Thursday, 2 March 2017

Doa di Musim Semi

(Volkert Family 17, dari sudut pandang sepupuku yang sedang berusaha menyembuhkan luka hatinya)

Baca ini dulu sebelum melanjutkan (klik link) ~> Volkert Family Trees & Sinopsis Cerita

Genre : Romance, Tragedy
Sinopsis : Kejadian ini terjadi ketika yang hancur lebur, terobati dan segala yang patah, tumbuh kembali.

Word Count : 814/1000

KrΓΆpcke, Pusat Kota Hannover di pagi hari.

Hari ini aku berjalan keluar dari rumah untuk pertama kalinya setelah selama Musim Dingin yang berat, aku berdiam diri di kamarku yang dingin. Pemanas dalam kamar selama penyiksaan Musim Dingin sengaja tidak aku nyalakan. Bukan untuk menyiksa diri, cuaca di luar terlalu ekstrim sementara sebagian waktuku aku habiskan memulihkan diri di dalam kamar. Jika terlalu lama terpengaruh hangatnya mesin pemanas, kulitku semakin kering. Jadi, aku lebih memutuskan untuk berdiam dalam dinginnya udara yang mencekam. Menurutku sudah cukup hangat, setelah ibuku membantuku mengganti selimut dengan selimut Musim Dingin yang sangat tebal segala kaus kaki winter dan pakaian yang berbahan dasar wol. 
Semua sepupuku pada waktu itu berusaha mengganti lampu dengan yang lebih terang. Menyalakan pemanas kamarku ketika mereka masuk dan menggigil secara mendadak. Dari tempat tidur, aku hanya menatap mereka dari sudut mataku yang tajam. Mereka pergi, ketika aku tidak berbicara sama sekali. Pintu ditutup oleh mereka dan aku mulai berusaha bangun dari tempat tidur, berjalan tertatih-tatih, mengganti semua lampu seperti sedia kala dengan tongkat panjang khusus untuk mengganti bohlam lampu dan pemanas kembali aku matikan. 

Akhirnya, semua sepupuku menyerah. Membiarkan aku sendiri dan hanya sesekali datang membawa secangkir air jahe hangat dan beberapa potong kue. Kedua orang tuaku datang untuk membawakan makanan utama, mengecek kondisiku dan memastikan bahwa obat-obatan yang ada sudah berhasil masuk ke dalam perutku.

Aku di tengah Musim Dingin waktu itu, menghabiskan sebagian besar waktuku duduk dan mulai menulis sederetan daftar di buku catatanku yang sudah agak tua. Berusaha menulis segala hal yang sekiranya adalah hikmah dibalik kejadian yang terjadi menimpaku. 

Masih di tempat duduk yang sama, di atas meja kerjaku—jika kepalaku mulai terasa berat dan dada ini nyeri kembali, aku membuka Al-Qur’an dan membacanya tanpa henti sebagai pengobat luka, mengulang-ulang hafalan dengan air mata yang masih tetap turun. Berdoa setiap hari, karena rasa bersalah masih terus menghantui.

Bukan. Bukan tentang gagalnya aku menikah. Tentang bagaimana aku atau bahkan keluarga kami, dapat dipertemukan dengan wanita segila, semaniak dan sejahat itu. Pengakuannya waktu itu, barulah permulaan. Dan bukan. Bukan hanya aku korbannya. Aku memang sempat sekarat karena penyakit kambuhanku kumat di saat yang tidak tepat. Tetapi banyak orang lain menjadi korban karena kegilaannya selanjutnya. Dan rasa bersalahku sangat besar di titik itu.

Pelajaran bagi kami, bahwa untuk mencari calon pendamping hidup—masa kecil sang calonpun harus dipelajari. Karena bermula dari pola asuh ketika kecil, sangat mempengaruhi karakternya di masa depan. Dan aku, juga keluargaku tidak terlalu dalam mempelajari kondisi masa kecilnya. Hingga terjadilah kesalahan fatal. Kesalahan yang sungguh fatal.

Aku menggeleng. Berusaha menghilangkan kejadian gila yang masih menghantuiku dalam setiap langkahku. Kedua kaki ini terus berjalan menyelusuri bangunan-bangunan di tengah kota.

Aku menengadahkan kepalaku ke atas langit. Salju mulai mencair, Sang Mentari mulai berani menampakkan kekuatannya. Awan hitam tak kuasa menahan pancaran sinarnya, mereka yang selama ini menghalangi mentari untuk bersinar —mundur perlahan.

Hangat menyelubungi kota ini. Sebagian salju semakin menghilang. Meresap masuk melalui lubang-lubang kecil dalam tanah. Sebagian lagi, ikut terbang bersama angin dingin yang bergerak menuju utara. Burung-burung kecil memulai berlatih memadukan suara mereka — berkicau riang di pagi yang mulai menghangat.

Pagi ini cerah, setelah tiga bulan dingin dan kelamnya langit menghiasi hari. Pagi ini cerah, setelah selama tiga bulan aku menyempatkan waktu berdiri di depan jendela dan merasakan kelamnya dunia, kelamnya hati yang terluka.

Pagi ini cerah, setelah selama berbulan-bulan berjuang melewati ganasnya Musim Dingin yang sangat tidak membantu untuk mencerahkan suasana hati. Melewati kelamnya musim untuk dapat berdiri tegak, bangun dari atas tempat tidur tanpa bantuan siapapun. Penyakit ini menyiksa, fisik ini tersiksa dan ada hati yang terluka menuntut untuk segera disembuhkan. 

Pagi ini cerah dan untuk pertama kalinya dalam hidup aku menyadari bahwa ternyata cuaca itu sangat mempengaruhi suasana hati. Untuk pertama kalinya aku menyadari keindahan sebuah musim bernama Musim Semi. 

Aku berjalan menyusuri danau yang terletak di belakang bangunan berbentuk kastil yang biasa dikenal dengan Neues Rathaus Hannover. Kemudian berhenti, mencari bayangan wajahku yang sangat tirus terpantul di sana. Permasalahan ini membabat habis berat badanku. Hilang sudah, tubuh atletis yang selama ini aku pertahankan. Kupejamkan kedua mataku dan hati ini mulai berucap lemah, “Ya Allah, seandainya aku boleh meminta, seandainya aku boleh berharap. Berikanlah aku pendamping hidup yang karakternya seperti Musim Semi saat ini. Wajahnya bersinar teduh seperti mentari yang datang di hari ini. Kata-katanya mengalun lembut, seperti burung-burung yang berkicau saat ini. Keceriaannya menular seperti angin yang menggoyangkan bunga-bunga yang mulai tumbuh ini. Senyumannya menyenangkan sehingga mampu melelehkan tumpukan salju di hatiku ini. Because she is made of Sunshine and full of Spring. And I am made of Thunder Snow and full of Winter. Semoga wanita seperti itu ada. Seorang wanita yang berhasil melelehkan rasa beku di hatiku dan menggantinya dengan keceriaan Musim Semi seperti ini.”  

Dari lubuk hati paling dalam aku tahu—dengan segala kejadian yang terjadi, Allah ingin memberitahuku dengan cara-Nya. Jika aku memahami bahwa mungkin ini adalah pencucian dosa yang tidak sengaja aku lakukan di masa lalu atau ini ujian yang diberikan Allah untuk menaikkan derajatku. Maka jika aku bersabar, aku percaya—‘I deserve someone better.’
---------------------------------
Volkert Family 1, Chat Room Keluarga Masa Kini 1 : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/chat-room-keluarga-masa-kini-1.html
Volkert Family 2, Ketika Cinta Begitu Berat : http://www.nadhiraarini.com/2015/09/ketika-cinta-begitu-berat.html
Volkert Family 3, Ketika Aku Merindukannya : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/ketika-aku-merindukannya.html
Volkert Family 4, Chat Room; Keluarga Masa Kini 2 - Salah Jalan : http://www.nadhiraarini.com/2015/12/chat-room-keluarga-masa-kini-2-salah.html
Volkert Family 5, Ketika Kenyataan Itu Memilukan : http://www.nadhiraarini.com/2016/01/ketika-kenyataan-itu-memilukan.html
Volkert Family 6, Buku Catatan Terkutuk : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/buku-catatan-terkutuk.html
Volkert Family 7 : Namamu Siapa? : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/namamu-siapa.html
Volkert Family 8 : Hati yang Tertusuk Puluhan Anak Panah http://www.nadhiraarini.com/2016/02/hati-yang-tertusuk-puluhan-anak-panah.html
Volkert Family 9 : Permohonan Terakhir Sepasang Cincin : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/permohonan-terakhir-sepasang-cincin.html
Volkert Family 10 : Surat Kaleng : http://www.nadhiraarini.com/2016/02/surat-kaleng.html
Volkert Family 11 : Cinta yang Membutakan : http://www.nadhiraarini.com/2016/03/cinta-yang-membutakan.html

Volkert Family 12 : Selalu Salah Jalan : http://www.nadhiraarini.com/2016/03/selalu-salah-jalan.html

Volkert Family 13 : Saat Empat Malaikat Turun Ke Bumi : http://www.nadhiraarini.com/2016/03/saat-empat-malaikat-turun-ke-bumi.html
Volkert Family 14 : Kegaduhan Di Dalam U-Bahn : http://www.nadhiraarini.com/2016/03/kegaduhan-di-dalam-u-bahn.html

Volkert Family 15 : Saatnya Mencoba Memantaskan Diri : http://www.nadhiraarini.com/2016/04/saat-mencoba-memantaskan-diri.html

Volkert Family 16 : Akhirnya, Aku Menemukanmu : http://www.nadhiraarini.com/2017/02/akhirnya-aku-menemukanmu.html

6 comments:

  1. Ahhhh Dhira..dirimu mematahkan hatiku...penuh misteri, pengen baca yang lebih panjang euuyyy ��������
    selalu di nanti-nanti eh ketika muncul cuma sekilas....
    moga selalu sehat ya Dhir..dan bisa trs ngepost kelanjutan ceritanya..

    ReplyDelete
  2. Ka nadhiraaa aku selalu suka sama tulisannya ��....aku sampe scroll ke blog2 sebelumnya...aku secret admirernya ka nadhira lah :D
    Eeh tp ngga secret deng...

    ReplyDelete
  3. Kelanjutannya jgn lama2 dong πŸ˜…

    ReplyDelete
  4. I deserve someone better.. πŸ˜†
    Tulisan ny bagus, sampe dibaca berulang2 setiap cerita, ya kan mau ngeruk hikmah ny, bikin strong dah kalo baca lagi galau hihihi

    ReplyDelete
  5. I deserve someone better 😊

    ReplyDelete