Thursday, 24 March 2016

Kegaduhan Di Dalam U-Bahn

Volkert Family 14, dari sudut pandang wanita pujaan sepupuku yang memiliki nama paling panjang dalam silsilah keluarga.

Baca ini dulu sebelum melanjutkan (klik link), Volkert Family Trees & Sinopsis Cerita

Genre : Romance, Comedy
Sinopsis : Ketika pria tampan itu berhasil membuat heboh segerombolan warga Indonesia.

Word Count : 1831 / 2000

Cuaca semakin dingin ketika pada akhirnya kereta bawah tanah yang Eslem dan aku tunggu selama hampir satu jam berhenti persis di depan kami. Kereta jenis ini berwarna perak dengan garis hijau muda memanjang yang dibuat pemerintah karena mempertimbangkan para warga yang berjalan tidak menggunakan kedua kakinya, tetapi memakai kursi roda. 

Kereta bawah tanah ini berbeda dengan jenis kereta bawah tanah model lama karena pintu masuknya tidak tinggi, tetapi datar sejajar dengan lantai peron. Kereta-kereta bawah tanah model lama dapat mudah dikenali karena bentuknya yang ketinggalan zaman, berwarna hijau tua mencolok dan tidak dapat dinaiki para pengguna kursi roda karena pintu masuknya terlalu tinggi—sangat sempit jika kursi rodanya berukuran besar. Seperti milik Eslem…
“Endlich1…Oh Mein Gott2, endlich…” Ujar Eslem bahagia. Aku mengikutinya dari belakang, menjaganya agar bisa memposisikan kursi roda mesinnya diantara lorong kereta yang sempit. Tangan kiriku menahan lengannya yang besar agar posisinya selalu seimbang jika kereta berbelok.

Kereta bawah tanah perak dengan nomor U6 jurusan Messe Ost berhenti cukup lama di Stasiun Kröpcke. Sekarang weekend, pasti banyak anak muda pergi ke Messe Ost karena di sana berkumpul banyak diskotik. Aku menarik nafas berat karena lelah, hari ini hari yang panjang…

“Ya ampuun, itu cwo ganteng banget, ya ampuuunn. Liat tuh, yang itu yang ituuu.” Suara wanita dari arah sebelah kanan menarik perhatianku karena ia berbicara dalam Bahasa Indonesia, “Ezzy, liat doonggg. Ini mba lagi ngomong ya, please.” Ia berkata jengkel, lalu mendorong pundak pria yang duduk di sebelah jendela dengan jari-jarinya yang lentik. 

Tidak jauh dariku duduk empat orang di kursi yang posisinya berhadap-hadapan dan satu orang lagi duduk di kursi seberangnya. Wanita itu cantik sekali, ia terus melirik ke arah luar jendela dan matanya terus melirik pria yang berdiri di luar kereta. Pria yang dipanggil Ezzy menarik nafas jengkel, “Ah, mba Freeey. Berisik.” 

Tangan kanan wanita itu bergerak memukul keras pundak pria itu dengan gulungan buku, “AWW!” Pria itu berteriak kesakitan, “HEH, urus kakak lo niihh! Kenapa gue yang dipukul-pukul, sih?!” Pria yang aku anggap bernama Ezzy melotot ke arah pria yang duduk di hadapannya. Aku tidak dapat melihat wajahnya karena ia duduk membelakangiku, hanya suara beratnya yang terdengar, “Mba, ya ampun mba. Yakin suka sama bule?”

Wanita itu memutar matanya. Terlihat jelas semakin jengkel, “Duile, AYAH KITA JUGA BULE KELES!” Teriaknya. Ekspresi wajah jengkelnya tiba-tiba berubah manis ketika menatap pria yang duduk persis di hadapannya, “Nindyyy, cwo itu cakep kaann. Kamu kenal sama dia, kan? Kemaren mba liat kamu ngobrol sama dia di taman depan universitas. Dia anak Leibniz, kaaann. Kenalin doongg, ya ya ya yaaa…”

Aku mengalihkan pandanganku ke arah luar. Memperhatikan lebih detail pria yang menarik perhatian wanita cantik itu, “Ah…” Ujarku ringan. Memang benar adanya jika wanita cantik menyukai pria tampan. Pria yang diincar wanita itu dari tadi memiliki tinggi badan yang ideal untuk ukuran seorang pria Jerman. Memakai mantel panjang sampai lutut berwarna biru gelap, syal hitamnya diatur dengan lilitan sederhana di lehernya tetapi justru membuat ia menjadi terlihat berkelas. Pria itu memakai kacamata tanpa bingkai seakan memperjelas posisinya bahwa ia adalah seorang pria yang cerdas. Tas ranselnya berwarna cokelat muda dengan model yang menunjukkan bahwa ia sudah pasti mengetahui trend baru masa kini. Sayangnya, ia tidak berusaha masuk ke dalam kereta. Mungkin menunggu kereta jurusan lain. Tangannya sibuk memainkan tuts handphonenya—atau mungkin ia sedang menunggu seseorang?

“Oi, Mitya. Buku gue, dong.” Pria bernama Ezzy menengok ke arah kiri dan berbicara dengan seseorang yang duduk sendirian di bagian kursi yang lain. Posisi tempat duduk pria yang dipanggil Mitya itu masih sejajar dengannya—aku mengalihkan pandanganku ke arah pria bernama Mitya. Lalu aku terkejut.

Hanya mata elangnya yang terlihat. Bagian wajah yang lain tertutup syal wol putih tebal menyembunyikan hidung dan mulutnya. Kedua tangannya menyilang di depan dadanya dan ia jelas-jelas sedang menatapku. Samar-samar, aku melihat ada sepasang alis tebal yang menukik dibalik rambut hitam pekat yang menutupi dahinya. Tatapannya seolah-olah ingin mengetahui setiap detail hal yang aku lakukan. Gerakan kedua matanya seperti selalu menangkap basah gerakan tubuhku yang paling samar sekalipun. Kenapa ia menatapku begitu? Aku salah tingkah.

“Inaaan, menurutmu cwo itu gimanaa?? Cocokkan sama mbaa?” Suara merajuk datang dari wanita cantik itu. Pria yang membuat aku bingung karena dipanggil dengan sebutan Inan dan Mitya, tidak menoleh. Kedua matanya masih terlihat enggan meninggalkanku, “Inaann, mba nanyaaa. Nengok ke kanaann, doong.” Wanita cantik itu cemberut, lalu pria itu menyerah dan menolehkan kepalanya ke arah kanan.

“Itu yang itu tuh, ganteng ga? Cocokkaan kalau jadi suami mbaa.” Ujar wanita itu sambil menunjuk ke arah luar jendela. Pria bernama Inan atau Mitya itu masih diam selama beberapa saat, “Islam?” Tanyanya singkat. Tekanan suaranya dingin, ia tidak berkata apa-apa lagi tetapi masih menatap pria yang ditunjuk wanita cantik itu.

“Yaah, klo ga Islam kan tinggal di islamin ajaa.” Ujar wanita itu asal. Ia cemberut sekarang. Sepertinya pria bernama Inan atau Mitya itu punya aura mendominasi yang sanggup membuat orang lain diam hanya mendengar kata-kata singkat yang keluar dari mulutnya.
“Udahlah Mba Freya, cari yang lain ajalah. I don’t think he’s good.” Ujar pria yang duduk persis di hadapan Ezzy. Ezzy mengangguk setuju. Rambut ikalnya yang seleher, menari-nari, “Setuju sama Aidan.” 
Pria yang duduk di sebelah pria yang ternyata bernama Aidan, tertawa ringan, “Mba kan kebiasaan begitu, gampang suka sama pria ganteng. Ntar juga pindah lagi sukanya.”

“HEH! NINDRA! DIEM KAMUU!!” Wanita cantik yang ternyata bernama Freya melotot ke arah pria yang duduk persis di hadapannya. Kedua tangan lentiknya terkepal seolah-olah ingin memukul pria bernama Nindra atau Nindy sebutannya tadi. Wajahnya cemberut karena kesal, alis hitam tebalnya hampir bertabrakan karena keningnya berkerut.

Ketiga pria di sekelilingnya tertawa terbahak-bahak, aku melihat sekilas pria keempat yang duduk terpisah sepertinya ikut tertawa—eh ralat, tersenyum. Kedua matanya tidak menunjukkan bahwa ia tertawa terbahak-bahak seperti yang lainnya. Tipikal pria cool sepertinya, ya.

“Eh eh, itu kayaknya temennya dateng.” Nindra memberi isyarat dengan kepalanya. Semua mata tertuju ke luar jendela. Aku juga tanpa sadar ikut melihat, sekilas aku sempat menangkap basah pandangan pria yang bernama Inan atau Mitya itu tersenyum geli melihatku karena ikut-ikutan penasaran. Lalu ia menengokkan kepalanya ke arah kanan dan menatap pria di luar jendela.

Pria yang diincar Mba Freya itu menghentikan aktifitas bermain handphonenya dan menoleh ke arah seorang pria yang juga tidak kalah tampannya. Ia tersenyum sumringah dan terlihat sangat bahagia melihat pria itu datang. Mereka berpelukan, lalu…

“Oh My God! Sie küssen sich!3” Ezzy melongo. Kedua matanya mendelik, lalu menatap Aidan yang duduk dihadapannya.
“Verdaammt!4 Mereka kissing. Ewww.” Kali ini Nindra yang berbicara. Dari tempat aku berdiri, aku hanya bisa menatap ekspresi wajahnya dari samping. Sepertinya ia menganga karena shock.
“Er ist Schwul5.” Ujar pria yang bernama Inan atau Mitya itu singkat dari balik syal wol putih tebalnya. Tatapan matanya dingin menatap kedua pria yang terlihat masih asik menggerakkan masing-masing bibirnya, menempel satu sama lain dengan intim di tempat umum.

Wanita cantik bernama Freya membelakkan kedua matanya, aku khawatir matanya bisa keluar dari tempatnya saat itu juga. Mulut mungilnya menganga lebar, ia diam seperti patung. Kedua tangannya sibuk meremas geram kerudung pashminanya yang berwarna merah batu bata, “Rggh, why? Kenapa dia harus homo? WHY? WHY? WHAAAYYY?? ANNOOYYIINGGG!! Argghh.” Teriaknya. Tangan besar Aidan menutup cepat-cepat mulut Freya agar tidak mengganggu ketentraman penumpang dalam kereta.

“Ssst, mba! Sei mal ruhe, bitte6.” Kedua matanya memberi isyarat ke sekeliling ruangan kereta, “Jangan berisik, mba. Ini kita masih di dalam kereta.” Freya menengok ke arah penumpang lain di dalam kereta dan mengangguk cepat-cepat. Aidan melepas tangannya dari mulut Freya, lalu memposisikan tubuhnya ketika duduk kembali di kursinya.

Freya terlihat berusaha sekuat tenaga agar tidak berteriak, ia maju ke arah samping dan menggoyang-goyangkan bahu Aidan dengan kencang, “Schei…sseee7!!” Umpatnya. Suaranya lebih terdengar seperti geraman karena ia berusaha untuk tidak berteriak. Pria bernama Aidan itu pasrah tubuhnya diguncang-guncang dengan kencang, “Verdaaa…mmtt!!” Umpat Freya lagi.

Aku menahan tawa, menjadi saksi adegan aneh yang tidak sengaja aku lihat. Mereka sepertinya satu keluarga. Karakter wajahnya mirip satu sama lainnya. Keluarga mereka sepertinya hangat, ya. Aku sebenarnya ingin menyapa mereka, tetapi ragu. Ntah hal apa yang membuat kakiku tidak bersedia bergerak.

Kereta U6 yang aku naiki akhirnya berjalan perlahan meninggalkan Stasiun Kröpcke. Pria yang wajahnya tertutup syal putih kembali menatapku, membiarkan saudara-saudaranya ribut sendiri menghadapi Freya. Aku mengerutkan kening menatapnya tidak mengerti. Ia tidak menyerah menatapku sampai akhirnya pandangannya beralih ke Eslem ketika ia memanggilku dengan nada riangnya, “Ari…annaa…” Ujarnya tertawa, “Gib mal bitte mein Burgeerr….Ich hab hung…eerr.8” Ia berbicara seolah-olah sedang bernyanyi seriosa.

Aku mengangguk, mengeluarkan bungkus plastik berisi burger yang Eslem beli di McDonald. Mulutnya sudah terbuka lebar tanda tidak sabar ingin segera aku suapi. Dari kecil, ia sudah tidak bisa mengerakkan kedua tangannya jadi Eslem selalu butuh bantuan setiap melakukan apapun yang menggunakan tangan, termasuk makan. Tangan kananku menyodorkan burgernya ke dalam mulutnya dan ia menggigitnya dengan cepat, “Langsam9, Essi. Langsam…” Ujarku sambil tersenyum. Eslem tertawa senang dan menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri seolah sedang berdansa. Kursi roda besarnya bergerak-gerak mengikuti irama tubuhnya, “Ho…ho…hoo…Ariannaa. Oh, das ist sehr leckeeerr10. Nyaamm.” Lalu kami berdua tertawa riang bersama-sama.

Pemandangan yang disajikan di luar kereta, tidak menuntut banyak perhatian. Cuaca sudah gelap lebih cepat dari seharusnya karena Musim Dingin mengambil alih sinar matahari. Salju turun sejak pagi sehingga berhasil mewarnai jalanan menjadi berwarna putih seperti kanvas kosong. Aku kencangkan syal yang melilit leher Eslem agar ia tetap merasa hangat. Sesekali aku bersihkan bibirnya yang penuh saus tomat dengan tissue yang aku letakkan di atas meja kursi roda mesinnya.

Kereta berhenti di Stasiun Seelhoster Allee, satu stasiun sebelum stasiun kami. Aku melihat gerombolan orang-orang Indonesia itu berdiri dan turun melewati pintu sebelah. Freya masih belum bisa melewati masa-masa shocknya akan kejadian tadi dan menempelkan kepalanya di belakang punggung Aidan ketika berjalan keluar kereta. Akhirnya aku bisa melihat dengan jelas wajah Aidan dan Nindra yang dari tadi duduk membelakangiku. Sudah jelas, mereka itu gerombolan keluarga berparas tampan dan cantik.

Hanya pria bersyal putih itu, yang masih konsisten tidak menurunkan syalnya. Pintu kereta ditutup, lalu berjalan perlahan menuju Statsiun Emslandstraße. Dari balik jendela aku dapat melihat empat orang lainnya sudah berbalik arah dan berjalan menuruni tangga, hanya pria bersyal wol putih itu yang masih menatap kereta dan memandangku dengan tatapan elangnya.

“Ya Allah, siapa dia sebenarnya?”

Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaanku. Mungkin aku harus menunggu sang waktu bersedia membuka rahasianya. Kereta terus berjalan, menyisakan jejak tatapan misteriusnya di benakku selama perjalanan. Aku menarik nafas lelah, sepertinya tatapan pria bersyal wol putih tebal itu akan menghantuiku selama beberapa hari ke depan…


Catatan Kaki :
1) Akhirnya
2) Oh My God
3) Mereka ciumaann!
4) Dammn!
5) Dia homo
6) Please, be quite…
7) Sh…iit! 
8) Tolong burgerku, doong. Aku laa…peer…
9) Pelan-pelan…
10) Ini enak bang…eett

THE QUESTION IS :
“Menurut kalian, karakter Arianna itu seperti apa dan kenapa Keinan merhatiin Arianna sampe segitunya?hehe”
 photo 77.gif photo 77.gif photo 77.gif
Ditunggu jawabannya di kolom komentar di bawah ini, yawss :D
CIAO BELLAA!
 photo m015.gif photo m015.gif photo m015.gif
------------------------------
Volkert Family 1, Chat Room Keluarga Masa Kini 1 : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/chat-room-keluarga-masa-kini-1.html
Volkert Family 2, Ketika Cinta Begitu Berat : http://www.nadhiraarini.com/2015/09/ketika-cinta-begitu-berat.html
Volkert Family 3, Ketika Aku Merindukannya : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/ketika-aku-merindukannya.html
Volkert Family 4, Chat Room; Keluarga Masa Kini 2 - Salah Jalan : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/chat-room-keluarga-masa-kini-2-salah.html
Volkert Family 5, Ketika Kenyataan Itu Memilukan : http://www.nadhiraarini.com/2016/01/ketika-kenyataan-itu-memilukan.html
Volkert Family 6, Buku Catatan Terkutuk : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/buku-catatan-terkutuk.html
Volkert Family 7 : Namamu Siapa? : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/namamu-siapa.html
Volkert Family 8 : Hati yang Tertusuk Puluhan Anak Panah http://www.nadhiraarini.com/2016/02/hati-yang-tertusuk-puluhan-anak-panah.html
Volkert Family 9 : Permohonan Terakhir Sepasang Cincin : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/permohonan-terakhir-sepasang-cincin.html
Volkert Family 10 : Surat Kaleng : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/surat-kaleng.html
Volkert Family 11 : Cinta yang Membutakan : http://www.nadhiraarini.com/2016/03/cinta-yang-membutakan.html
Volkert Family 12 : Selalu Salah Jalan : http://www.nadhiraarini.com/2016/03/selalu-salah-jalan.html
Volkert Family 13 : Saat Empat Malaikat Turun Ke Bumi http://www.nadhiraarini.com/2016/03/saat-empat-malaikat-turun-ke-bumi.html

6 comments:

  1. ini episode yang aku tahu benar memakai sudut pandang siapa *episode kemaren masih tebak-tebakan rahasia wkwk. Mungkin, karakter Arianna itu sosok yang cantik, baik hati terbukti dengan bagaimana ia memperlakukan Elsem, dan memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap sesuatu, hmm suka memperhatikan tingkah orang lain dari jauh kali yaa. Nah mungkin karena itu Keinan memperhatikan Arianna, Secara Arinana berhijab, memperlakukan Elsem dengan baik, dan memperhatikan tingkah saudara sepupu Keinan dari jauh. Maka dari itu, Keinan penasaran, "Siapa sih perempuan cantik di sudut sana itu?" wkwk, sekian Mba Dhira.

    ReplyDelete
  2. Dhira keren...memasukan pengalaman pribadi seorang nadhira arini selama d jerman menjadi sosok yg berbeda-beda...nayla..ariana..
    #betul ga dhira??
    Maaf komen nya keluar dr topik hehe

    ReplyDelete
  3. Mbak dhira....
    Aku pengen jadi ariana. Haha

    ReplyDelete
  4. Hmm.. menurutku Arianna cewek yg lembut, sensitif, agak pemalu tapi bernyali juga kalo udah kepancing penasaran. Kayaknya Keinan risih gitu nangkep basah lg diperhatiin, makanya ampe segitunya ditatapin balik. Atauuu. . bisa jadi love in the first sight

    ReplyDelete
  5. Arianna itu jelmaan fiksinya kk dhiraa.... 😆😆😆

    ReplyDelete
  6. Cerita volkert family yg selanjutnya lagi dong mbaaaa. Tiap hari aku buka blognya tp belum ada yg baru ����

    ReplyDelete