuk Puluhan Anak Panah http://www.nadhiraarini.com/2016/02/hati-yang-tertusuk-puluhan-anak-panah.html
Volkert Family 9 : Permohonan Terakhir Sepasang Cincin : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/permohonan-terakhir-sepasang-cincin.html
Volkert Family 10 : Surat Kaleng : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/surat-kaleng.html
Volkert Family 11 : Cinta yang Membutakan : http://www.nadhiraarini.com/2016/03/cinta-yang-membutakan.html
Volkert Family 12 : Selalu Salah Jalan : http://www.nadhiraarini.com/2016/03/selalu-salah-jalan.html

12 comments:

  1. Aduh kalo aku yang diposisi para akhwat itu mungkin udah specless banget jadi gagu cuman bisa liat2 doang (ups gak tundukan pandangan jadinya).. Duh mau dongg didatangin malaikatnya..

    ReplyDelete
  2. kalo aku cuman bisa berharap bisa ketemu suatu saat, jelas bgt ga bakal berani nanya klo ketemu 4 org itu kak,speechless

    ReplyDelete
  3. Aku malah penasaran sama ceweknya ini. Dia bakal berperan jadi apa nantinya. #AntiMainstream :p Karakternya manstab, Kak! Juara!

    ReplyDelete
  4. Hahaha aku ngga peduli suka yang mana, yang penting salah satu dari mereka suka akuuuu aaaaaaaa :D
    *gegulingan di padang rumput*

    ReplyDelete
  5. hii ka dhira, aku indahhh hehe

    bagusss kaaa penasaraann sama cerita selanjutnyaaa hehe

    ReplyDelete
  6. Waaa, Mbak Dhir, aku melting bacanya. Nggak tau mau bilang apa lagi, aku jelas penasaran banget siapa sudut pandang semua cerita-cerita Volkert Family wkwk. Mbak Dhir, tolong beri kami pencerahan

    ReplyDelete
  7. Siapakah si Aku? Tulisannya enak, Dhir. Ngalir. Ditunggu kelanjutannya :)

    ReplyDelete
  8. Aku suka sama yang keempat dan sepertinya aku tahu siapa dia *hmmm :)
    Kalau jadi akhwat disana yang ketemu sama mereka, aku akan jadi akhwat yang paling diam ga berbicara

    titik lemah perempuan itu ada di pendengarannya
    dia boleh saja tidak melihat wajahnya tapi sekali mendengar sesuatu yang baik dari atau tentang diaa
    aaahhhh melting sudaah :""""))

    ReplyDelete
  9. Speechless....
    Bravo dhira...berhasil membuat pembaca penasaran bgt...
    Lanjutkan..hehe

    ReplyDelete
  10. dhiraaaaaa aku pingsan dulu yaaaa *bug*


    ya allah coba kalo tokoh pria itu pria keempat beneran adaaaaaa, dhiraaaa aku pesen satu !!!!!
    buat jadi imam dunia dan akhiratku :")




    dhiraaaaa LANJOTTTTT YOOOO!!!

    ReplyDelete
  11. Ini arianna yaa mbak nadhir? Pria keempat itukah keinan? Arg aku histeris, ayo buruan di lanjut yaa mbak nadhir
    Hwaiting:D

    ReplyDelete
  12. melting dhir. aku kalau ketemu cowok kayak mereka paling cuma bisa diam aja, tapi bakalan jadi stalker yg baik wkwkwkwkwkw. ditunggu banget kelanjutannya.

    ReplyDelete