Monday, 6 February 2017

Akhirnya, Aku Menemukanmu

(Volkert Family 16, dari sudut pandang puteri kedua Vincent Volkert)

Baca ini dulu sebelum melanjutkan (klik link) ~> Volkert Family Trees & Sinopsis Cerita

Genre : Romance, Tragedy
Sinopsis : Diantara seluruh wanita yang aku amati dalam diam, ialah satu-satunya wanita yang bersinar teduh diantara para wanita lainnya.

Word Count : 973/1500

“Bagaimana ia bersikap seaanggun dan seelegan itu di tengah-tengah luka hatinya yang menganga?” Seorang wanita bertanya kepada wanita lainnya sembari memandang dari jauh seorang wanita yang sedang berdiri seorang diri di depan jendela. Hari ini hujan lebat di luar sana menghempas keras jutaan air di jendela besar bangunan ini. 

Aku hanya memperhatikan obrolan para wanita itu dari jauh. Sungguh, aku sebenarnya tidak terlalu mengenal siapa wanita-wanita yang sedang bergosip ini. Tetapi, aku amat sangat penasaran sekarang. Karena sejak pertama kali aku bertemu dengan wanita yang sedang berdiri di depan jendela ini beberapa bulan yang lalu, rasa penasaranku selalu muncul tanpa sebab. Wanita ini memiliki aura teduh yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ntah sesuatu dalam dirinya tampaknya menyimpan banyak hal, yang mungkin jika aku tahu—aku bisa banyak belajar darinya.
Sang wanita yang sedari tadi menjadi bahan perbincangan wanita lainnya, masih menatap lurus di depan jendela. Dirinya, tampak berseberangan dengan cuaca di luar. Di luar sana, gemuruh petir menyambar, hujan badai tampak seperti berambisi ingin menghancurkan jendela besar itu, angin kencang menampar keras pepohonan tinggi besar yang tertanam di luar. Tetapi wanita ini, berdiri dengan sangat anggun tampak tidak terganggu dengan cuaca mengerikan di luar. Gamis panjangnya yang memiliki model klasik bertolak belakang dengan mode saat ini, membuat ia tampak terlihat elegan bak puteri raja. Bagian bawah khimar panjang miliknya yang bertumpuk tiga, nampak menari tertiup angin lembut yang lolos masuk ke dalam ruangan melalui celah-celah kecil.

“Jika aku jadi dia, mungkin aku akan jatuh sangat dalam dan air mataku akan terus jatuh membasahi pipi. Permasalahan yang berusaha ia lewati, sangat berat bukan?” Wanita lainnya tiba-tiba angkat suara.

“Aku sangat mengenalnya.” Seorang wanita bersuara. Aku menengok ke arahnya dan aku baru sadar, bahwa aku sempat bertemu beberapa kali dengannya. Nayla, mahasiswi Universitas Leibniz yang sudah terkenal sering nyasar kemanapun ia pergi, “Ia sahabatku.” Nayla melanjutkan, “Ia memang dari dulu seperti itu. Wanita tegar yang sabarnya melebihi luasnya samudera di dunia. Keanggunannya muncul karena ia berusaha melatihnya. Menurutku, tidak ada keanggunan yang muncul jika tidak dilatih dari dalam diri. Seorang puteri raja, tidak mungkin bisa menghadapi konflik hebat dengan tenang di hadapan rakyatnya, jika tidak berlatih, kan? Sahabatku itu berlatih sangat keras agar kata-kata yang keluar dari kedua bibirnya tidak menyakiti hati orang lain, melatih dirinya sendiri untuk yakin bahwa ketika Allah membuatnya jatuh dengan banyak permasalahan menyakitkan, Allah pulalah yang mampu membuatnya berdiri tegak kembali. Ia memiliki keyakinan kuat dalam hati bahwa jika Allah mengujinya, Allah tahu ia lebih kuat daripada yang ia sangka.” Ujar Nayla. Matanya berkaca-kaca berusaha keras menahan agar air matanya tidak turun. Sepertinya Nayla tahu cerita permasalahannya secara detail. Tetapi ia memilih untuk tidak mengungkapkannya.

“Kalau begitu, kenapa ia selalu terlihat tersenyum? Apakah ia tidak pernah menangis?” Wanita yang memakai mantel berwarna kuning keemasan kali ini yang bertanya.

Nayla menarik nafas berat, “Ia menangis. Hanya saja, ia jarang menunjukkan itu di depan orang lain. Aku sangat tahu betapa hatinya amat sangat terluka. Betapa masalah yang ia punya, membuatnya jatuh terperosok di lubang yang amat sangat dalam. Tapi selalu—jika ia merasa sedang jatuh, ia berusaha untuk segera bangkit dan bergerak ke depan meskipun tertatih-tatih. Ia pernah berkata kepadaku seperti ini, ‘Nayla, ketika aku menangis karena luka hati ini sangat sakit, ketika aku tahu bahwa tidak ada seorang manusiapun yang memahami betapa sakit rasanya aku mencoba untuk bernafas—aku tahu, satu-satunya yang paham tentang apa yang aku rasakan hanyalah Allah. Aku belajar dari ujian ini bahwa sangat lelah rasanya jika penilaian manusia selalu menjadi sandaran. Orang-orang disekeliling kita, gemar sekali berprasangka tanpa mengetahui fakta sebenarnya. Jika air mata ini turun tanpa bisa aku bendung lagi, biarlah Allah yang menghapusnya. Aku berdoa kepada Allah yang cahaya-Nya tidak pernah redup, satu-satunya zat yang mampu membuatku bangkit di saat aku terjatuh dengan amat sangat parah—untuk datang membantuku berdiri dengan cahaya-Nya yang bersinar melintasi tujuh lapis langit. Aku membayangkan, cahaya itu selalu datang menarik tanganku untuk berdiri kembali dan pendaran cahaya tersebut bergerak pelan ke dalam hatiku untuk menutup semua luka dan menjadi alas bagi kedua kakiku agar aku dapat maju ke depan dengan senyuman yang mengembang. Sang cahaya menggandengku, memegangku erat jika aku hampir terpeleset jatuh karena jalanan yang berliku dan berbatu tajam. Aku kuat, karena aku percaya kepada-Nya. Allah tahu, aku jauh lebih kuat melebihi apa yang selama ini aku sangka, Nayla.”

Aku menggeleng tidak percaya. Kedua mataku mengarah kembali kepada wanita yang masih berdiri di depan jendela. Siapa orang tuanya yang mampu mendidik wanita ini menjadi wanita bermental kuat seperti ini? Aku memang tidak terlalu mengenalnya, tetapi aku sempat mendengar permasalahan berat yang sedang ia hadapi. Aku mengerti sekarang, aura teduh yang selama ini aku rasakan—berasal dari hatinya, memancar jauh menyinari seluruh tubuhnya. Bertahun-tahun aku mencari kandidat yang sesuai untuk menjadi pendamping hidup bagi adik laki-lakiku. Aku rasa, ialah wanita yang selama ini aku cari-cari keberadaannya. 

Aku berjalan mendekat menuju ke arahnya. Ia nampaknya merasakan kehadiranku dan mengalihkan pandangannya dari jendela. Sinar yang memancar dari kedua matanya bersinar lembut, senyumnya mengembang menenangkan. Aku menggerakkan tangan kananku untuk berjabat tangan dengannya, “Assalamu’alaykum, Boleh kenalan? Namaku Eleanor. Orang-orang Indonesia di sini biasa memanggilku Lea. Boleh aku tahu, siapa namamu?”

Wanita di hadapanku ini tersenyum kembali, kali ini senyumannya memperlihatkan deretan giginya yang berderet rapi, “Wa’alaykum salam. Senang berkenalan dengan Mbak Lea. Namaku Arianna.” Ujarnya lembut. Suaranya mengalun indah terdengar di telingaku. Senyumannya menular, bibirku mengembang tanpa sanggup aku tahan. Badai sudah mulai mereda, tergantikan oleh jutaan gerimis yang turun perlahan. Aku menyelipkan doaku segera, karena khawatir hujan berhenti sebelum aku mampu menyelesaikan doa yang sedari tadi aku tahan. Aku ingin berkah hujan ini membuat doaku langsung bergerak melesat jauh menuju ke atas langit.

Dan doakupun selesai terucap, hujan tiba-tiba berhenti tepat pada waktunya dan tak lama berselang, pelangi muncul di langit Kota Hannover.
----------------------------
Volkert Family 1, Chat Room Keluarga Masa Kini 1 : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/chat-room-keluarga-masa-kini-1.html
Volkert Family 2, Ketika Cinta Begitu Berat : http://www.nadhiraarini.com/2015/09/ketika-cinta-begitu-berat.html
Volkert Family 3, Ketika Aku Merindukannya : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/ketika-aku-merindukannya.html
Volkert Family 4, Chat Room; Keluarga Masa Kini 2 - Salah Jalan : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/chat-room-keluarga-masa-kini-2-salah.html
Volkert Family 5, Ketika Kenyataan Itu Memilukan : http://www.nadhiraarini.com/2016/01/ketika-kenyataan-itu-memilukan.html
Volkert Family 6, Buku Catatan Terkutuk : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/buku-catatan-terkutuk.html
Volkert Family 7 : Namamu Siapa? : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/namamu-siapa.html
Volkert Family 8 : Hati yang Tertusuk Puluhan Anak Panah http://www.nadhiraarini.com/2016/02/hati-yang-tertusuk-puluhan-anak-panah.html
Volkert Family 9 : Permohonan Terakhir Sepasang Cincin : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/permohonan-terakhir-sepasang-cincin.html
Volkert Family 10 : Surat Kaleng : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/surat-kaleng.html
Volkert Family 11 : Cinta yang Membutakan : http://www.nadhiraarini.com/2016/03/cinta-yang-membutakan.html
Volkert Family 12 : Selalu Salah Jalan : http://www.nadhiraarini.com/2016/03/selalu-salah-jalan.html
Volkert Family 13 : Saat Empat Malaikat Turun Ke Bumi : http://www.nadhiraarini.com/2016/03/saat-empat-malaikat-turun-ke-bumi.html
Volkert Family 14 : Kegaduhan Di Dalam U-Bahn : http://www.nadhiraarini.com/2016/03/kegaduhan-di-dalam-u-bahn.html
Volkert Family 15 : Saatnya Mencoba Memantaskan Diri : http://www.nadhiraarini.com/2016/04/saat-mencoba-memantaskan-diri.html

3 comments: